Banyuwangi (beritajatim.com) – Sejarah selalu memberi warna di sebuah daerah. Seperti di Banyuwangi. Sudah ratusan tahun usia kabupaten ini terbentuk, namun warna khas tetap melekat.
Kondisi itu yang terekam dalam sebuah acara yang digelar akhir pekan lalu. Ya, kegiatan itu menghadirkan konsep pagelaran bertajuk Banyuwangi Kolo Semono.
Secara harfiah “Banyuwangi Kolo Semono” berarti Banyuwangi pada saat itu. Ajang ini mengajak para pengunjung untuk kembali ke masa lampau.
Kegiatan itu menyuguhkan pameran sejarah, serta budaya dan tradisi masa lampau Banyuwangi. Lokasinya, berada di halaman museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Ragam benda-benda bersejarah, kerajinan klasik, kuliner tradisional, serta tradisi masyarakat tempo dulu itu menjadi jujugan warga untuk melihat. Tak ayal, lebih dari ratusan pengunjung lintas usia selalu memadati acara datang setiap hari.
Tak hanya kalangan orang tua, tapi anak-anak, pelajar dan sejumlah turis juga turut hadir.
“Ajang ini merupakan bagian dari upaya untuk menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan berkumpulnya semua kalangan usia di tempat ini, semoga bisa menguatkan kolaborasi untuk membangun Banyuwangi,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Tak hanya tersedia pameran, tapi pengunjung dapat menikmati ragam kuliner tradisional khas Bumi Blambangan. Di antaranya rujak soto, kue cucur, bagiak, dan kuliner tradisional lainnya yang lestari hingga saat ini.
Pengunjung juga bisa menyaksikan pameran hasil kerajinan klasik berbahan kayu dan bambu, barang-barang antik, hingga menjajal pijat tradisional.
Begitu juga atraksi seni budaya, seperti tari jaranan, pertunjukan musik tradisi dan sinden, teater, serta berbagai lomba permainan tradisional. Semua tersaji untuk menghibur masyarakat yang datang.
Tak hanya itu, ajang ini juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk napak tilas sejarah Banyuwangi dengan berkunjung di Museum Blambangan yang ada di sekitar lokasi.
“Dengan mengenal sejarah, kami berharap masyarakat Banyuwangi semakin mencintai daerahnya,” ujar Ipuk.
Ipuk juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat dan melestarikan kearifan lokal. Bagi dia, budaya, tradisi, dan sejarah adalah identitas daerah merupakan kekayaan Banyuwangi yang harus terus lestari.
“Jangan sampai anak-cucu kita justru lebih mengenal budaya bangsa lain. Jangan sampai mereka lebih mengenal K-Pop ketimbang lagu daerahnya. Maka kegiatan nguri-uri budaya semacam ini sangat penting. Ini akan terus kita gelar setiap tahunnya,” tegas Ipuk.
Sementara itu, Plt. Kepala Disbudpar Banyuwangi Taufik Rohman menambahkan, event Banyuwangi Kolo Semono, melibatkan 16 pelaku UMKM kuliner, batik, kerajinan, jamu tradisional, pakaian jadi, hingga asesoris dengan transaksi ekonomi mencapai puluhan juta setiap harinya.
“Jadi ini bukan sekadar ajang pelestarian budaya, namun juga upaya menggerakkan perekonomian warga,” ucap Taufik.
Dia mengatakan, event ini mampu mendongkrak kunjungan di Museum Blambangan yang ada di areal Kantor Disbudpar. Diketahui, museum ini memiliki koleksi sekitar 4.300 benda bersejarah yang terbagi dalam 4 periode. Mulai era Prasejarah, Hindu-Budha, Islam dan Kolonial.
Ajang ini disambut antusias warga. Salah satunya Olivia (22) yang mengaku sangat terkesan dengan kegiatan ini.
“Di Museum Blambangan ternyata koleksinya lengkap. Kita jadi tahu sejarah Banyuwangi karena juga mendapat penjelasan,” kata dia. (rin/ian)






