Jember (beritajatim.com) – Kenaikan nominal uang kuliah tunggal (UKT) di Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tak bisa terhindarkan menyusul tuntutan terhadap perguruan tinggi untuk mandiri dan berkurangnya subsidi dari negara. Namun tidak semua perguruan tinggi memiliki sumber daya yang memadai untuk mandiri.
Ada sejumlah pertimbangan yang membuat nominal UKT dinaikkan. “Kebutuhan pengembangan pembangunan tidak mungkin stuck dengan dana yang tetap sama. Kita tahu kebutuhan bahan-bahan belanja seperti lab semua naik,” kata Rektor Unej Iwan Taruna, ditulis Selasa (4/6/2024).
Beban operasional Unej juga bertambah. “UKT sudah lama tidak disesuaikan, sejak 2016. Baru 2024 ini baru akan disesuaikan. Ini bukan Unej saja, kelihatannya semua (perguruan tinggi),” kata Iwan.
Begitu berstatus badan layanan umum (BLU) dan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), menurut Iwan, alokasi dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk sebuah perguruan tinggi negeri diturunkan. Unej saat ini berstatus BLU dan ditargetkan berubah status menjadi PTNBH pada 2024-2205.
“Sebetulnya menaikkan UKT tidak ada masalah selama betul-betul diperhitungkan dengan kebutuhan. Yang heboh kemarin kan naik lima kali, enam kali, itu dihitung tenan opo gak. Kenaikan itu keniscayaan, tapi harus dihitung kebutuhannya berapa,” kata Iwan.
Iwan mengatakan, kenaikan 20-25 persen masih masuk akal. “Toh inflasi harus kita perhitungkan. Setiap tahun bertambah. Jadi itu pertimbangannya. Alokasi APBN memang akan terus dikurangi. Jadi kami tidak diminta mendapatkan untung, tapi diminta untuk mandiri. Podo wae to,” jelasnya.
“Dan mohon maaf, selalu dibilang bahwa universitas harus kreatif dan sebagainya. Loh rektor-rektor itu tidak semuanya pengusaha, punya jiwa pengusaha, CEO. Kreativitas kan juga harus tetap ada (dasarnya), situasinya bisa berkembang atau tidak,” kata Iwan.
Iwan membandingkan peluang usaha di Jember dengan Malang. “Malang kota wisata, Solo kota wisata. Punya hotel laku. Kalau di Jember? Wisuda tok. Podo wae to. Karena apa? Jember konektivitasnya kurang baik, wisatanya kurang berkembang, sehingga kalau punya seperti itu (hotel), paling hidupnya dari itu (tamu saat wisuda, red),” katanya.
Iwan yakin Unej bisa bertahan kalau punya badan usaha sendiri. “Belanja kami cukup besar. Kita bisa mandiri kalau penghasilan usaha kita keep. Spending kita tidak dikeluarkan. Kita bisa lakukan, kebutuhan kita banyak,” katanya.
Unej bisa saja berhemat dengan membangun bisnis hotel, sehingga semua acara internal digelar di hotel tersebut. “Akhirnya tidak menghidupi ekonomi di sekitar,” kata Iwan.
“Bayangkan kalau Unej punya mart. Kita punya usaha mart, belanja di mart sendiri. Akhirnya tidak kena di toko-toko sekitar. Kita gak masalah, uang kita berputar di situ saja. Tapi apakah itu mengembangkan ekonomi di sekitar? Itu yang gak kepikir,” kata Iwan.
Saat ini tidak semua nominal UKT di Unej naik. “Bahkan ada yang turun. UKT Prodi (Program Studi) Pertanian ada yang turun 20 persen. Ada yang naik. Tapi kenaikan UKT kita tidak bombastislah, tetap sesuai aturan yang berlaku,” kata Iwan.
“Kita percaya masih paling murah di antara yang gede-gede di Jawa Timur. Sekarang dengan UKT segitu, mana ruang kuliah Unej yang tidak ber-AC?” kata Iwan. [wir]






