Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember memiliki jumlah pemilih pemula terbanyak kedua yang telah melakukan perekaman DP4 (Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan) di Jawa Timur, yakni 55.095 orang. Jumlah ini di bawah Kota Surabaya yang mencatatkan 88.391 orang pemilih pemula.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Jember Isnaini Dwi Susanti memang memprioritaskan perekaman pemilih pemula. “Apabila anak-anak kita ini sudah berusia 17 tahun belum mempunyai KTP elektronik, mereka tidak bisa punya SIM dan tidak bisa ikut serta dalam pesta demokrasi,” katanya, Selasa (21/5/2024).
Dispendukcapil berkolaborasi dengan sekolah melakukan perekaman serta bekerja sama dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk merekam data penduduk di tempat-tempat umum. “Alhamdulillah, kami terbanyak kedua. Tapi kami tidak mengejar apapun dalam bekerja. Yang pasti kami harus memberikan pelayanan optimal, kami bisa menyukseskan program-program di negeri ini dan Kabupaten Jember,” kata Susanti.
Dispendukcapil Jember sudah memiliki nama dan alamat warga yang perlu direkam. “Ada tujuh ribu orang sekian di data DP4. Ini sudah kami surati sekolah-sekolah, dan kami jadwalkan segera untuk perekaman sisa yang belum terekam,” kata Susanti.
Susanti yakin perekaman kurang lebih tujuh ribu orang warga itu akan selesai. “Kami percepat. Teman-teman satu minggu tiga kali go to school, dan di sela-sela itu kami melakukan perekaman di kecamatan. Saya minta tolong Pak Camat agar menggiatkan lagi perekaman-perekaman itu biar semuanya clear,” katanya.
Namun beberapa kali petugas Dispendukcapil menemukan fakta warga yang terdata dalam DP4 ternyata sudah tidak berdomisili di Jember. “Itu yang harus kami pantau. Dia tidak di sini, tapi tidak cabut berkas. Itu yang menjadikan data dia masih di Jember,” kata Susanti.
“Ini harus dicarikan solusi. Ke depan kami akan membuat kebijakan kepada warga pemula yang sudah kami undang lewat pak camat, ke desa, dan lewat sekolah, kalau nama itu tidak ada waktu kami datang, ya kami nonaktifkan sementara. Nanti kalau mereka datang ya kami aktifkan lagi. Tujuannya supaya data itu clear. Biar jelas data itu valid,” kata Susanti.
Susanti juga meminta kepada warga senior atau berusia tua untuk juga melakukan perekaman. “Biasanya ketemunya pada saat para lansia sakit dan masuk rumah sakit. Setelah dicek mereka tidak punya KTP dan bahkan ada yang belum masuk dalam kartu keluarga (KK),” katanya.
Merespons kondisi ini, petugas Dispendukcapil menemui yang bersangkutan untuk merekam sidik jari. “Kalau sudah clear dia orang Jember atau tidak terdata di mana pun, kami buatkan NIK (Nomor Induk Kependudukan), kami masukkan KK, dan kemudian kami rekam,” kata Susanti.
Dispendukcapil Jember juga memiliki program pembuatan administrasi kependudukan keliling, yakni J-Monalisa (Jember Mobil Keliling Sadar Pelayanan Adminduk). “Kalau perekaman kami membawa alat dan datang ke sekolah-sekolah atau desa-desa yang tinggi (angka warga yang belum perekaman, red),” kata Susanti.
Kerja keras Dispendukcapil terbayar tuntas. Kini dari semula 150 ribu orang warga yang belum merekam data, tersisa 25 ribu orang. “Kami akan terus kejar tugas-tugas kami,” kata Susanti. [wir]






