Bojonegoro (beritajatim.com) – Memiliki makam berada satu kompleks dengan Mbah Andongsari di pemakaman Islam Kelurahan Ledok Kulon Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro. Namun, tidak banyak yang tahu siapa sosok yang baru nisannya bertuliskan Nyai Ireng tersebut.
Penelusuran jurnalis beritajatim.com, Nyai Ireng merupakan sosok ulama perempuan yang menyebarkan agama Islam di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo. Ia berdakwah dengan cara pendekatan melalui seni. Seperti Kentrung dan Sandur. Masa hidupnya diperkirakan sekitar periode tahun 1700 M.
Salah seorang pemerhati sejarah Kasepuhan Padangan Kabupaten Bojonegoro W Rizkiawan mengatakan, Nyai Ireng merupakan bagian dari ulama yang berdakwah di jalur Sungai Bengawan Solo bersama Kiai Sadipo Sranak (Desa Sranak Kecamatan Trucuk), Kiai Singoleksono Pengkol, dan Nyai Nadipah Tulung (Desa Tulung Kecamatan Trucuk).
“Nyai Ireng adalah rombongan Kiai Januddin Guyangan yang melakukan ekspansi dakwah ke Rajekwesi,” ujarnya, Minggu (18/5/2024).
Dalam Manuskrip Padangan yang ditulis oleh Syekh Abdurrohman Klotok disebutkan, Nyai Ireng binti Januddin Guyangan bin Kiai Kedong bin Kiai Saban bin Syekh Menak Anggrung Padangan. Dalam manuskrip tersebut, Nyai Ireng merupakan anak terakhir dari Kiai Januddin Guyangan.
Kiai Januddin Guyangan Merupakan ulama besar dari Kasepuhan Padangan yang melakukan misi dakwah jalur Bengawan Solo. Kiai Januddin melakukan ekspansi ke wilayah Paguyangan Rajekwesi (Guyangan Kecamatan Trucuk) pada periode 1700 M.
Sedangkan, Nyai Ireng menetap di Pengkol (sekarang disebut Tambangan Pengkol Sungai Bengawan Solo) di Kelurahan Ledok Kulon Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro. Misi dakwah melalui medium seni yang dilakukan pelintas sungai terpanjang di Pulau Jawa itu kini masih lestari.
Kentrung Pengkol menjadi cikal bakal Kentrung Bate. Dalam pementasannya, seni Kentrung ini harus seorang perempuan sebagai dalang atau yang memimpin pertunjukan. Alat tabuh Kentrung kini masih tersimpan di komplek makam sebagai salah satu pusaka peninggalan Mbah Andongsari.
“Tokoh Nyai Ireng ini tersirat sebagai gambaran cerita seorang gadis yang sedang mempelajari ilmu agama dalam pertunjukkan Kentrung sebagai Prawan Shunti,” ujar pelaku seni di Bojonegoro, Oky Dwicahyo. [lus/aje]







