Malang (beritajatim.com) – Guru Besar Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (FEB UM), Prof. Dr Imam Mukhlis, S.E., M.Si., menilai perayaan Idulfitri 2024 dapat menjadi momentum akselerasi capaian visi pembangunan Kota Malang, yakni ‘Kota Malang Bermartabat’.
Kota Malang bermartabat tidak hanya diukur dari capaian fisik dan kuantitatif, tetapi juga mampu berkontribusi dalam mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang berjiwa gotong royong, kekeluargaan dan persaudaraan.
Implikasinya adalah pembangunan ekonomi yang bermuara pada capaian kesejahteraan hidup masyarakat daerah. Hal itu dibarengi dengan inklusivitas masyarakat dalam merasakan kemajuan ekonomi atau ekonomi bermaslahah.
“Dinamika kegiatan ekonomi masyarakat menjelang Idulfitri menunjukkan kekhasan atas aktualisasi, respon, dan partisipasi masyarakat dalam menyemarakkan hajatan spiritual yang berlangsung setiap tahun. Bagi warga muslim, momen ini merepresentasikan kebahagian dan kepuasan lahiriah dan batiniah atas capaian ibadah selama Bulan Ramadhan,” ungkapnya melalui keterangan tertulis, Selasa (9/4/2024).
Aktivitas masyarakat melalui ajang silaturahmi pada saat Idulfitri berimplikasi pada penyiapan materi yang diperlukan untuk pemenuhan berbagai kebutuhan yang ada. Menurut Prof Imam Mukhlis, kegiatan ini berdampak pada ramainya aktivitas ekonomi di berbagai daerah dalam berbagai bentuknya.
“Contohnya seperti penyiapan kebutuhan tekstil, makanan dan minuman, hiburan, transportasi dan keuangan. Interaksi dan transaksi ekonomi yang terjadi di pasar (tradisional dan modern) mengalami kenaikan volume dan perputaran uang yang terjadi,” kata Wakil Dekan III FEB ini.
Kondisi tersebut juga terjadi di Kota Malang sebagai salah satu ikon kemajuan ekonomi di Provinsi Jawa Timur. Keberadaan Kota Malang dengan segenap entitasnya telah menarik mobilitas masyarakat untuk berkunjung ke Kota Malang dengan berbagai tujuan.
Ada yang bertujuan mengenyam pendidikan, berwisata, dan berbelanja. Mobilitas warga baik secara intra daerah (dalam Kota Malang) dan antar daerah (dari luar Kota Malang) telah mendorong berbagai kegiatan ekonomi tumbuh secara signifikan di Kota Malang.
“Lokasi favorit yang menandai geliat ekonomi masyarakat seperti pasar, terminal, perbankan, pertokoan, dan pusat perbelanjaan ramai akan kunjungan Masyarakat. Kegiatan ekonomi yang terjadi berpotensi mendorong Kota Malang menjadi kota produktif dan berdaya saing berbasis ekonomi kreatif, keberlanjutan dan keterpaduan,” ungkap Prof Imam.
Kegiatan tersebut, kata guru besar FEB UB ini, dapat menimbulkan multiplier effect yang menghasilkan nilai ekonomi (economic value). Nilai ini dirasakan oleh Masyarakat dalam kegiatan ekonominya di Kota Malang.
Dia juga memaparkan data dari Badan Pusat Statistik, capaian pembangunan di Kota memberikan gambaran optimisme dalam capaian kesejahteraan masyarakat, tercermin dalam indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) akhir tahun 2023 sebesar 84 (lebih tinggi dari capaian IPM Provinsi Jawa Timur sebesar 74,65). Namun juga perlu diperhatikan, masih adanya ketimpangan pendapatan.
“Ketimpangan ditunjukkan angka Gini ratio sebesar 0,43 (lebih tinggi dari Gini Ratio Jawa Timur sebesar 0,387). Sedangkan inflasi di Kota Malang pada periode Maret 2024 sebesar 0,66 (lebih tinggi dari inflasi Jawa Timur sebesar 0,64). Jenis pengeluaran untuk komoditi makanan, minuman, dan tembakau memiliki Tingkat inflasi terbesar yakni sebesar 1,67 persen di Bulan Maret 2024 di Kota Malang,”
Perayaan 110 tahun Kota Malang merupakan fase kemajuan ekonomi daerah dalam mencapai tujuan Pembangunan daerah. Fase ini akan terus mengalami dinamika seiring dengan ketersediaan sumber daya, kemajuan teknologi, dukungan stakeholders, dan kondisi lingkungan yang berkembang.
“Dengan segenap modalitas yang dimiliki Kota Malang, kemajuan ekonomi yang dicapai dapat dijaga keberlanjutannya (sustainable) untuk kesejahteraan dari generasi ke generasi,” ungkapnya mengakhiri. [dan/beq]






