Dengan penguasaan 25 persen permainan, Persebaya mengalahkan PSS Sleman 2-1 pada pekan ke-27 kompetisi sepak bola Liga 1 musim 2023-24, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (3/3/2024). Persebaya membuat 15.027 orang penonton di GBT tercengang dengan gol jarak jauh yang dicetak Muhammad Iqbal pada detik ke-13, setelah berhasil memanfaatkan sapuan bola tanggung dari bek Ibrahim Sanjaya.
Iqbal adalah figur kunci kemenangan Persebaya sore itu. Tak hanya mencetak gol, anak muda asal Sumatera Barat ini yang memicu gol kedua, dengan mengirimkan umpan panjang ke depan untuk Paul Henrique pada menit 28, sehingga memunculkan kemelut di kotak penalti Sleman. Lolos dari kawalan Nurdiansyah, Henrique menghadirkan situasi satu lawan satu yang memaksa kiper Anthony Pinthus melanggarnya.
Bruno Moreira, pemain kesayangan Bonek, berhasil mencetak gol pada menit 30 dengan tendangan ala Panenka. Pinthus bergerak ke kiri, sementara bola melayang pelan ke arah tengah. Tak banyak pemain di Liga Indonesia yang cukup punya nyali untuk melakukan teknik yang diperkenalkan pertama kali oleh pemain Cekoslowakia, Antonin Panenka, dalam final Piala Eropa 1976 ini.
Setelah digempur habis oleh PSS Sleman, gawang Andika Ramadhani justru dijebol Esteban Vizcarra pada menit 47, karena kecerobohan Yan Victor dalam membuang bola di dalam kotak penalti Persebaya. Bukannya membuang jauh-jauh, bola mendatar sapuannya justru jatuh di kaki Vizcarra.
Namun kebintangan Iqbal dan keindahan Panenka Moreira hilang tertelan aksi Wahyudi Hamisi, gelandang bertahan PSS, pada menit 16. Upayanya menendang bola dekat kepala Bruno Moreira memunculkan protes di dalam lapangan dan kontroversi di luar lapangan. Tindakan berbahaya itu hanya diganjar kartu kuning oleh wasit Ginanjar Rahman Latief.
Manajemen Persebaya dalam Instagram resminya mengingatkan risiko perbuatan Hamisi. “Sepak bola olahraga keras, tanpa pemain barbar pun, risiko terburuk yaitu kematian selalu mengintai. Risiko itu akan berlipat ketika ada pemain seperti Hamisi.”
Persebaya melayangkan surat protes kepada PSSI dan meminta ada hukuman tegas terhadap Wahyudi Hamisi dan Ginanjar. “Wasit memiliki kewenangan untuk membuat pertandingan berjalan fair. Dia punya kartu, dia punya peluit untuk membuat pertandingan lebih jernih. Tapi dia tidak melakukan itu. Terbukti dia hanya memberikan peringatan berupa kartu kuning,” kata Manajer Persebaya Candra Wahyudi.
Kanal Youtube resmi Persebaya mencatat ada tiga tindakan ngawur Hamisi. Selain tendangan ke arah kepala Moreira, dia juga sempat mengacungkan jari tengah ke arah Robson Duarte, dan mengganjal keras Toni Firmansyah dari belakang.
Wahyudi ingin pemain dilindungi. Apalagi bukan sekali ini saja Hamisi membahayakan teman satu profesi. Kaki Roberto Pugliara, pemain Persebaya asal Argentina, pernah patah saat ditekel dengan dua kaki dari belakang oleh Hamisi, 13 Oktober 2018. Saat itu Hamisi memperkuat Pusamania Borneo FC dan Pugliara pun mengakhiri karier lebih cepat gara-gara cedera berkepanjangan.
Namun rupanya Presiden Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), Gusti Randa, tak setuju dengan Persebaya. “Tendangan Hamisi ternyata menyentuh kepala Bruno. Saat itu, Bruno langsung bangkit dan malah ingin memukul Hamisi. Menurut saya, apa yang dibuat oleh Persebaya terlalu berlebihan karena buktinya Bruno bisa langsung bangkit dan bermain hingga menit akhir,” katanya, sebagaimana dilansir Jawapos.com, Selasa (5/3/2024).
Bantahan Randa ini membuat suasana semakin panas, termasuk di kalangan suporter dua tim. Saling sindir dan ejek terjadi di media sosial. Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya, mengingat Bonek dan suporter Sleman memiliki relasi baik selama ini.
Setelah beberapa hari suasana memanas, Wahyudi Hamisi merilis video berisi permintaan maaf di akun Instagram PSS Sleman. “Saya ingin meminta maaf kepada Bruno. Saya tidak ada niat sama sekali. Apapun yang saya lakukan, saya akui saya salah,” katanya.
Dalam dunia sepak bola, main keras sering dianggap biasa, dan pada akhirnya perbedaan antara kasar dan keras sejauh mata wasit memandang. Pemain bertemperamen dan bergaya main keras cenderung kasar disebut ‘Hard Men’ dan mayoritas beroperasi di wilayah pertahanan, terutama bek tengah.
Leo Moynihan dalam buku Thou Shall Not Pass: The Anatomy of Football’s Centre-Half menggambarkan mereka sebagai sosok yang: Big, brutish and stubborn, those purists trying too hard to push football as the beautiful game might see our protagonists as the unsightly zit on its nose.
Moynihan menyebut sepak bola Inggris era 1960 hingga 1980-an didominasi kosakata yang sangat berbau militeristik: battles (pertempuran), being in the trenches (berada di parit), the scars of war (bekas luka perang).
Segala cara dilakukan untuk mengamankan gawang. Bola boleh lewat, orang jangan sampai. Begitu kira-kira semboyan para pemain bertahan. Menendang kaki lawan dari belakang, Meludah. Mengancam. Memukul diam-diam. Semua menjadi semacam ilmu hitam atau dark art para pemain bertahan Inggris.
Bek Manchester United era 1980-an, Gordon McQueen, pernah menyikut pemain Leicester Peter Eastoe dan menghancurkan tulang rahangnya. “Peter terpaksa menggunakan sedotan selama sepuluh minggu setelah itu,” kenang Alan Smith, mantan pemain Arsenal dan Leicester.
Adu hajar kaki paling legendaris terjadi antara pemain Manchester United Roy Keane dan pemain asal Norwegia Alf-Inge Haaland. Inge lebih dulu melukai ligamen lutut Keane dalam pertandingan Manchester United melawan Leeds United pada 27 September 1997. Dendam tersulut, karena Haaland menuduh Keane berpura-pura kesakitan.
Empat tahun kemudian, 21 April 2001. kedua pemain itu kembali bertemu. Kali ini Haaland memperkuat Manchester City, dan giliran Keane mengirimkan pemain tersebut ke ruang perawatan. Wasit mengganjar Keane dengan kartu merah dan FA melarangnya bermain selama tiga pertandingan plus membayar denda lima ribu Euro. Setelah menjalani serangkaian operasi, Haaland tak pernah benar-benar pulih dan memutuskan pensiun pada Juli 2003.
Diberlakukannya sistem panoptikon ala filsuf Michel Foucault dengan menempatkan kamera sebanyak mungkin di lapangan sepak bola, membuat permainan brutal semakin berkurang. Ketatnya peraturan juga membuat pemain mudah bersimulasi dan menciptakan kamuflase untuk memperoleh keuntungan dari pelanggaran yang dilakukan pemain bertahan.
Joe Worrall, pemain bek tengah Nottingham Forestm menyadari bahwa semakin ketatnya aturan bertujuan untuk melindungi pemain sendiri. Apalagi, bendera kuning bertuliskan Fair Play selalu dikibarkan sebelum peluit sepak mula berbunyi. Namun dia melihat permainan sepak bola pada era lampau terlihat menyenangkan dan seru dengan adegan-adegan keras di dalamnya.
Hari ini, Worrall menilai, permainan sepak bola modern kurang menarik. Hanya adu taktik dengan kontak fisik yang minim. “I’m not somebody who goes onto a pitch with a mindset to hurt someone. I never have, I do like the physical battle but you can’t get away with things like you used to. Football today is in HD!” katanya.
Semakin berkurangnya intensitas permainan keras di dunia sepak bola modern juga tak lepas dari perubahan taktik yang digunakan para pelatih. Sepak bola harus diorkestrasi sebagai sebuah permainan tim. Bola dialirkan dengan cepat dari kaki ke kaki, sehingga tak ada kesempatan bagi seorang pemain untuk berlama-lama menguasai bola dan menjadi korban pelanggaran keras. Kemenangan bergantung pada kinerja tim, bukan kehebatan individu.
Pemain bertahan pun kini juga diwajibkan untuk bisa membantu serangan. “A centre-half with his broken nose and scarred brow has today become almost unwanted; like Frankenstein’s monster, desperate to be loved but instead reviled, given up as cumbersome and slowwitted,” tulis Moynihan.
Dan pada Minggu sore itu, Hamisi mengembalikan kembali kenangan sosok seorang pemain bertahan sebagai monster Frankenstein yang menyeramkan dan putus asa ingin dicintai sekaligus ditakuti. [wir]






