Surabaya (beritajatim.com) – Komisariat Besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Raden Wijaya, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, menggelar Deklarasi Kebangsaan dan Aksi Tabur 100 Bunga di replika Candi Penataran, Selasa (6/2/2024).
Aksi ini merupakan respon atas keprihatinan mereka terhadap kondisi demokrasi di Indonesia yang kian memprihatinkan.
Ketua Komisariat Besar GMNI Raden Wijaya, Alfito Rafif Amanda mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan shock terapi bagi pemerintah.
“Kami melihat presiden dan para pembantunya tidak netral dalam pemilihan presiden,” ungkap Alfito.
Deklarasi Kebangsaan ini berisi beberapa tuntutan kepada Presiden Jokowi, di antaranya:
1. Kembali kepada hakikat-hakikat etika demokrasi bangsa,
2. Hindari langkah-langkah yang dapat memundurkan demokrasi,
3. Tegakkan netralitas dalam pemilihan presiden.
Alfito menegaskan bahwa GMNI Raden Wijaya akan terus mengawal demokrasi di Indonesia.
“Mari kawal demokrasi untuk keberlangsungan negara yang lebih baik dan berorientasi pada kepentingan rakyat!,” serunya.
Aksi tabur bunga dilakukan sebagai simbol keprihatinan terhadap kondisi demokrasi di Indonesia. Bunga-bunga ditaburkan di depan replika candi penataran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
“Aksi ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi pemerintah untuk selalu menjunjung tinggi etika demokrasi dalam menjalankan pemerintahan,” pungkas dia. [asg/ian]






