Sumenep (beritajatim.com) – Perssu Madura City kembali menelan kekalahan di babak 8 besar grup MM Liga 3 Jawa Timur. Dalam laga kedua di Stadion Letjen Soedirman, Bojonegoro, Selasa (30/01/2024), Laskar Kuda Terbang ini kalah 1-2 atas Persedikab Kediri.
Pelatih Kepala Perssu Madura City, Budiardjo Thalib terlihat gusar menanggapi kekalahan anak asuhnya. Ia menilai, kepemimpinan wasit Asenda Widha Adhyatama banyak merugikan Perssu. “Ada gol kami yang dianulir. Ada yang tidak offside tapi dinyatakan offside. Pemain tidak melakukan kesalahan, dikasih kartu kuning. Bahkan kartu merah. Ini jelas merugikan Perssu,” ujarnya dengan nada tinggi.
Dalam pertandingan tersebut, Perssu kebobolan lebih awal. Di menit ke-39, pemain Persedikab Kediri, Hasbiyanto berhasil menyarangkan bola ke gawang Perssu. Skor 1-0 untuk Persedikab Kediri bertahan hingga babak pertama berakhir.
Di babak kedua, pemain Perssu mencetak 1 gol, menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Namun sayang, gol tersebut dianulir wasit, karena dianggap offside. Kemudian Pada menit ke-70, salah satu pemain Perssu, Emerson dinilai melakukan pelanggaran sehingga diganjar kartu merah (akumulasi kartu kuning) oleh wasit.
Bermain dengan 10 orang tak menyurutkan semangat anak asuh Budiardjo untuk mengejar ketertinggalan gol. Terbukti di menit ke 87, pemain Perssu nomor punggung 19, Wimba Sutan Fanosa, berhasil merobek gawang Persedikab Kediri. Skor pun berubah 1-2. Hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, skor tetap 1-2 untuk kemenangan Persedikab.
Pertandingan pun sempat diwarnai kericuhan akibat keputusan wasit. Pemain, pelatih, dan official merasa geram dan tidak terima dengan keputusan wasit yang dianggap ‘tidak fair’. “Saya bukan tidak menerima kekalahan ini. Saya terima kekalahan ini. Tapi tolong pertandingan jangan direcoki dengan hal-hal yang tidak fair. Kalau wasit tidak mau dipukul dan dihajar, perbaiki kinerjanya,” tandas Budiardjo geram.
Sementara pemain Perssu Madura City, Wimba Sutan Fanosa juga mengungkapkan kekecewaan yang sama. Baginya, wasit telah merusak seni pertandingan. “Tadi gol saya dianulir. Padahal itu tadi kan saya tendangan bebas bukan umpan. Bagaima kok bisa dinyatakan offiside? Kemudian pemberian kartu, katanya handsball. Wasit itu kan mestinya tahu posisi tangan aktif atau pasif. Pertandingan ini tadi telah dirusak wasit,” ujarnya emosi.
Menurut Wimba, wasit harusnya menguasai LOTG (laws of the game) atau aturan permainan. Ada banyak pasal disitu. Dan dalam pertandingan tadi, wasit banyak mengabaikan aturan-aturan itu.
Baginya, hal tersebut sangat mempengaruhi dunia sepakbola tanah air, karena timnas ingin kualitas Liga Indonesia yang baik. Namun kepemimpinan wasit seperti pertandingan tadi perlu dievaluasi. “Sebagai pemain senior, saya selalu imgin memberikan contoh yang baik. Kami tidak ingin ada perkelahian atau bermain kasar. Tapi jika kualitas wasit seperti itu, bagaimana?” tukasnya kecewa. (tem/kun)






