Blitar (beritajatim.com) – Peternak ayam petelur Blitar Raya menyebut bahwa Calon Presiden Anies Baswedan tidak pernah ingkar janji. Hal itu diungkapkan oleh para peternak bukan tanpa alasan.
Sebelum terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sempat berkomunikasi dan berjanji kepada para peternak ayam petelur di Blitar. Janjinya adalah akan memberdayakan peternak ayam Blitar untuk menyuplai kebutuhan telur di DKI Jakarta jika terpilih nanti.
Usai terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, janji itu kemudian direalisasikan oleh Anies Baswedan. Sejak ia menjabat hingga periodenya berakhir telur dari peternak Blitar terus diserap oleh DKI Jakarta.
“Pak Anies Baswedan ini tidak pernah ingkar janji kepada peternak, sejak 2018 hingga sekarang telur-telur dari Blitar diserap oleh Dinas DKI,” kata Rofi Yasifun, salah satu peternak di Blitar, Kamis (11/01/24).
Para peternak ayam petelur di Blitar pun percaya dan yakin bahwa Anies Baswedan bisa membawa perubahan lebih baik bagi peternakan rakyat di Bumi Bung Karno.
“Kami yakin Pak Anies ini bisa membuat peternak di Blitar jauh lebih sejahtera dan harga telur lebih stabil,” imbuhnya.
Usai melontarkan ungkapan tersebut, para peternak ayam petelur Blitar menawarkan kontrak politik ke Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Kontrak politik tersebut dijadikan kunci oleh para peternak, jika Anies-Muhaimin ingin memperoleh dukungan dari 3 ribu lebih peternak di Bumi Bung Karno.
“Kami memberi mandat pada Cak Imin apabila berani mengeluarkan Peraturan Presiden tentang budidaya unggas kembali ke rakyat maka para peternak akan bersedia mendukungnya. Dengan demikian nanti pabrikan tidak semena mena memperbanyak produksi sehingga peternak mandiri tidak akan kesulitan,” kata Sukarman ketua Koperasi Putra Blitar.
Para peternak ayam petelur Blitar pun yakin pasangan Amin menang di Pilpres 2024 mendatang.
“Dengan terpilihnya muhaimin jadi wakil presiden, akan dikeluarkannya Perpres. Itu harapan kami. Sehingga produksi telur dari pabrikan terkontrol. Saat ini produksi telur di pabrik dibatasi 2 persen, tapi siapa yang mengawasi?, prakteknya kan pabrik besar besaran buat budidaya peternakan. Sehingga kita kalah bersaing. Mereka punya modal banyak, teknologinya tinggi, pakannya lebih murah, sehingga mereka untung kami buntung,” teganya. (owi/ian)






