Surabaya (beritajatim.com) – Sedikitnya 50 ulama di Jatim bertemu Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya atau sering disapa Habib Luthfi bin Yahya di Sidoarjo, Kamis (29/12/2023) malam.
Kegiatan dikemas dengan tema ‘Menjemput Takdir, Perkuat Peradaban Untuk Indonesia Maju’ untuk memberikan dukungan kepada pasangan nomor urut 2 Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024.
“Dalam Piagam Madinah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW memberikan hak kepada berbagai golongan dalam rangka persatuan dan kesatuan. Rosulullah sudah mendahului bukan masalah ideologi atau kebenaran, tapi untuk quwwatil wathoniyah (kekuatan bangsa) sangat luar biasa. Nah, ini yang harus dicontoh seperti konsep Wali Songo masuk tanah Jawa itu tidak tiba-tiba,” kata Habib Luthfi bin Yahya melalui pernyataan tertulisnya yang diterima beritajatim.com, Jumat (29/12/2023).
Juru bicara kegiatan KH Iffatul Lathoif Zainuddin atau biasa dipanggil Gus Thoif dari Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kabupaten Kediri menyampaikan, bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan santri yang siap nderek dawuh kepada kiainya. Salah satunya Habib Luthfi bin Yahya.
“Tentunya ikhtiar yang kami lakukan ini dalam rangka menjemput takdir, perkuat peradaban untuk Indonesia maju. Kedua, apa yang seperti sudah Maulana Al Habib Muhammad Luthfi sampaikan, bahwa dukungan ini juga tidak ujug-ujug (tiba-tiba), tapi diawali dengan perenungan yang mendalam. Sehingga, kami sepakat nderek dawuh,” kata Gus Thoif.
Dalam forum silaturrahmi ini juga menghasilkan poin-poin penting dalam memilih pasangan Prabowo-Gibran dengan pertimbangan kemaslahatan bangsa antara lain:
1. Keberlanjutan kebijakan-kebijakan strategis nasional, yang berlandaskan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
2. Keberanian dalam menjaga bangsa ini dari paham-paham yang mengikis keutuhan NKRI, maka butuh pemimpin yang negarawan yang loyal terhadap bangsa dan negara.
3. Kepastian akan keterlibatan ulama dalam berjalannya pemerintahan, yang telah terbukti dengan keterlibatan organisasi islam moderat dalam roda pemerintahan, dan terciptanya hubungan baik antara ulama dengan penyelenggara negara.
4. Perhatian terhadap dunia pendidikan terutama Pondok Pesantren yang selama ini telah terbukti terakomodir dengan baik, terlebih dengan keterlibatan anak muda yg diharapkan dapat meraih kunci keberhasilan bonus demografi.
5. Kemampuan mengelola pertumbuhan ekonomi ditengah guncangan global.
6. Kepedulian terhadap rakyat Indonesia dalam hal perlindungan kesehatan yang merata
7. Kemampuan membawa NKRI menjadi Negara yang kuat dan bermartabat dihadapan dunia internasional.
“Tujuh poin itu akan kami bawa kepada kiai sepuh, santri dan alumni sebagai bentuk mandat dari hasil pertemuan yang memang kemarin kita lakukan dengan serius. Terutama untuk kepentingan bangsa dan negara dan khususnya pondok pesantren sebagai benteng kekuatan negara,” tambah Gus Thoif.
Hadir mendampingi Habib Luthfi bin Yahya dalam forum nderek dawuh sesuai catatan panitia sebanyak 50 ulama dari berbagai pondok pesantren. Di antaranya Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri, Ponpes Lirboyo Kediri, Darul Ulum, Pondok Kencong, Ponpes Sideresmo Surabaya, Ponpes Tremas Pacitan, Ponpes Panji, Ponpes Nurul Qodim, Ponpes Nurul Kholil dan banyak pondok wilayah Tapal Kuda dan Madura dan lainnya.
Berikut daftar hadir acara nderek dawuh antara lain KH. Abdurohman Al Kautsar (Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri), KH. Reza Ahmad Zahid (Al Mahrusiyah Lirboyo), KH. Adibussoleh (Ponpes Lirboyo), KH. Dziauddin (Ponpes Mantenan Udanawu Blitar), KH. Muzakki Alyamani (Ponpes Miftahus Sunnah Surabaya), KH. Iffatul Lathoif Zainudin (Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri), KH. Hasyim (Ponpes Nurul Kholil Bangkalan Madura), KH. Lukman Haris Dimyati (Ponpes Tremas Pacitan).
Kemudian, KH. Zahrul Azhar (Ponpes Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang), KH Melvin Zainul Asyiqin (Ponpes Al Mahrusiyah Lirboyo), dan KH. Zahrul Jihad Ponpes Tinggi Rejoso Jombang.
Lalu, KH. Ahmad Nasrohuddin (Ponpes Syabab Annawawi Sidosermo Surabaya), KH Abid Umar (PPTQ Al Falah Ploso Mojo Kediri), KH. Faiq Febrian Zamzami (Ponpes Mantenan Udanwu Blitar), KH. Tamamuddin (Ponpes Al Falaq Bojonegoro), KH. Ulum (Ponpes Abudzarrin Bojonegoro), KH. Samsul (Ponpes Mifatihul Muhtadin Batu Malang), KH. Habib (Ponpes Al Hidayah Batu), KH. Hisyam (Ponpes Al Anwar Wali Songo Probolinggo), KH. Khoiruddin (Ponpes Annur Al Murtadlo II Malang), KH. Faiz (Ponpes Nurul Jadid Probolinggo), KH. Badrul Huda Z Abidien (Lirboyo), KH. Munir (Ponpes Miftahul Ulum Jombangan Pare), KH. Toev (Ponpes Darul Ulum Poncol Magetan).
Dan, KH. Jauharuddin (Ponpes Al Ghozali Tambak Beras), KH. Imron Fauzi (Ponpes Annur Azzahra Lumajang), KH. Seif elMulk (Ponpes Queen Al Falah), KH. Ali Arjun (Ponpes Darussalam Pasuruan), KH. Baston Kharisma (Ponpes Ibnu Sina Banyuwangi), KH. Ahmad Musyafa (Ponpes Syamsul Arifin Pukul Pasuruan), KH. M Hasyim Fahrurrozi (Ponpes Alhamdaniyah Panji Sidoarjo), KH Muhdlor (Ponpes Kwagean Kediri), KH. Ridlo Rifai (Ponpes Arrohman Magetan), KH. Andi Najmuddin (Ponpes Mansyaul Huda Banyuwangi).
Kemudian, KH. Chasbil Aziz (IMAP Sidoarjo), KH. Hafid (Ponpes Nurul Qodim Paiton Probolinggo), KH. Hadi (Ponpes Nurul Qodim Paiton Probolinggo), KH. Ghozi (Ponpes Tahsinul Akhlaq Bahrul Ulum Surabaya), KH. Fawaid (Ponpes Tanggul Jember), KH. Nawawi (Ponpes Nurut Taqwa Bondowoso), KH. Abdullah Ibrahim (Ponpes Darussalam Jember), KH. Moch. Anas (Ponpes Sekar Anom Pegantenan Pamekasan), KH. Basori Alwi (Ponpes Raudlotut Ibaad), KH. Hasyim (Ponpes Nurul Kholil Bangkalan), R. KH M Faishol Madiun, Gus Nafi’ Kencong Kediri. (tok/kun)







