Banyuwangi (beritajatim.com) – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mendapat penghargaan Satyalencana Wirakarya. Penghargaan ini sekaligus melengkapi sejumlah penghargaan lain yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Tanda kehormatan itu juga diberikan kepada Presiden Joko Widodo yang diwakili oleh Ketua Pusat Harnus sekaligus Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi di Puncak peringatan Hari Nusantara (Harnus) yang digelar di Tidore, Maluku Utara. Selain itu, Satyalencana Wirakarya juga menghampiri sejumlah kepala daerah dan perangkat daerah berprestasi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berhak mendapat penghargaan itu, karena dinilai sukses dalam inovasi pengembangan sektor kelautan. Di antaranya adalah mengembangkan ekowisata di Desa Bangsring dan mengubah kawasan kumuh di Kampung Mandar menjadi sentra jual beli ikan.
Bahkan, hal itu tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 113/TK/2023. Bagi Banyuwangi, penghargaan ini adalah bentuk apresiasi kepada para nelayan Banyuwangi yang giat untuk bertransformasi. “Ini adalah penghargaan atas kerja keras bagi para nelayan di seluruh Banyuwangi,” ungkap Ipuk, Kamis (14/12/2023).
Banyuwangi, kata Ipuk, punya bentang laut lebih dari 170 KM. Sepanjang itu, sejumlah titik memberikan potensi yang luar biasa. Bukan hanya hasil lautnya yang melimpah, tapi juga memiliki eksotisme panorama yang mempesona. Dari potensi itu, intervensi pemerintah turut melakukan pengembangan ekonomi berkelanjutan.
“Kita libatkan para nelayan. Yang dulu hanya sekadar menangkap ikan di laut kemudian hasilnya dijual. Kini, kita kembangkan dengan sentra-sentra kuliner seafood yang dikelola oleh keluarga nelayan. Dari sini, ada peningkatan hasil ekonomi yang berlipat,” ujar Ipuk.
Hasilnya, imbuh Ipuk, tidak hanya dari segi ekonomi yang meningkat, tetapi juga mampu mengubah perilaku masyarakat nelayan. Mereka yang awalnya abai akan kebersihan pantai, kini tergerak untuk menjaganya. Karena kebersihan pantai akan menunjang kunjungan pembeli ke lapak-lapaknya.
“Contohnya, terjadi di Bangsring. Dulunya mereka menangkap ikan dengan bom yang merusak. Kini, dikembangkan ekowisata dimana mereka diajak untuk menanam kembali terumbu karang. Dari sini, mereka dapat pendapatan dari para wisatawan yang berkunjung,” terang Ipuk.
Sinergitas bersama nelayan penting peranannya, bahkan nyaris dilakukan di sepanjang pantai Banyuwangi. Berbagai kelompok sadar wisata dibentuk untuk menjadi wadah bagi masyarakat nelayan. “Tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan, tapi juga turut serta menjaga laut kita,” pungkasnya. [rin/suf]






