Jakarta (beritajatim.com) – Julio Ekspor, CEO Bisa Ekspor, menyoroti peluang besar bagi Gen Z dan milenial untuk meraih pendapatan mencapai ratusan juta per bulan melalui proses hilirisasi. Julio menegaskan bahwa pandangan negatif terhadap hilirisasi oleh kedua generasi tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Hilirisasi, sebagai strategi peningkatan nilai tambah dari komoditas suatu negara, dianggap oleh Julio sebagai langkah vital dalam mewujudkan pertumbuhan Indonesia. Menurutnya, ekspor barang mentah memiliki keterbatasan dalam memberikan keuntungan yang optimal, sehingga fokus pada hilirisasi menjadi penting.
“Kebanyakan pemuda menganggap hilirisasi sebagai proyek besar pemerintah yang hanya dapat dijalankan oleh kalangan elit dengan nilai transaksi yang fantastis. Padahal, konsep hilirisasi sebenarnya sederhana dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Julio dalam diskusi di Media Center Indonesia Maju.
Julio, yang memulai usahanya dengan mengolah serabut dan batok kelapa yang minim pemanfaatan, menunjukkan perjalanan bisnisnya dari menjual arang hingga mengembangkan briket dari bahan tersebut. Melalui pemanfaatan platform media sosial, dia berhasil memasarkan produknya ke perusahaan asing.
“Dari situlah saya mulai berkembang hingga memiliki pabrik. Namun, saya sadar bahwa konsep hilirisasi ini tidak boleh terpaku pada diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya aktif melakukan edukasi di masyarakat dan mendirikan komunitas Bisa Ekspor,” tambahnya.
BACA JUGA:
Hilirisasi Komoditas Perkebunan Topang Peningkatan Ekonomi Nasional
Komunitas Bisa Ekspor yang saat ini anggotanya mencapai 1,3 juta orang dari Generasi Z menjadi wadah bagi Julio untuk mendekatkan pemuda dengan konsep hilirisasi. Hasilnya, Bisa Ekspor kini mampu mengekspor 2.000 kontainer setiap bulannya dengan nilai mencapai Rp400 miliar.
Julio menekankan bahwa meskipun masih sedikit anggota yang telah berhasil mengekspor, namun tingkat kesuksesan ini membuktikan potensi yang besar. “Dari satu orang yang berhasil mengekspor, minimalnya dapat meraih Rp200 juta per bulan,” paparnya.
Tidak hanya dari segi ekonomis, hilirisasi juga mampu memperkuat jaringan sosial masyarakat. Oleh karena itu, Julio mendorong pemerintah untuk menyusun kebijakan hilirisasi yang dapat mendukung pelaku UMKM serta ramah bagi masyarakat secara umum.
BACA JUGA:
Kemenlu Bekali Calon Duta Besar dan Konjen Soal Industri Hilirisasi Smelter PT Freeport Indonesia
Menyinggung mengenai kebijakan, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyadari bahwa masih terdapat penyesuaian yang perlu dilakukan terkait regulasi hilirisasi. Meskipun demikian, ia menegaskan pentingnya kelanjutan dari upaya hilirisasi ini.
“Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam implementasi hilirisasi. Namun, ini adalah perjalanan yang masih cukup muda, dan proses ini membutuhkan waktu untuk berkembang,” ungkap Bahlil pada forum yang sama.
Penyesuaian kebijakan hilirisasi sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi Indonesia menjadi fokus dalam upaya mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan, termasuk memberikan kesempatan luas bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam upaya hilirisasi komoditas. [beq]






