Surabaya (beritajatim.com) – Seniman Butet Kertaredjasa membeberkan peristiwa intimidasi yang dialaminya saat pementasan teater di Taman Ismail Marzuki, Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia menceritakan, intimidasi itu terjadi ketika dirinya menggelar pertunjukan teater pada 1 dan 2 November 2023 lalu. Butet mengaku jika saat itu pihak kepolisian melarangnya mementaskan materi tentang politik.
Menurutnya, hal ini berarti materi seni pertunjukannya diatur oleh kekuasaan di luar dirinya. Butet menilai jika dirinya kehilangan kemerdekaan mengartikulasikan pikiran atau dihambat kebebasan berekspresinya.
BACA JUGA:10 Taman Nasional Terindah Sedunia, Bromo Nomor Tiga
“Padahal UUD, seperti dikatakan dirjen kebudayaan, amanah kongres kebudayaan jelas menyebutkan kebebasan berekspresi hak mendasar, hak mutlak rakyat indiensia, polisi mengartikan intimidasi secara naif, hanya soal fisik,” kata Butet di Surabaya, Rabu (6/12/2023).
Butet menjelaskan, izin dari kepolisian itu harusnya hanya untuk kesenian yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Tapi, jika kesenian memang ditampilkan di tempat seni seperti Taman Ismail Marzuki, cukup pemberitahuan saja. Sebab tak ada gangguan ketertiban umum.
“Tugas polisi adalah mengantisipasi ancaman ketertiban umum, tapi dalam pertunjukan kami. Seminggu sebelumnya saya harus menandatangani surat yang salah satu itemnya berbunyi ‘Saya harus mematuhi, tidak bicara politik, acara saya tidak boleh untuk kampanye, tidak boleh ada tanda gambar, tidak boleh urusan pemilu’,” lanjutnya.
Meskipun ia menampilkan cerita biasa, baru kali ini sejak tahun 1998 polisi menambahkan redaksional akan aturan tidak boleh membicarakan politik yang harus ditandatanganinya.
BACA JUGA:PDI Perjuangan Tolak Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Ditunjuk Presiden
“Itu menurut saya intimidasi. Intimidasi tidak harus pertemuan langsung, tidak harus ada pernyataan verbal dari polisi, polisi datang marah-marah, bukan itu,” kata dia.
Iapun mengaku hanya menceritakan fakta dan tidak berani menuduh kalau polisi alat negara di masa kampanye ini mulai mengintervensi kehidupan publik.
“Cuman menceritakan fakta, saya yakin masyarakat indonesia ini, masyarakat yang cerdas, bisa menilai dengan sendirinya. Kalau saya kolasi, kontennya kurang lebih seperti itu, lebih itu karena banyak mahasiswa, saya yakini kalau mahasiswa yang hadir di acara kita ini adalah pemilik masa depan bangsa dan negara,” ujarnya. (Ipl/Aje)






