Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto menginstruksikan seluruh camat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk tak hanya bekerja di kantor. Mereka harus berada di lapangan untuk mengetahui keinginan masyarakat.
“Porsi kerjanya jangan banyak di kantor. Cukup 25 persen di kantor. Kalau pekerjaan administrasi belum selesai, bisa dikerjakan malam hari. Saya minta 75 persen waktu kerja digunakan untuk turun ke lapangan,” kata Hendy, Rabu (6/12/2023).
“Turun ke lapangan, belanja problem di masyarakat untuk diteruskan kepada kami, Pak Sekda, Pak Asisten, Pak Inspektur. Jadi kita bisa tangani persoalan dengan cepat,” kata Hendy.
Para camat diminta menyapa masyarakat, bertemu kepala desa, pengurus rukun tetangga dan rukun warga, kader posyandu, relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana), tokoh masyarakat, ulama di wilayah masing-masing.
“Juga jumpai para pengusaha, orang-orang berpengaruh di wilayah masing-masing agar mereka bisa mendukung program kita, percepatan program-program kita baik di bidang pertanian, pendidikan, maupun mengatasi problem tumbuh kembang stunting, angka kematian ibu dan angka kematian bayi,” kata Hendy.
Hendy meminta para camat terus menyosialisasikan upaya penanganan problem tengkes, angka kematian ibu dan angka kematian bayi. “Temui, jumpai secara personal, dan secara kelompok. Esensinya camat adalah kepanjangan tangan bupati,” katanya.
Saat ini Jember berhasil mengendalikan inflasi. “Kita pertahankan. Kalau ada harga yang mahal di wilayah masing-masing, segera informasikan kepada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Informasikan kepada saya atau Pak Sekretaris Daerah, sehingga kita bisa tangani,” kata Hendy.
Para camat juga diinstruksikan mewaspadai potensi bencana alam. “Musim hujan sudah mulai. Kami berharap siaga bencana dilakukan. Sosialisasi dilakukan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati. Daerah-daerah yang berpotensi longsor dan pohon-pohon tinggi, silakan ditangani dengan kerja bakti bersama,” kata Hendy. [wir]






