Ponorogo (beritajatim.com) – Dalam 3 hari pelaksanaan Festival Literasi Ponorogo, sudah ribuan buku yang laku terjual. Ya, dalam Festival Literasi Ponorogo itu, juga diadakan bazar buku yang bertempat di Ndalem Tondowinatan, Jalan Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto. Puluhan ribu yang dibazarkan itu, dari 24 penerbit terkemuka di Indonesia.
“Dalam 3 hari pelaksanaan Festival Literasi Ponorogo ini, sudah ada 2.000-an lebih buku yang terjual,” kata Rudi, Ketua Panitia Festival Literasi Ponorogo, Selasa (28/11/2023).
Adanya bazar buku dan stan-stan UMKM membuat lokasi Festival Literasi Ponorogo selalu ramai. Pengunjunhnya rata-rata setiap harinya berkisar dari 800 hingga 1.000 orang. Tidak hanya melihat buku, pengunjung juga bisa bersantai di stan-stan UMKM yang menjual beraneka makanan dan minuman.
“Jadi mereka yang sudah membeli buku, bisa bersantai sejenak sambil membaca buku yang dibelinya di stan UMKM yang telah disediakan di komplek Ndalem Tondowinatan,” kata pemuda penggemar klub sepakbola Arsenal tersebut.
Festival Literasi Ponorogo berlangsung selama 10 hari, yakni mulai tanggal 25 November hingga 3 Desember 2023. Selama bergulirnya Festival Literasi Ponorogo itu, tidak hanya bazar buku, namun setiap malamnya juga diisi berbagai kegiatan. Mulai dari diskusi tentang branding konten, penerbitan dan perbukuan serta desain grafis. Selain itu juga mengulik atau obrolan tentang jagongan sejarah Ponorogo dan jelajah purbakala di sekitar Jalan HOS Cokroaminoto.
BACA JUGA:
Tak Lagi Jernih, Sungai Keyang Ponorogo Tercemar Kotoran
Tidak hanya berbagai diskusi, Festival Literasi Ponorogo juga diisi dengan kegiatan lomba menulis cerpen dan lomba menari serta ada stand up comedy.
“Nanti juga ada stand up comedy Ponorogo performance show. Diisi oleh komika-komika dari bumi reog,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Festival Literasi Ponorogo ini dibuka oleh Bupati Sugiri Sancoko pada tanggal 25 November 2023 lalu. Orang nomor 1 di Ponorogo menilai bahwa kegiatan positif seperti ini, harus diadakan sesering mungkin. Sebab, mulai anak-anak sudah dikenalkan dengan literasi.
BACA JUGA:
Transisi Pancaroba di Ponorogo, Ada Bencana Longsor dan Angin Kencang, Puluhan Rumah Rusak
Anak harus pintar, namun harus dari sumber yang jelas dan dipertanggungjawabkan. Sehingga dengan begitu, akan tereliminasi dengan sendirinya terkait dengan berita-berita bohong atau hoax.
“Literasi itu penting untuk membentuk generasi yang pintar dan pengetahuan. Selain itu juga hebat secara SDM dan jelas sumbernya,” kata Kang Giri. (End






