Surabaya (beritajatim.com) – Ditemani oleh suasana lesehan di sekitar angkringan Jalan Simpang Dukuh, Yenny Wahid, atau Yenny Gus Dur, menjalin diskusi santai dengan berbagai kalangan pada Jumat malam, 23 November 2023.
Sambil menikmati segelas teh, camilan, dan mie goreng, Yenny Wahid tampak menikmati kebersamaan dengan masyarakat sekitar.
Meski merupakan Putri dari Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Yenny terlihat tidak mengikuti stereotip anak presiden. Dengan santai, dia berbaur dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi, dan menerima masukan dari berbagai saran untuk masa depan bangsa.
Diskusi tersebut tidak hanya melibatkan aspek umum, tetapi juga merangkul isu-isu terkini, termasuk strategi untuk mendukung Ganjar Pranowo dan Mahfud MD pada Pemilihan Presiden 2024. Khususnya, Yenny fokus berinteraksi dengan anak-anak milenial di Kota Pahlawan.
Yenny menyampaikan tidak ada agenda khusus, saya hanya ingin jalan-jalan ke Surabaya. “Saat melintas di kawasan Jalan Tunjungan, ramainya luar biasa. Setelah mencari-cari, akhirnya saya menemukan tempat di Simpang Dukuh.”kata Yenny
Sejak jam 21.30 WIB, puluhan orang bergabung dalam cangkrukan tersebut, termasuk perwakilan dari Barikade Gus Dur Surabaya dan Jawa Timur, serta Ketua Komunitas Milenial Ganjar (Kolega) Jatim, Billy Handiwiyanto.
Baca Juga:
FAMI dan Kolega Gelar Festival Musik Milenial ‘Mboten Korupsi Mboten Ngapusi 2023’
Kunjungan Yenny ke Surabaya dan interaksi di Simpang Dukuh menjadi puncak rangkaian kegiatan dari wilayah Tapal Kuda, Situbondo, Probolinggo, Jember, dan Lumajang untuk silaturahmi ke pondok pesantren di daerah tersebut.
“Saya sudah empat hari keliling Jawa Timur untuk konsolidasi gerakan dan penyamaan persepsi guna mendukung Ganjar-Mahfud. Hasilnya cukup menggembirakan, terutama di basis-basis pesantren,” ungkap Yenny.
Optimis terkait dukungan dari anak-anak muda, Yenny menyatakan, “Saya cukup optimis. Saya targetnya suara Islam dan mendapatkan dukungan anak muda (milenial dan Gen Z).”
Yenny lebih memfokuskan perhatian pada kota, terutama pada kalangan santri. Beberapa program Ganjar-Mahfud telah disiapkan untuk mereka, seperti peningkatan beasiswa bagi santri yang kadang-kadang kesulitan bersaing karena beberapa pondok pesantren memiliki permasalahan dengan pengakuan ijazah.
“Misalnya, untuk menyamakan ijazah, agar semua ijazah dari pesantren dapat diakui dengan baik,” tambah Yenny.
Meskipun isu ini pernah dibawa ke Pemerintah Pusat tanpa solusi hingga saat ini, Yenny tetap berkomitmen untuk mencari solusi yang dapat diimplementasikan.
Billy Handiwiyanto menyambut positif gagasan Yenny, menyatakan solusi yang diusulkan Bu Yenny sangat sejalan dengan pemikiran milenial.
“Kami akan segera melaksanakan program-program milenial yang bermanfaat.”pungkasnya. (ted)






