Surabaya (beritajatim.com) – National Hospital Surabaya mengajak masyarakat agar mampu melakukan upaya deteksi dini untuk mencegah penyakit kanker payudara.
Diketahui, Bulan Oktober menjadi Bulan Kesadaran Kanker Payudara. Nah, untuk memperingatinya, National Hospital menggelar health talk membahas pentingnya melakukan SADARI alias periksa payudara sendiri.
CIO National Hospital Alexander Ang mengatakan bahwa banyaknya jumlah kasus kanker payudara yang saat ditemukan sudah memasuki stadium lanjut, menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan.
Dari situ, bisa diartikan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya deteksi dini terhadap kanker payudara masih sangat rendah. “Dengan adanya kegiatan ini, kita bisa belajar bagaimana cara mendeteksi dan mencegah kanker payudara. Semoga kita semua dapat meningkatkan awareness kita terhadap breast cancer,” ujar Alexander, Senin (23/10/2023).
Sementara dari data yang dihimpun beritajatim.com, peningkatan penderita kanker payudara tidak bisa diprediksikan. Adapun penderita kanker payudara di Indonesia rata-rata berada di rentang usia produktif, yaitu antara 20 sampai 40 tahun.
BACA JUGA: Mahasiswa Ubaya Rayakan Bulan Kesadaran Kanker Payudara dengan Buat Ratusan Kupu-Kupu Kertas
Diketahui, penyebab kanker payudara tersebut bisa dari hormonial, riwayat keluarga sebelumnya, maupun gaya hidup yang tidak sehat. Oleh sebab itu, maka masyarakat penting untuk melakukan deteksi dini.
Sedangkan dalam health talk itu, Andy Achmad Suanda Sp, B (K) Onk dari National Hospital meminta kepada masyarakat khususnya perempuan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri.
“Khususnya untuk perempuan harus SADARI, periksa payudara sendiri. Sebulan dua bulan sekali, it’s okey, yang penting semua area teraba. Kalau ada sesuatu perubahan sekecil apapun jangan ragu untuk ke dokter,” katanya.
BACA JUGA: RSUD Jombang Miliki Layanan Diagnostik Lengkap Deteksi dan Tangani Kanker Payudara
Ia menjelaskan, masyarakat juga bisa melakukan deteksi dini dengan menggunakan alat USG ataupun mamografi. Ia menyarankan, bagi wanita di bawah usia 35 tahun untuk menggunakan USG. Sedangkan bagi usia di atasnya bisa memakai mamografi.
“Bagi perempuan di bawah 35 tahun atau 40 tahun sebaiknya USG. Kalau di atas itu mamografi. Sehingga, kita bisa mengetahui yang tersembunyi ataupun yang masih kecil yang belum bisa teraba,” jelasnya. [ipl/suf]






