Malang (beritajatim.com) – Perjalanan masing-masing orang untuk meraih mimpinya begitu beragam. Seperti yang dialami oleh Muhammad Ivan Muntahir. Pria asal Tuban, Jawa Timur ini memulai karir profesionalnya pada bulan Juli tahun 2022.
“Ketika saya baru saja lulus sidang tugas akhir, saya ditawari freelance oleh senior di kampus. Dari situ saya mulai terjun dalam dunia karir khususnya di bidang Virtual Reality Developer,” kata Ivan.
Menurut Ivan, virtual reality merupakan teknologi yang cukup baru dan belum banyak di Indonesia. Sehingga, klien project freelance justru berasal dari berbagai negara berbagai negara seperti USA, Malaysia, Jerman, maupun Indonesia.
“Project freelance tersebut yang menambah portfolio saya dan berkembang hingga sampai saat ini. Selain itu, saya juga paralel melamar pekerjaan tetap ke beberapa perusahaan yang sekiranya bisa menerima saya sebagai VR developer,” kata pria kelahiran tahun 2000 ini.
Kemudian, Ivan mendaftar ke berbagai perusahaan yang bergerak dibidang digital khususnya game. Singkatnya, Ivan akhirnya mendapatkan panggilan interview untuk membantu mengembangkan produk metaverse PT. Telkom Indonesia yaitu MetaNesia.
“Saya diterima sebagai Unity Developer di MetaNesia yang bertanggung jawab untuk melakukan maintenance, research, dan develop fitur-fitur maupun metaverse itu sendiri. Pekerjaan ini juga remote atau Work From Anywhere sehingga saya bisa leluasa bekerja di rumah tanpa harus ke kantor,” kata pria berusia 23 tahun ini.
Kesibukan yang dilakukan sebagai Unity Developer adalah pengembangan VR, pengembangan metanesia fitur seperti LiveStream, sharing screen di metanesia, memperbaiki bug, dan melakukan meeting harian untuk melaporkan hasil pekerjaan.
Tantangan saat menjajaki jenjang profesi ini cukup banyak. Apalagi, Ivan merasa modalnya untuk mempelajari bidang ini juga cukup minim karena ia belajar secara otodidak selama mengerjakan tugas akhir yang sebelumnya belum pernah sama sekali mengerti apa itu VR, AR, MR, dan teknologi imersif lainnya.
“Tantangannya dalam bidang metaverse dan imersif teknologi ini adalah minimnya sumber informasi di Indonesia maupun luar negeri, minimnya teknologi VR di Indonesia jadi cukup asing dan tidak semua orang memilikinya, teknologi imersif ini cukup susah bagi pemula untuk dipahami dan dipelajari karena membutuhkan fasilitas yang mendukung untuk bisa mempelajari teknologi ini,” kata dia.
Ditambah lagi, lanjut Ivan, biaya alat yang tidak murah, rata-rata alat VR yang beredar di pasaran saat ini adalah seperti produk dari Facebook yaitu Meta Quest dibanderol dengan harga berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 20 juta.
“Tentunya dengan harga seperti itu tidak semua kampus atau personal memiliki barang tersebut sehingga pasar dari metaverse dan teknologi imersif tentunya belum seluas IT lainnya seperti website, mobile apps. Serta, untuk memulai mempelajari teknologi imersif, selain membuat sebuah program, kita juga sebagai developer juga harus memahami optimasi dan layouting 3D model karena tentunya membutuhkan 3D asset di setiap aplikasi imersif ini,” papar Ivan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”showup”]
Serta tantangan lainnya adalah profesi ini sangat jarang di Indonesia. Sehingga, ia juga perlu extra mencari pekerjaan di bidang ini baik melalui situs luar negeri ataupun by project freelance saja. Karena tidak bisa mengandalkan hanya dari Indonesia saja.
“Meski demikian, bidang profesi ini menarik dan masih tidak sebanyak bidang lainnya sehingga peluang untuk menjajaki profesi ini masih cukup terbuka lebar. Teknologi yang digunakan juga dapat fleksibel karena bisa digunakan sebagai entertainment ataupun sebuah riset. Dukanya adalah pekerjaan ini jarang sekali di Indonesia maupun di luar negeri, jadi kita perlu kreatif untuk mencari income tambahan ataupun portfolio tambahan sebagai persiapan,” kata dia.
Ke depan, Ivan berharap bisa berkarir menjadi VR atau XR developer di luar negeri secara Work From Anywhere dan bertemu dengan developer-developer lainnya. Sehingga, nantinya ilmu yang didapatnya juga akan berkembang dan bisa menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki.
“Karena menurut saya sebagai orang yang berkarir di bidang IT, Work From Anywhere itu sangat menguntungkan bagi perusahaan digital maupun individu karena tidak menghabiskan cost atau biaya yang besar seperti Work From Office. Kemudian juga dengan adanya Work From Anywhere kita bisa lebih efektif bekerja tanpa harus menghabiskan waktu perjalanan ke kantor ataupun perkumpulan setiap hari,” imbuh dia.
Dia juga berharap, perusahaan digital di Indonesia semakin berkembang serta memproduksi beberapa produk digital khususnya di bidang Game, Metaverse, dan teknologi imersif seperti AR, VR, dan MR.
“Sehingga nantinya lapangan pekerjaan juga lebih luas serta nantinya industry seperti sektor ini dapat lebih variatif dan inovatif,” pungkas lulusan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ini.
===========
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






