Kediri (beritajatim.com) – Puncak Haul Ke-12 KH Imam Yahya Mahrus yang dilangsungkan pada hari Sabtu malam hari kemarin berlangsung khidmat, acara Haul tersebut adalah memperingati wafatnya KH Imam Yahya Mahrus ayah dari Gus Reza Ahmad Zahid, sekaligus Pengasuh Pesantren Al Mahrusiyah Lirboyo Kota Kediri.
Acara ini dilangsungkan di Masjid Pondok Pesantren Al Mahrusiyah Unit III yang terletak di Kelurahan Ngampel Kecamatan Mojoroto Kota Kediri dan dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari pejabat, habaib, masyayikh, santri, alumni hingga masyarakat umum.
Selain memperingati Haul KH Imam Yahya Mahrus dan Haul seluruh Masyayikh Lirboyo, juga diadakan Musyawarah Besar Ikatan Silaturohim Keluarga Alumni Al Mahrusiyah (MUBES ISTIKMAL) Ke-3 sekaligus Peresmian Badan Wakaf Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Kegiatan Khataman Qur’an, dan Bazzar Akbar juga masuk dalam rangkaian acara haul yang digelar dua hari pada tahun ini.
Acara puncak Haul Ke-12 KH Imam Yahya Mahrus dipandu oleh Imam Washoli, Acara diawali dengan pembacaan Tawassul dan Surat Yasin oleh KH Abdul Hamid Abdul Qodir selaku Pengasuh Pesantren Ma’unahsari Kediri, dilanjut dengan Pembacaan Tahlil yang dipimpin oleh KH An’im Falahuddin Mahrus selaku Anggota DPR-RI Komisi X, dilanjut dengan Do’a Tahlil oleh KH AHS. Zam Zami Mahrus selaku Pengasuh Pesantren Al Baqoroh Lirboyo Kota Kediri kemudian dilanjut Pembacaan Qoshidah Maulid oleh Al Habib Ahmad Idrus Al Habsyi dari Pasuruan, dan pada saat Mahalul Qiyam disertai tabarukan pembukaan rambut Rosulullah SAW oleh Al Habib Mutholib Al Masyhur dari Singapura bersama para Masyayikh.
Baca Juga: Berbekal CCTV, Satreskrim Polres Pasuruan Amankan Pelaku Curanmor
Sambutan pihak keluarga diwakili Gus Melvien Zainul Asyiqien, putra KH Imam Yahya Mahrus sekaligus Rektor Institut Teknologi Al Mahrusiyah (ITAMA) Kota Kediri. Dalam sambutannya Gus Iing, begitu sapaan akrabnya, memohon doa kepada para jamaah dan tamu yang hadir agar beliau sekeluarga diberi kekuatan, kerukunan, dan kesabaran untuk melanjutkan perjuangan orang tua kita, KH Imam Yahya Mahrus dalam mengembangkan Pesantren Al Mahrusiyah.
“Kami atas nama keluarga ngaturaken jazakumullah ahsanal jaza’ matursuwun atas kerawuhan panjenengan sedoyo dan mohon maaf atas segala kekurangan yang kurang berkenan di hati panjenengan semua, bahwa malam hari ini kita sekeluarga hanya ingin mengestukan atau mengindahkan apa yang telah didawuhkan oleh kanjeng nabi:
عَنْ أَبِيْ أُسِيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيْعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا جَاءَ رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ سَلَمَةَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَ الْاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَ إِنْفَادُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَ صِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِيْ لَا تُوْصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَ إِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا
Dari Abu Usid Malik bin Rabi‘ah as-Sa‘idi, beliau berkata: Pada suatu waktu kami duduk di samping Rasulullah SAW. Tiba-tiba datanglah seseorang laki-laki dari Bani Salamah, lalu bertanya: Ya Rasulullah! Apakah masih ada kesempatan untuk berbakti kepada orang tua yang saya lakukan sesudah ayah dan ibu kami meninggal dunia? Beliau menjawab: Ya, masih ada: yaitu: (1) Menshalatkannya (dapat berarti mendoakan kebaikan, (2) memohonkan ampunan bagi mereka berdua, (3) Menyempurnakan (melaksanakan) janji-janjinya sesudah mereka meninggal dunia, (4) menyambung persaudaraan yang kamu tidak bisa sambung kecuali melalui keduanya, dan (5) memuliakan sahabat-sahabat keduanya.” Jelas Gus Iing.

Kemudian sambutan yang kedua disampaikan oleh KH Abdullah Kafabihi Mahrus, adik KH Imam Yahya Mahrus sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, Dalam sambutannya, Buya Kafabih, begitu sapaan akrabnya, menyampaikan ajaran islam tidak ada kompromi terhadap kedzoliman, selalu memberantas kedzoliman.
“Para Kyai itu mewarisi perjuangan para nabi, dan para nabi itu selalu menentang kedzoliman, seperti Nabi Musa melawan Fir’aun, Nabi Ibrohim melawan Namrud, dan Nabi Muhammad melawan Kaum Jahiliyah.” Jelas Buya Kafabih.
Baca Juga: Fraksi Gerindra Tak Puas pada Jawaban Bupati Pasuruan Terhadap Iuran Guru
Perwakilan Pemerintah Jawa Timur, Dr. H. Ahmad Jazuli, SH., M.Si sekaligus Staf Ahli Gubernur Jatim Eselon II mengungkap, Hari ini saya mewakili Ibu Gubernur Khofofah Indar Parawansyah, Malam ini saya agak minder tetapi bungah karena bisa berkumpul dengan Habaib dan Masyayikh semoga kita semua dikumpulkan di akhirat nanti.
“Dawuh Kanjeng Nabi, empat perkara kebahagiaan seseorang di dunia, yaitu: pasangan hidup yang sholih, anak-anak yang berbakti, berkumpul dengan orang-orang sholeh dan rizkinya di negerinya sendiri.” Tutur Gus Jazuli
Sambutan selanjutnya disampaikan Wakil Kepala Polda Jawa Timur yang juga telah hadir mendampingi beliau Kapolres Kediri Kota, Kapolres Kediri Kabupaten, Kapolres Nganjuk, Kapolres Trenggalek, Kapolres Mojokerto,
Kapolres Lamongan, dan Kapolres Tuban. Brigjen. Pol. Akhmad Yusep Gunawan, S.H., S.IK., M.H., M.Han dalam sambutannya menyampaikan pentingnya hubungan baik antara ulama dan umaro’ atau pemerintah untuk mewujudkan bangsa yang damai.
“Kami menyampaikan salam hormat dari Bapak Kapolri dan Kapolda, pada dasarnya bahwa kami mewakili Kapolda Jatim menyampaikan apresiasi yang setingi-tingginya atas hubungan baik Kerjasama daripada Ulama’ dan Umaro’ yang saat ini telah terbangun di Jawa Timur, semoga Jawa Timur tetap aman dan kondusif dalam situasi apapun yang ada.” Jelasnya.
Dan Sambutan yang terakhir disampaikan oleh H. Saiful Rahmat Dasuki, S.IP., M.Si. atau yang biasa disapa Gus Saiful selaku Wakil Menteri Agama RI, dalam sambutanya beliau mengenang sosok KH Imam Yahya Mahrus yang telah memiliki kiprah besar dalam perkembangan pondok pesantren di Indonesia.
Baca Juga: Kabupaten Blitar dan Sidoarjo Berbagi Emas Sepak Takraw Porprov Jatim
“Pada Malam hari ini kita memperingati Haul KH. Imam Yahya Mahrus, beliau adalah mata air keteladan bagi kita semua, beliau ulama’ yang kharismatik yang membaktikan seluruh hidupnya untuk Santri dan Pesantren, Kyai Imam begitu telaten dalam mendidik santri-santrinya yang datang dari berbagai penjuru negeri, beliau tidak hanya sekedar mengajar tetapi juga menjadi mata air keteladan yang menyejukan batin bagi para santri atau siapa saja yang datang kepada beliau, Kyai Imam dikenal sebagai tokoh besar yang menguasai dua bidang sekaligus yaitu Dunia Pesantren dan Dunia Kampus, terbukti beliau adalah pendiri pondok pesantren dan rektor Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri yang merupakan Kampus Pelopor Perguruan Tinggi di Pondok Pesantren yang didirikan oleh KH. Mahrus Aly,” ujar Gus Saiful.
Memasuki Acara Inti Ceramah Agama, Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, menyampaikan dua amanah penting dari Allah yang diberikan kepada manusia, Kiai Said menyebutkan, bahwa meskipun pada dasarnya manusia mempunyai potensi dzolim, menyimpang, lempeng, kurang ajar, serba tidak tahu dan serba bodoh, namun tetap sanggup menerima dua amanah besar yang diberikan oleh Allah. Dua amanat tersebut adalah Diniyyah Samawiyah Muqaddasah dan Insaniyah Ardhiyah Ijtihadiyah.
“Amanat Diniyyah Samawiyah Muqaddasah, amal agama dari langit, yang suci yang mulia. Ilahiyah bersifat Allah, monopoli Allah, namanya amanah Diniyyah Ilahiyah Samawiyah Muqaddasah,” Jelas Kiai Said.
Lebih lanjut, Kiai Said menjelaskan bahwa amanah tersebut masih terbagi menjadi dua bagian, yaitu aqidah dan syariat. Aqidah terdapat dalam rukun iman, sedangkan syariah terdapat dalam rukun islam. Dalam menjalankannya, Kiai Said berpesan agar manusia dapat beraqidah dan bersyariah shohihah.
“Maka kita mempunyai amanat harus mengamalkan, mendakwahkan, mengajak manusia masyarakat lain agar beraqidah shohihah, syariah yang shohihah. Aqidah yang benar harus kita dalami lalu pelajari ilmul kalam, syariah harus yang benar, harus kita pahami, harus kita baca minimal paling tidak, standar fathul qarib, sudah lumayan standar. Walaupun masih pas-pas an, belum luas,” jelas Kiai Said.
Selanjutnya, Wakil Organisasi Keagamaan Dunia ini menjelaskan amanah yang kedua, yaitu insaniyah ardhiyah ijtihadiyah. “Yang kedua, amanah yang diberikan ke manusia itu bersifat insaniyah ardhiyah ijtihadiyah, bersifat manusia profane, duniawi dan bersifat kreativitas,” tuturnya.
Baca Juga: Expo Jamu UB Malang, Upaya Lestarikan dan Kembangkan Obat Tradisional Indonesia
Menurut Kiai Said, manusia memiliki dua kecerdasan, yaitu tsaqofah dan hadoroh. Tsaqafah adalah upaya membangun kemajuan, peradaban, scientific, cultutre, dan humanity dengan bantuan Allah dan campur tangan manusia. Sedangkan hadoroh adalah upaya membangun kesejahteraan, perdamaian, kehidupan bersama satu sama lain atau sering disebut akhlakul karimah.
“Akhlakul karimah itu, Tawadhu’, Ikhtirobul Walidain, Birul Walidain, hormati tetangga, hormat tamu, menolong orang yang lagi kesusahan, tengok orang sakit, takziyah orang yang meninggal dunia, menggembirakan orang yang lagi susah. Itu semua anmanya akhlakul karimah,” jelas Kiai Said sebelum memungkasi ceramahnya dengan melantunkan Bait Qosidah Burdah. (ian)
*Penulis adalah Wakil Rektor III Institut Teknologi Almahrusiyah (ITAMA) Kediri.






