Jember (beritajatim.com) – Radio Republik Indonesia (RRI) Kabupaten Jember, Jawa Timur, tengah berupaya mendorong Generasi Z agar tak golput dan mau berpartisipasi dalam pemilihan umum mendatang.
“Kami punya program Gerakan Cerdas Memilih untuk pemilu. Karena pada 2024 ada banyak anak muda, dan kebiasaan anak-anak muda ini kan gadget. Kami berkonsentrasi di situ, bagaimana mengajak anak-anak muda memilih secara cerdas,” kata Kepala Lembaga Penyiaran Publik RRI Jember Taufan Pamungkas Marhaendra Jaya, ditulis Selasa (12/9/2023).
Taufan mengatakan, semua platform siaran RRI diarahkan untuk kampanye tersebut. “Kami memberikan edukasi kepada anak-anak muda. Jadi kalau mau memilih calon, harus melihat rekam jejaknya. Program ini akan berlangsung terus-menerus, baik secara online maupun off-air,” katanya.
Program untuk pemilu akan semakin intensif tahun depan. “Kami kan menyatakan diri Radio Pemilu. Kalau Radio Pemilu, tapi informasinya tentang pemilu kurang kan lucu. Kami perlu kolaborasikan pula dengan dukungan dari teman-teman media yang lain,” kata Taufan.
Programa 2 yang khusus diperuntukkan segmen pendengar dari kalangan anak-anak muda menjadi andalan RRI Jember. “Penyiarnya juga anak-anak muda. Kami mengajak komunitas-komunitas bergabung ke RRI Jember melalui aplikasi digital,” kata Taufan.
Penggunaan aplikasi digital merupakan bagian dari upaya RRI untuk beradaptasi dengan zaman pada usia 78 tahun. “Tahun ini tema besar kami adalah Transformasi Platform untuk Indonesia Maju. Teman-teman tadinya hanya siaran radio. Sekarang dituntut untuk (siaran) online, bikin televisi RRI Net, bikin podcast. Jadi satu orang dibebani menulis berita radio, berita online, podcast, dan RRI Net,” kata Taufan.
Infrastruktur RRI Jember dinilai Taufan cukup mampu untuk melaksanakan tugas itu. “Viewer kanal YouTube RRI Jember lumayan,” kata pria yang berpengalaman bertugas di Papua selama puluhan tahun ini.
Taufan menegaskan filosofi RRI sebagai radio bergambar. “Konsep awalnya seperti itu. Radio divisualisasikan di televisi dan YouTube. Masalah kontennya hampir sama dengan di radio, cuma gaya penulisannya pasti berbeda. Yang ditekankan adalah bahwa kami tidak mengejar kecepatan (berita), tapi bagaimana akurasi dan kedalaman berita. Karena mimpi besar RRI adalah menjadi media rujukan. Visinya terpecaya, yang berarti harus menggunakan disiplin verifikasi,” katanya. [wir]






