Yogyakarta (beritajatim.com) – Isu dan perkembangan politik di Indonesia saat ini lebih menghangat jelang datangnya momen pesta demokrasi yakni Pemilu 2024 di Februari mendatang.
Dinamika politik yang masih labil lengkap dengan parpol dan potensi tokoh yang akan di calonkan menjadi presiden juga masih terkesan samar menyebabkan masyarakat menjadi berpikir akan ada berapa calon yang maju menjadi Capres.
Ada tiga kandidat yang sudah mulai muncul menjadi Capres dengan dukungan koalisi parpol yakni Anies Baswedan, Ganjar Pranowo disusul Prabowo Subianto. Apakah akan bertambah lagi kandidat Capres atau malah berkurang?
Pengamat politik sekaligus ekonom dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Ma’ruf menuturkan peluang kemunculan kandidat capres lebih dari tiga calon atau bahkan hanya dua calon saja masih sangat terbuka lebar.
Ditanya mengenai kekuatan dari tiga calon yang sudah muncul, Dosen UMY ini menegaskan ada dua hal yang berperan penting dalam pemenangan Pemilu 2024 ini. Hal tersebut karena tiga kandidat capres ini merupakan kandidat yang sama sama kuat serta sama sama memiliki segmen massa tersendiri.
Mahruf menegaskan dua hal yang berperan penting dalam pemenangan Pemilu adalah sosok siapa Cawapres yang mendampingi Capres nanti serta kekuatan Presiden Jokowi dalam mengelola seni komunikasi politik.
BACA JUGA:
Golkar dan PAN Dukung Prabowo, Ganjar Teringat Kasus Jokowi 2014
“Jangan salah pemenangan 3 tokoh capres yang sudah muncul ini sangat ditentukan oleh komunikasi politik Jokowi. Meski dirinya sudah tidak bisa mencalonkan diri lagi namun presiden dalam hal ini ternyata bisa meyakinkan rakyat sang pemberi mandat suara proses pemilihan ini bisa berjalan optimal,” tegas Ma’ruf kepada beritajatim, Senin (14/8/2023).
Dirinya menegaskan saat ini yang harus dilakukan adalah komunikasi yang baik antar capres baik Ganjar, Prabowo dan Anies. Sedangkan Presiden Jokowi sebagai faktor penentu alias endors.
“Jokowi adalah orang yang paling berpengaruh dalam menentukan kemenangan capres. Dari situ Jokowi menjadi faktor penentunya suksesi di 2024. Besar harapan kami sebagai rakyat antar negarawan banyak komunikasi bersikap menyejukkan,” jelasnya.
Mahruf juga menyatakan PR besar dari parpol juga adalah bagaimana menggerakkan akar rumput supaya kesengsem dengan calon calon yang sudah ada.
Ditanya mengenai potensi pelaksanaan Pemilu apakah sekali atau dua putaran, Ma’ruf menegaskan jika koalisi 3 parpol mengusung 3 capres ini konsisten hingga nanti ke pendaftaran Pemilu 2024 maka diprediksikan akan diadakan Pemilu 2 putaran.
“Tetapi sekali lagi 3 kandidat Capres yang sudah muncul ini belum tentu langgeng sampai pendaftaran. Kalau nantinya hanya dua capres maka akan satu putaran,” tegasnya.
BACA JUGA:
Yenny Wahid Siap Dampingi Ganjar Kampanye di Jatim
Secara pribadi dirinya sebagai pengamat politik yang juga seorang ekonom, Ahmad Maruf menyatakan dirinya lebih berharap ke Pemilu satu kali putaran saja. Hal ini karena dari sisi ekonomi jelas terkait efisiensi anggaran dan biaya politik yang dapat ditekan.
Selanjutnya dari sisi sosial kemasyarakatan pemilu dua putaran membuat ketegangan di masyarakat terjadi lebih lama lagi.
“Ketegangan di masyarakat jangan terlalu lama, di lapisan bawah mulai anget soalnya. Tetapi saya apresiasi karena masyarakat tidak terbelah seperti Pemilu periode sebelumnya. Jadi peran negarawan, capres dan politisi sangat ditunggu untuk menyejukkan suasana,” bebernya.
Di bagian akhir Mahruf berharap Pemilu 2024 saat ini jangan sampai membuat aktivitas bisnis masyarakat terhenti, periuk nasi rakyat juga jangan sampai rusak
“Termasuk terus menciptakan suasana beragama yang saling toleransi. Jadi jangan sampai tahun politik membawa isu isu agama dan SARA,” tutupnya. [aje/beq]






