Yogyakarta (beritajatim.com) – Dinamika politik dalam sepekan terakhir ini sangat menarik. Terbaru deklarasi dukungan pada Prabowo Subianto dilakukan oleh 4 parpol sekaligus yakni Gerindra, PKB, PAN dan Golkar sungguh mengejutkan masyarakat.
Koalisi dan sinergitas antara partai yang identik dengan kelompok Nahdliyin ada di PKB dan parpol identik dengan Muhammadiyah ada di PAN membuat banyak mata tercengang. Akankah konstelasi politik yang selama ini telah diumumkan tetap langgeng hingga pendaftaran calon presiden (capres) untuk Pemilu 2024 nanti?
Pengamat Politik Ekonomi dan juga dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Ma’ruf menyatakan sangat tidak yakin jika konstelasi politik terbaru ini dapat langgeng hingga pendaftaran capres nanti.
“Dinamika politik seminggu terakhir ini menarik. Justru dinamika yang seperti ini yg ditunggu masyarakat. Prabowo mau didukung berapapun parpol ini sah sah saja dan lumrah muncul dalam politik. Sekarang ada 3 calon yakni Prabowo, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Ada juga yang ingin tambah 4 opsi capres. Semua sah. Namun yang menentukan yes or no ada di last minutes,” jelas Ma’ruf kepada beritajatim, Senin (14/8/2023).
Mahruf menegaskan dirinya pribadi sebenarnya sangat mendukung capres yang lebih dari dua kandidat seperti saat ini. Bisa lebih dari dua atau bahkan empat dan seterusnya.
BACA JUGA:
Golkar dan PAN Beri Kekuatan Baru pada Prabowo
Menurutnya memang sudah seharusnya demikian terjadi. Namun berapapun banyak parpol yang mendukung salah satu calon tertentu, saat ini pemegang kekuasaan dalam Pemilu 2024 adalah rakyat bukan partai.
“Parpol di sini hanya menyandang posisi pemberi tiket. Kemudian semakin banyak partai yang mengusung apakah pasti menang? Belum tentu karena sekali lagi pemegang suara dalam Pemilu 2024 adalah rakyat,” paparnya.
Dalam susunan koalisi parpol yang sudah berkembang untuk pencapresan diperoleh 3 koalisi besar yang mengusung 3 tokoh yakni Anies Baswedan diusung Nasdem, Demokrat dan PKS, selanjutnya Ganjar Pranowo diusung PDIP dan PPP serta partai gurem dan yang terbaru Prabowo Subianto didukung 4 parpol besar yakni Gerindra, PAN, PKB dan Golkar.
Mahruf menegaskan dari koalisi parpol ini potensi pecah kongsi masih sangat terbuka lebar. Saat ini imbuhnya partai partai terkesan masih labil sehingga perubahan perubahan masih akan sangat terjadi.
“Berbekal pengalaman sebelumnya PAN, Golkar dan PPP bikin tandatangan dan keputusan sama soal koalisi kemudian PPP memisah dan lari ke Ganjar Pranowo padahal deklarasi belum lama. Ini menandakan mereka masih labil. Paling tidak kita lihat perkembangan terbaru di Oktober atau November 2023 besok pasti akan ada banyak perubahan,” ujarnya.
Mahruf menegaskan perubahan peluang ini masing sangat terjadi saat muncul fase krusial yakni penentuan Cawapres.
“Cawapres ini bisa merubah konstelasi politik yang ada sekarang. Dari 3 calon ini saya pastikan akan mengumumkan Cawapres-nya di last minutes. Ini untuk apa? Ya untuk memastikan strategi pemenangan. Namanya strategi itu last minutes. Kalau strategi disampaikan di awal ya kebaca duluan dan susah,” bebernya.
BACA JUGA:
Golkar-PAN Gabung KKIR, Barak 08: Prabowo Menang Satu Putaran
Di sisi lain Andi Arief dari Demokrat selalu mengejar Anies Baswedan untuk segera memberi kepastian Cawapres, ini modus karena Demokrat punya kepentingan endorse sang Ketua Umum (Ketum) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi Cawapres Anies.
“Apakah dengan Anies segera menentukan AHY Cawapres kemudian elektabilitasnya kemudian menjadi tinggi? Itu sangat tidak pasti,” tegasnya.
Hal terpenting yang saat ini yang harus dilakukan adalah semua parpol dan tokoh Capres seharusnya berlomba lomba berkomunikasi politik yang baik ke semua parpol. Menurutnya politik adalah hal yang elegan, bisa diluncurkan dengan kekuasaan namun kekuasaan bisa diperoleh atas restu rakyat sang pemberi mandat.
Ia kemudian mengambil contoh kursi di DPR hanya sekadar hitungan tiket, namun siapa yang akan mendapatkan mandat dari rakyat ini dinamis di lapangan.
Mahruf kemudian menambahkan terkait analisa komunitas. Ia mencontohkan PKB yang identik dengan basis massa NU.
“Pertanyaannya apakah semua warga NU adalah PKB dan mereka semuanya akan memilih Prabowo? Jawabannya adalah tidak mungkin. Senada dengan PAN adalah representasi dari kader Muhammadiyah. Tetapi apakah semua Muhammadiyah adalah PAN? Jawabannya enggak banget,” tegasnya.
Mahruf kemudian meminta warga untuk tidak lupa jika PAN di berbagai lapisan memiliki rivalitas yakni Partai Ummat yang juga lolos seleksi. Partai Ummat ini merupakan bentuk riil terbelahnya kader PAN hingga di masyarakat bawah. [aje/beq]






