Surabaya (beritajatim.com) – Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Jawa Timur tahun 2022 mencapai 0,440. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 0,020 poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 0,460.
Hasil ini didasarkan pada data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim).
Kepala BPS Jatim, Zulkipli menyatakan bahwa penurunan IKG ini terutama dipengaruhi oleh perbaikan dalam dimensi kesehatan reproduksi dan pemberdayaan.
Dimensi kesehatan reproduksi mengalami peningkatan karena persentase wanita yang melahirkan di fasilitas kesehatan turun dari 11,7 persen pada tahun 2021 menjadi 9,9 persen pada tahun 2022.
Sementara itu, dimensi pemberdayaan mengalami peningkatan karena persentase perempuan usia 25 tahun ke atas yang memiliki pendidikan SMA ke atas mengalami kenaikan yang lebih signifikan dibandingkan laki-laki.
BACA JUGA: Komplek Bersejarah Inggrisan Banyuwangi Bakal Dipugar
Persentase perempuan meningkat dari 29,61 persen pada tahun 2021 menjadi 30,95 persen. Sedangkan persentase laki-laki menurun dari 36,65 persen menjadi 36,50 persen pada tahun 2022.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyambut baik pencapaian ini dan mengungkapkan rasa syukur.
“Alhamdulillah, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Jawa Timur mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” tulis Khofifah yang dikutip dari Instagramnya, Minggu (6/8/2023).
Khofifah menegaskan bahwa angka ini mencerminkan peningkatan kesetaraan antara pria dan wanita di Jawa Timur, yang mengindikasikan berkurangnya ketimpangan gender.
Ia juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama memanfaatkan situasi ini sebagai peluang untuk meraih kebaikan dan kemajuan.
“Mari kita jadikan posisi seperti ini sebagai pintu masuk untuk berlomba menuju kebaikan (fastabiqul khoirat),” tutup Khofifah. (nap)






