Gresik (beritajatim.com) – Sebanyak 5.100 bibit tanaman mangrove ditanam di Bantaran Kali Lamong, Desa Sukorejo, Kecamatan Kebomas, Gresik. Langkah ini diambil karena kawasan tersebut menjadi konservasi mangrove serta destinasi wisata baru.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, Sri Subaidah menuturkan, penanaman ribuan bibit mangrove itu memiliki banyak manfaat, termasuk diantaranya manfaat ekonomi bagi warga Desa Sukorejo.
“Kami berharap penanaman ini berkelanjutan. Pasalnya, 5.100 bibit mangrove yang ditanam hari ini dijaga perawatannya sehingga dapat memberikan manfaat, baik untuk lingkungan maupun perekonomian,” tuturnya, Sabtu (29/7/2023).
Ia menjelaskan, ribuan bibit mangrove yang ditanam bertepatan dengan Hari Mangrove Sedunia. Dimana, setiap daerah yang memiliki bantaran sungai maupun pantai melakukan kegiatan serupa.
BACA JUGA:
Sejarah Kebun Raya Mangrove Surabaya yang Baru Saja Diresmikan
Kepala Desa (Kades) Sukorejo, Fatkhur Rokhman mengatakan, wilayahnya juga dihuni warganya yang berprofesi sebagai nelayan. Keberadaan hutan mangrove sangat penting sebagai ekosistem serta tempat ikan mencari makan.
“Selain sebagai tempat mata pencarian nelayan. Adanya mangrove juga bisa dijadikan tempat wisata baru,” katanya.
Sementara itu, Senior Executive Vice President (SEVP) Operasi Petrokimia Gresik, I Ketut Rusnaya selaku supporting kegiatan penanaman bibit mangrove menyatakan program tersebut tertuang pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 120 Tahun 2020 yang memiliki target recovery hutan mangrove seluas 600 ribu hektar.
“Sebagai industri manufaktur dan salah satu roda penggerak perekonomian bangsa, Petrokimia Gresik sejak didirikan pada tahun 1972 hingga saat ini, selalu mengedepankan dan memperhatikan lingkungan pada operasional bisnis perusahaan. Salah satunya melalui kegiatan rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan di bantaran sungai maupun pantai-pantai yang ada di Gresik,” ujarnya.
BACA JUGA:
Resmikan Kebun Mangrove Surabaya, Megawati Ungkap Manfaatnya
Ia menambahkan, kali ini ada sebanyak 5.100 bibit mangrove yang ditanam. Jumlah ini selaras dengan usia Petrokimia Gresik yang berusia 51 tahun.
“Melalui program ini kawasan sempadan Kali Lamong sudah menjadi kawasan bebas sampah, area konservasi mangrove dan menjadi destinasi wisata baru,” imbuhnya.
Selain di Sukorejo lanjut Ketut, pihaknya juga memiliki program tanggungjawab sosial dan lingkungan (TJSL) di Pusat Restorasi dan Penanaman Mangrove (PRPM) Mengare di Desa Tanjungwidoro, Kecamatan Bungah.
PRPM Mengare tersebut merupakan program pemberdayaan masyarakat melalui konservasi ekosistem pesisir. Tujuannya untuk mengurangi laju abrasi, meningkatkan produktivitas perikanan dan terciptanya alternatif lapangan kerja dari ekowisata pesisir terpadu. [dny/beq]






