Ponorogo (beritajatim.com) – Berbagai strategi dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo untuk melestarikan kesenian Reog. Kaderisasi seniman Reog di Kabupaten diupayakan dilakukan sedini mungkin. Hal itu terlihat dari rencana Pemkab Ponorogo yang akan membuat reog wayang golek, dengan sasaran untuk anak-anak PAUD maupun TK.
“Untuk mengenalkan reog kepada anak-anak PAUD dan TK, kita lakukan terobosan dengan wayang golek 3,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, Senin (17/7/2023).
Dengan media wayang golek reog itu, pendalang sekaligus juga mendongeng dihadapan anak-anak PAUD dan TK tentang kesenian reog tersebut. Dengan begitu, mereka sejak kecil sudah mengenali dan memperhatikan reog.
Strategi-strategi kaderisasi seniman reog lainnya yakni dengan mengembangkan festival reog mini yang sudah terselenggara puluhan tahun dengang memecah festival menjadi dua. Yakni dipecah ke Festival Reog Remaja (FRR) untuk kategori usia SMP yang sudah dilakukan pada tahun ini.
Kemudian, ke depan akan ada Festival Reog Anak (FRA). Festival Reog Anak ini peserta anak-anak usia sekolah dasar (SD). Dimana event ini akan dilaksanakan jelang peringatan hari anak nasional.
BACA JUGA:
Festival Reog Ponorogo Pantas Naik Kelas Jadi Internasional
“InsyaAllah Festival Reog Anak ini akan dilaksanakan pada tahun depan. Sebab, jika nekat digelar saat ini, takutnya persiapannya yang mepet dan tidak akan maksimal,” katanya.
Kemudian strategi yang sudah dijalankan sejak lama, yakni pengadaan Festival Nasional Reog Ponorogo dan pentas reog bulan purnama. Festival Nasional Reog Nasional yang bisa diikuti oleh seluruh grup reog di Indonesia saat Grebeg Suro. Dimana, tahun ini sudah ke – 28 kalinya.
“Yang rutin setiap sebulan sekali ya pentas reog bulan purnama. Yakni pementasan reog saat malam bulan purnama di Panggung Utama Alun-alun Ponorogo,” ungkap Juda.
Banyaknya kegiatan pementasan Reog ini, diharapkan bisa untuk melakukan kaderisasi seniman Reog di Ponorogo. Pelestarian budaya adi luhung dari nenek moyang ini, bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja, namun masyarakat juga mempunyai tanggungjawab yang sama untuk melestarikannya.
Nampaknya itu juga sudah dilakukan oleh masyarakat Ponorogo. Yakni pementasan Reog digunakan sebagai hiburan di acara pernikahan, khitanan maupun kegiatan syukuran lainnya. Kemudian hampir tiap desa, sekolah maupun perguruan tinggi di Ponorogo mempunyai grup reognya.
BACA JUGA:
Tiket Online Festival Nasional Reog Ponorogo Laris Manis
Selain itu, yang tidak kalah penting, kaderisasi yang dilakukan masyarakat yakni dengan munculnya banyak sanggar tari di Ponorogo. Lewat sanggar tari itulah, anak-anak diajari tari reog. Tidak hanya diajari menari, namun juga diajari sebagi pemain musiknya.
“Tanggungjawab pelestarian Reog ini bukan hanya di Pemerintah saja, namun masyarakat juga harus ikut andil untuk melestarikannya juga,” pungkasnya.
Segala upaya atau strategi pelestarian seni budaya Reog Ponorogo itu, insyallah terbayar manis, dengan pengakuan dunia. Ya, tahun 2024 nanti, Reog akan disidangkan untuk menjadi Intangible Cultural Heritage (ICH) United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau warisan budaya tak benda oleh UNESCO. [end/beq]






