Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 70 warga gotong royong memadamkan api yang membakar sebuah rumah di Desa Ngadirenggo Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Puluhan warga itu memadamkan api secara manual dengan menggunakan ember dan selang.
Langkah itu diambil warga setelah melihat rumah Suharto (56) yang ada di Desa Ngadirenggo Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar terbakar hebat. Tanpa berpikir panjang masyarakat sekitar pun langsung bergotong royong memadamkan api dengan alat seadanya.
Masyarakat juga berfikir jika menunggu pemadam kebakaran tiba maka rumah Suharto pasti sudah rata dengan tanah. Pasalnya lokasi rumah yang terbakar dengan Kantor Pemadam Kebakaran Kabupaten Blitar berjarak 60 kilometer.
Petugas pemadam kebakaran pun memerlukan waktu 1,5 jam untuk sampai di lokasi. Hal itulah yang menjadi pertimbangan warga untuk gotong royong memadamkan api yang telah membumbung tinggi.
“Setibanya di lokasi Api sudah padam karena kegotong royongan warga sekitar, kurang lebih 70 orang membantu pemadaman dengan menggunakan alat seadanya seperti ember dan slang terdekat,” Kata Teddy Prasojo, Kepala Seksi Pemadam Kebakaran, Satpol PP Kabupaten Blitar, Selasa (27/06/23).
Baca Juga: Kebakaran Kampung Coklat Blitar Diduga dari Korsleting Pemasak Elektrik
Kebakaran tersebut terjadi saat sang pemilik rumah Suharto sedang berada di kantor desa. Suharto yang bekerja sebagai perangkat desa itu tidak mengetahui jika rumahnya terbakar.
Pria berusia 56 tahun itu baru tahu rumahnya terbakar saat warga berjibaku memadamkan api yang melahap bagian atap bangunan. Kebakaran itu memang pertama kali diketahui oleh Muji warga Desa Ngadirenggo Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar yang hendak berangkat ke sawah.
Melihat kobaran api di rumah tetangganya Muji langsung meminta tolong warga yang lain untuk bergotong royong memadamkan api. Warga sekitar pun membagi tugas sebagian dari mereka memadamkan api dengan ember dan selang air, sementara lainnya diminta untuk menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Atas kerjasama itu api yang membakar rumah Suharto akhirnya bisa dipadamkan oleh warga tanpa harus menunggu pemadam kebakaran yang tiba 1 jam 20 menit setelahnya.
“Kami tiba di lokasi sudah padam dan kami lakukan pembahasan untuk memastikan bahwa api sudah benar-benar padam dan tidak menyala lagi,” tegas Teddy.
Akibat kebakaran ini jumlah peralatan rumah tangga milik Suharto hangus. Bagian atap rumah perangkat desa itu juga hangus terbakar si jago merah. Kerugian akibat kebakaran itupun ditaksir mencapai 25 juta rupiah.
“Kerugian diperkirakan cabai 25 Juta Rupiah untuk penyebabnya diduga karena korsleting listrik,” tandasnya.
Pemadam kebakaran kabupaten Blitar sendiri hanya memiliki 2 mobil damkar. Jumlah mobil damkar itu dirasa tidak mencukupi untuk menjangkau 22 Kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Blitar.
Hal itupun sebetulnya sudah menjadi perhatian serius sejumlah pihak mulai dari masyarakat hingga DPRD Kabupaten Blitar. Pemkab Blitar pun diminta untuk melakukan penambahan jumlah armada pemadam kebakaran demi memastikan pelayanan terhadap masyarakat bisa maksimal. (owi/ted)






