Magetan (beritajatim.com) – Heriyanto tak menyangka jika sapi milik tetangga yang dirawatnya bakal kena penyakit mulut dan kuku (PMK). Bahkan, ada tujuh sapi yang terpaksa dijual. Masing-masing sapi itu berbobot lebih dari 700 kilogram. Namun, hanya laku di bawah Rp70 jutaan. Kerugiannya mencapai lebih dari Rp200 juta. Pria warga Desa Janggan, Poncol, Magetan, Jawa Timur itu menceritakan bahwa si pemilik sapi terpaksa menjual sapi yang sakit karena tidak tega dan takut jika sapi mati justru lebih merugi.
Dia menceritakan jika ciri-ciri sapi yang sakit yakni mulutnya berair liur banyak, ada luka di kuku dan bahkan kuku juga lepas. Sehingga, kaki sapi berdarah, sapi pun tak bisa berdiri karena kesakitan. Karena saat ini, dirinya dan pemilik sapi hanya bisa mengusahakan sendiri pengobatan untuk sapi. Dia mengaku tak ada petugas dinas peternakan dan perikanan Magetan.
“Sejak dua minggu mengurus sapi sakit, tidak ada penanganan dari dinas. Sudah lapor ke kantor desa tapi ya responnya tidak cepat. Akhirnya, pemilik sapi yang saya rawat terpaksa jual sapi yang sakit ke jagal untuk dipotong paksa,” kata Heri pada beritajatim.com, Jumat (10/6/2022).
Dia menyebut kalau total kerugiannya lebih dari Rp200 juta. Padahal, tiap sapi berbobot hampir satu ton yang nilainya hampir Rp100 juta. Sehingga, dia pun memilih untuk membeli sendiri obat-obatan yang dijual di platform online. Dia menyebut ramuan tradisional yang disosialisasikan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan tidak mempan. Campuran herbal tradisional dan gula aren tidak mengurangi gejala penyakit mulut dan kuku.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk-jatim”]
“Gula aren sudah habis 10 karung. Empon-empon (ramuan herbal) juga sudah habis banyak tidak ada yang bisa mengurangi gejala. Akhirnya kami beli obat di toko online. Kami suntikkan sendiri. Untuk kuku, kami berikan semprotan atiseptic. Pakai formalin saja tidak cukup karena tak menjangkau bagian dalam kuku,” kata Heri.
Pria yang sudah lebih dari tiga tahun merawat sapi-sapi besar itu sempat bertanya pada petugas dinas peternakan dan perikanan yang mengadakan sosialisasi di kantor Desa Janggan beberapa hari lalu. Dia bertanya terkait obat, antibiotik, dan vitamin apa yang digunakan, namun dia mengaku kalau tidak mendapatkan jawaban.
“Kami mau berusaha bagimana lagi, hanya bisa berusaha mandiri. Kalau mengandalkan dinas, meski pengobatannya gratis, tapi praktiknya di lapangan nol besar. Kami sempat telfon call center tapi tidak diangkat. Dari situ bisa disimpulkan, seperti apa kinerja pemerintah,” katanya. [fiq/but]






