Pamekasan (beritajatim.com) – Sebanyak 350 personil Korp Sukarelawan (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Pamekasan, terlibat dalam sosialisasi pentingnya pencegahan dan penanganan HIV AIDS di area Monumen Arek Lancor, Pamekasan, Minggu (3/12/2023).
Jumlah tersebut meliputi personil dari KSR Unit Markas, KSR Unit Perguruan Tinggi, serta personil dari Palang Merah Remaja (PMR) se Pamekasan, mulai dari tingkat Wira hingga Madya.
Sosialisasi tersebut digelar dalam rangka bersamaan dengan momentum memperingati Hari HIV AIDS se Dunia, yang biasa dilaksanakan setiap 1 Desember.
“Sosialisasi ini bertujuan untuk menyebarkan informasi akan pentingnya upaya pencegahan, serta penanganan virus HIV AIDS,” kata salah satu personil KSR Unit Markas PMI Pamekasan, Ika tri Yulianingsih.
Baca Juga: KSR PMI Pamekasan Sosialisasikan Pentingnya Penanganan dan Pencegahan HIV AIDS
Dalam kesempatan tersebut, jajaran pengurus PMI Pamekasan hingga jajaran KSR Unit Markas maupun KSR Unit Perguruan Tinggi, ikut serta bergabung dan bersama melakukan sosialisasi pentingnya pencegahan dan penanganan HIV AIDS.
Termasuk juga perwakilan PMR se Pamekasan, mulai tingkat Wira (SMA dan sederajat) hingga tingkat Madya (SMP dan sederajat). “Sekitar 350 relawan terlihat dalam kegiatan sosialisasi ini,” ungkapnya.
“Mereka terdiri dari jajaran pengurus inti PMI Pamekasan, kepala markas, kepengurusan KSR PMI Pamekasan, perwakilan PMR Wira dan Madya se Pamekasan, serta sejumlah komunitas masyarakat lainnya,” imbuhnya.
Lebih lanjut dijelaskan, sosialisasi tersebut merupakan program rutin dilaksanakan setiap tahun oleh pengurus KSR maupun PMR di lingkungan PMI Pamekasan.
Baca Juga: Moh Khairul Umam Pimpin AJP Periode 2023-2025
“Jadi penekanan dari sosialisasi ini sebagai upaya dan respon akan pentingnya pencegahan dan penanganan HIV AIDS, apalagi di sekitar kita masih ada yang perlu mendapat perawatan,” jelasnya.
Peringatan HIV AIDS 2023 mengusung tema ‘Let Communities Lead!’ menandakan pentingnya komunitas dalam membentuk respon terhadap HIV AIDS. “Selama ini, HIV AIDS seringkali dianggap sebagai penyakit kutukan yang justru berdampak kurang baik bagi para penderita,” jelasnya.
“Dari itu kami berharap semoga masyarakat Pamekasan, bisa memahami betul bagaimana tata kelola dan tata cara penanganan HIV AIDS sebaik mungkin, dan tentunya dengan cara humanis,” pungkasnya. [pin/ted]






