Mojokerto (beritajatim.com) – Di usia senja, tak menyurutkan Widji Kulsum (72) untuk khatam Al’Quran. Bahkan warga Dusun Mojogeneng RT 014 RW 003, Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto dengan delapan anak, 13 cucu dan sembilan cicit ini khatam Al-Qur’an tanpa melihat (bil Ghoib).
Selama 11 tahun, buyut kelahiran Mojokerto, 7 Agustus 1950 ini menuntaskan hafalan Al-Qur’an Di Pondok Pesantren (Ponpes) Bidayatul Hidayah, Asrama Ar Ruhamaiyah yang ada di desanya. Dalam minggu ini, Widji yang dibina Alfiatunnisak (42) bersama 330 penghafal Al-Qur’an lainnya akan di wisuda.
“Sebelumnya hafalan Al-Qur’an binnadhor (dengan melihat, red) dibimbing Neng Alfi (Alfiatunnisak) sekitar tahun 2013. Namun tidak berjalan mulus karena saya sakit mulai dari penyakit anyang-anyangan, darah tinggi, sampai ditabrak orang saat berangkat setor hafalan,” ceritanya, Rabu (16/2/2022).
Motivasi awal Mbah Widji menghafal Al-Qur’an sendiri adalah ketika mendapatkan undangan wisuda anaknya yang menjadi seorang hafiz. Ia mengaku terenyuh melihat anaknya kala itu sehingga membuat tekad kuat dan iktikad keras untuk mampu menjadi Hafizah (Perempuan penghafal Al-Qur’an, red).
“Kunci suksesnya ada 2 yakni konsisten dan sabar. Suami saya juga mendukung, dia menyimak setiap saya mau setor hafalan. Selama 11 tahun lamanya saya berjuang mengkhatamkan Al-Qur’an. Setiap pukul 5 pagi, saya setor hafalan kepada Neng Alfi kecuali berhalangan seperti penyakit saya kambuh,” kata istri dari Muhammad Arfan ini.
Pembina Tahfidz Ponpes Bidayatul Hidayah, Asrama Arrukhamaiyah, Alfiatunnisak (42) membenarkan Mbah Widji telah khatam 30 juz Al-Qur’an bil ghoib. “Benar beliau saya bimbing. Setiap jam 5 habis shubuh beliau ke sini untuk setor hafalan. Yang menjadi kendala sebenarnya lansia itu kadang sakit,” tuturnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”mojokerto”]
Neng Alfi (sapaan akrab, red) menjelaskan, satu minggu tidak setor, ternyata satu bulan sedang sakit. Selama ini, Mbah Widji menggunakan metode binnadhor yakni membaca di depan guru. Sedangkan metode bil ghoib itu menambah sendiri di rumah, kemudian disetor.
“Mbah Widji itu hafalan ke saya binnadhor kurang lebih 2 tahun. Kalau bil ghoib ini 9 tahunan. Masih setor Mbah Widji sampai sekarang untuk murajaah. Tidak hanya Mbah Widji saja, terdapat 3 lansia yang juga menghafalkan Al-Qur’an yang nantinya akan di wisuda bersama,” ujarnya.
Dihubungi terpisah, Pengasuh Asrama Ar Ruhamaiyah, Kiai Nur Khasan mengatakan kebenaran mengenai sosok Mbah Widji Kulsum mengikuti program tahfiz di tempatnya. “Iya benar Mbah Widji itu yang paling tua. Ada beberapa tapi saya tidak ingat betul,” tegasnya. [tin/but]






