Teknologi

Siswa Banyuwangi Patungan Beli Internet Buat Belajar

Banyuwangi (beritajatim.com) – Kepedulian siswa Banyuwangi tak perlu diragukan. Meski di tengah pandemi, mereka tetap peduli terhadap kondisi untuk terus belajar.

Saat ini, belajar dengan sistem tatap muka memang masih belum berjalan. Tapi, siswa tetap belajar dengan via daring.

Dari semua siswa memang tak sedikit yang kesulitan. Terutama dalam menjangkau untuk ketersediaan internet di rumah.

Kondisi itu diantisipasi dengan program ‘Siswa Asuh Sebaya’. Salah satu program untuk membangun solidaritas antar pelajar di Banyuwangi. Program ini salah satu alternatif untuk menjalankan roda belajar agar tetap berjalan di tengah pandemi Covid 19 ini.

Tahun ini, gerakan tersebut kembali menyalurkan bantuan senilai Rp 370 juta untuk 1.300 pelajar dari 33 SD dan 9 SMP guna menopang pendidikan mereka. Bantuan tersebut ada yang berupa beasiswa, alat dan modul pembelajaran, handphone, dan pulsa internet.

Bantuan SAS ini, diberikan ke siswa yang membutuhkan tanpa prosedur yang berbelit. Siswa yang mampu menyisihkan uang jajannya, dikumpulkan bersama, lalu diberikan kepada temannya yang butuh.

”Ada yang menyumbang Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, semua sukarela. Ini cara kami untuk membangun kepedulian dan empati antar siswa. Sebagai modal sosial di antara generasi muda di Banyuwangi. Program ini juga memberikan penanaman pendidikan karakter sejak dini bagi anak,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Selasa (29/9/2020).

Khusus di masa pandemi ini, lanjut Anas, bantuan tetap diberikan kepada siswa yang membutuhkan. Karena, meski tidak sekolah, siswa tetap melaksanakan pembelajaran walaupun secara daring.

“Seperti saat ini, ada siswa yang kesulitan membeli kuota internet, atau tidak memiliki handphone untuk pembelajaran online, dibelikan dari dana ini agar kegiatan belajar mereka berjalan lancar,” kata Anas.

Program ini tak melulu bertumpu pada nilai besaran iuran yang terkumpul. Tapi, membentuk moral dan kepedulian siswa itu yang paling penting.

“Sebenarnya bukan pada nilainya, yang terpenting justru bagaimana kita menumbuhkan rasa peduli sesama sejak usia pelajar. Sehingga, kita semua berharap, para pelajar kelak menjadi generasi yang welas asih, suka menolong, sehingga masyarakat kita menjadi semakin guyub,” terang Bupati Anas.

Sepuluh tahun berjalan, program ini diikuti oleh seluruh sekolah di Banyuwangi mulai tingkat SD, SMP sampai SMA dengan jumlah 911 sekolah. Sasaran penerimanya juga melebar.

“Bukan hanya teman satu sekolah, namun sekarang menyasar siswa sekolah lain yang membutuhkan,” katanya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno menambahkan, Gerakan SAS menjadi pelengkap program intervensi kebijakan pendidikan pemkab lainnya.

”Jadi semua saling menopang. Pemkab Banyuwangi memiliki program bantuan uang saku dan transportasi untuk pelajar, tabungan pelajar kurang mampu, beasiswa kuliah Banyuwangi Cerdas, hingga pengangkatan anak putus sekolah,” ujar Suratno.

Berkat SAS, kata Suratno, mampu mengurangi angka anak putus sekolah.

“Berkat program-program yang kita geber, angka putus sekolah di Banyuwangi dari tahun ke tahun terus menurun,” pungkasnya.

Siswa Asuh sebaya (SAS) sendiri merupakan gerakan membangun kepedulian antar pelajar di Banyuwangi. Pengelolaannya dilakukan dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa di sekolah tersebut. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2011, hingga saat ini telah menyalurkan dana hingga Rp19,1 miliar untuk membantu pendidikan ribuan anak di Bumi Blambangan. (rin/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar