Jakarta (beritajatim.com) – KPU (Komisi Pemilihan Umum), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), berkoordinasi dan memperkuat kerja sama agar masalah serangan siber dapat segera ditanggulangi guna memastikan Pemilu 2024 berjalan baik.
Sebab, Tim Pemenangan Nasional (TPN) Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Nomor Urut 3, Ganjar-Mahfud mengaku sudah mengamati kebocoran dan jual beli data pribadi 200 juta warga Indonesia. TPN Ganjar-Mahfud yang diwakili Deputi Politik Andi Widjajanto, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa dan mantan Wakapolri Komjen (Purn) Gatot Eddy Pramono, meminta KPU, Kominfo dan BSSN berkoordinasi menyelesaikan masalah ini.
“Kombinasi antara KPU, Kominfo dan BSSN kami tekankan untuk betul-betul diperkuat agar kasus-kasus peretasan seperti ini bisa segera ditanggulangi dan dipastikan dicegah untuk memastikan pemilu berjalan dengan baik” ujar Andi Widjajanto di Jakarta, Rabu (29/11/2023).
Sementara itu di tempat yang sama, Wakil Ketua TPN Ganjar-Mahfud, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa menduga bahwa cyber security breach ini sudah terjadi dan mempertanyakan bagaimana troubleshooting dari KPU.
BACA JUGA: Netralitas Pemilu Butuh Peran Masyarakat Sipil Awasi Bawaslu dan KPU
“Harus dijelaskan secara detail langkah-langkah sehingga data yang sudah terambil ini tidak bisa digunakan untuk misalnya mengintervensi apapun keputusan KPU, khususnya yang berhubungan dengan digital karena ini sudah jelas berada di tangan orang yang tidak berhak, sehingga kami harus mendapatkan keyakinan dari KPU untuk bisa menjelaskan apa troubleshooting yang dilakukan sehingga kami yakin apapun yang sudah dilakukan orang yang tidak berhak ini tidak mungkin bisa mengganggu hasil pemilihan nanti,” ujar Andika.
Menanggapi hal ini, mantan Wakapolri Komjen (Purn) Gatot Eddy Pramono kembali menekankan bahwa KPU, BSSN dan Kominfo bersama kepolisian dapat mengusut kasus ini dengan tuntas.
BACA JUGA: Maba Sistekin Untag Surabaya Fokus Bidang Keamanan Cyber
“Tentunya peristiwa ini merupakan pembelajaran bagi kita semua, yang mana kerja sama dan koordinasi di antara kita semua terkait kementerian lembaga agar peristiwa ini tidak terjadi lagi ke depannya,” imbuh Gatot.
Seperti diberitakan, KPU kembali menjadi target serangan siber. Pelaku dengan akun anonim bernama Jimbo setidaknya menjual lebih dari 200 juta data DPT seharga US$74 ribu atau sekitar Rp 1,2 miliar. Peretasan ini dilaporkan oleh Lembaga Riset Cyber Indonesia CISSREC. [hen/suf]






