Surabaya (beritajatim.com) – Sebagian orang menganggap halusinasi sebagai bentuk berandai-andai atau membayangkan menjadi sesuatu. Padahal, halusinasi merupakan gangguan persepsi yang dapat mempengaruhi panca indera.
Sehingga seseorang mungkin bisa merasakan, mencium, mendengar, atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Tak ayal, jika orang yang mengalami halusinasi bersikeras menganggap hal tersebut sebagai hal yang nyata.
Halusinasi sebenarnya bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari pengaruh gangguan mental, mengonsumsi obat-obatan tertentu, hingga menderita sebuah penyakit seperti stroke, epilepsi, gagal ginjal, atau kanker otak.
Semua hal yang telah disebutkan tersebut memang dapat mengganggu fungsi otak, sehingga tak heran jika kemudian seseorang menjadi lebih mudah mengalami halusinasi.
Jadi, jika ingin mengetahui secara pasti penyebab halusinasi, sebaiknya periksakan pada ahlinya, agar dapat dilakukan serangkaian pemeriksaan. Biasanya, pemeriksaan tersebut berupa wawancara kronologis keluhan, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan darah atau urine, hingga MRI jika diperlukan.
Karena halusinasi ini mempengaruhi panca indera, tak ayal jika halusinasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya;
Halusinasi audio
Seseorang dengan halusinasi pendengaran atau audio, cenderung mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada. Misalnya mendengar sebuah percakapan, orang bersenandung, langkah kaki, memanggil namanya, atau bahkan seperti bisikan yang menyuruh untuk melakukan sesuatu.
[berita-terkait number=”3″ tag=”stress”]
Halusinasi visual
Halusinasi visual identik dengan penglihatan. Tak aya, jika orang yang mengalami hal ini cenderung seperti melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Objek tersebut bisa berupa benda, warna, atau bahkan manusia yang mungkin tampak melihat ke arahnya.
Halusinasi penciuman
Orang yang mengalami halusinasi penciuman kerap kali mencium bau-bauan tertentu, mulai dari yang wangi, busuk, atau hal lain yang sebenarnya tidak ada.
Halusinasi pengecapan
Seseorang dengan halusinasi pengecapan bisa jadi merasakan rasa makanan yang sebenarnya tidak ada. Misalnya, mengonsumsi es krim coklat yang cenderung memiliki rasa manis, justru seolah terasa sedikit asin atau bahkan pedas.
Halusinasi sentuhan
Jenis yang satu ini mungkin merasakan adanya sentuhan fisik, seperti terasa ditepuk bahunya, kulit terasa terbakar, atau sejenisnya. Padahal sebenarnya tidak ada yang menyentuh atau membakar kulitnya. (fyi/ian)






