Iklan Banner Sukun
Sorotan

Yahya Cholil Staquf

KH Yahya Cholil Staquf (tengah baju putih) bersama pengurus PWI Jatim

Pertemuan dan sharing itu tak berlangsung lama. Tak lebih dari 30 menit. Berlangsung di sebuah tempat di Kota Surabaya. KH Yahya Cholil Staquf mengungkapkan sejumlah rancangan program ke depan jika diberi amanat sebagai ketua umum PBNU.

Memiliki cabang di lebih 500 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, bagi Gus Yahya Staquf, NU memiliki kekuatan luar biasa. Bisa diposisikan sebagaimana “Posyandu”: tempat memberikan layanan sosial dan literasi kepada masyarakat tentang berbagai persoalan kehidupan, khususnya di sektor kesehatan.

Tak menutup peluang NU bisa memerankan diri sebagai marketplace: tempat untuk memasarkan ide dan pemikiran cemerlang demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara di masa depan. “Posyandu itu kan memberikan layanan luar biasa kepada rakyat di akar bawah,” kata Gus Yahya, panggilan akrab KH Yahya Cholil Staquf.


Lahir dan besar di lingkungan keluarga besar NU, putra KH Cholil Bisri (almarhum), kelihatannya Gus Yahya memang dipersiapkan sebagai pemimpin NU di masa depan. Sebelum menjabat Katib Aam PBNU, Gus Yahya pernah dididik dan dikader langsung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pria kelahiran Kabupaten Rembang, Jateng pada 16 Februari 1966 ini pernah dipercaya sebagai salah satu juru bicara (Jubir) Presiden Gus Dur (1999-2001).

“Dzuriyahnya sangat kuat di keluarga besar NU. Kakeknya KH Bisri Mustofa adalah ulama besar di NU. Termasuk ayahandanya, KH Cholil Bisri. Pamannya, KH Mustofa Bisri, juga kiai dan tokoh NU serta budayawan yang pengaruhnya luas di kalangan warga Nahdliyyin,” kata Arif Afandi, aktivis dan profesional NU yang bertempat tinggal di Kota Surabaya.

Latar pendidikan Gus Yahya relatif lengkap. Selain kuliah di Fisipol UGM Yogyakarta, Gus Yahya pernah nyantri di Pondok Pesantren Al Munawir Krapyak Yogyakarta di bawah asuah KH Ali Maksum: seorang ulama NU yang pengaruhnya kuat di masa ormas Islam Tradisional ini menghadapi transformasi besar di pertengahan tahun 1980-an.

Kiai Ali Maksum bersama KH Masjkur (Jakarta), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), dan KH Machrus Aly (Lirboyo Kediri), yang meminta KH Idham Chalid mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua umum PBNU.

Langkah ini yang mengakibatkan munculnya Poros Cipete (kubu KH Idham Chalid) dan Poros Situbondo dengan tokoh sentral KH As’ad Syamsul Arifin. Kiai Ali yang asli Lasem, Kabupaten Rembang dan menjadi menantu pemangku Pondok Krapyak ini, dikenal memiliki keilmuan agama yang tinggi.

Kiai Ali juga menjadi guru dan pelindung kepemimpinan Gus Dur, ketika cucu KH Hasyim Asy’ari menjabat ketua umum PBNU. Pondok Al Munawir Krapyak Yogyakarta menjadi tuan rumah muktamar ke-28 NU tahun 1989 dan Gus Dur terpilih kembali kali kedua sebagai ketua umum PBNU.

Peran penting bersifat strategis yang diharapkan dari Gus Yahya jika terpilih sebagai Ketua Umum PBNU adalah tak sekadar di ranah domestik, tapi yang tak kalah penting adalah bagaimana pengaruh NU di level internasional. Bagaimana elite dan tokoh struktural PBNU mempromosikan nilai-nilai Islam moderat dan Rahmatan Lil Aalamin di ranah global.

Modal kapasitas personal dan networking internasional telah dibangun Gus Yahya jauh-jauh hari. Dia kerap menjadi pembicara internasional di luar negeri. Seperti pada Juni 2018, Gus Yahya menjadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel.

Dia menyuarakan konsep rahmat sebagai solusi bagi konflik dunia, termasuk konflik yang disebabkan agama. Tentu langkahnya menimbulkan pro dan kontra. Gus Yahya mampu menyikapi perbedaan tersebut secara dewasa, logis, tenang, terkendali, dan lapang dada.

Jalan dan jalur dialog, diplomasi, dan menghindarkan kekerasan jauh lebih elegan, beradab, dan terhormat dalam penyelesaian banyak persoalan internasional. Termasuk konflik yang berdimensi agama. Gus Yahya memiliki networking relatif kuat di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan banyak negara lainnya.

“Gus Yahya paham bagaimana meredam Arab Saudi dalam kaitan penyebaran aliran keagamaan. Dia tak langsung berkomunikasi dengan tokoh dan elite Saudi. Justru tokoh dan elite Amerika Serikat yang didekati, karena dia paham bagaimana rekat dan dekatnya relasi Amerika Serikat dengan Arab Saudi,” jelas Arif Afandi.

Arab Saudi bisa dikatakan sebagai pemimpin negara-negara Islam berpaham Sunni. Negara di kawasan Timur Tengah yang mensintesakan paham keagamaan Islam (Wahabi) dengan praksis politik kekuasaan negara tersebut sejak lama menjadi kekuatan yang disegani negara-negara Islam lain di Timur Tengah, Afrika Utara, dan banyak belahan dunia lain.

Dengan peta histori Arab Saudi dalam relasinya dengan lahir dan perkembangan Islam, kemudian konteks ekonomi praktis Saudi yang kuat dan mapan yang ditopang penerimaan tinggi dari sektor hulu migas (memproduksi minyak mentah sekitar 10 juta barel per hari), dan banyak perspektif lain, realitas tersebut menempatkan Arab Saudi menjadi kekuatan penting bersifat strategis bagi negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat.

Di sisi lain, Iran sejak revolusi Februari 1979 yang menjungkirkan rezim sekuler otoritarian dan despotik di bawah kepemimpinan Shah Iran Reza Pahlevi yang disokong Amerika Serikat dan negara-negara Barat lain serta berpaham Syiah, menempatkan Saudi dan Iran dalam fragmentasi politik yang akut dan lama.

Saudi berpaham Sunni, Iran beraliran Syiah. Saudi pro Amerika Serikat dan Barat, Iran menempatkan Amerika Serikat sebagai musuh politik di banyak kepentingan internasional negeri para mullah tersebut.

Implementasi beragama Islam di Indonesia, yang mayoritas berpaham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang selalu inheren dengan NU, memiliki sikap moderasi yang tinggi dalam kehidupan agama, kontekstual dengan nilai-nilai historis dan kultural lokal, dan lainnya menjadikan NU sebagai model yang layak dipelajari dan diaplikasikan di tempat-tempat lain di dunia.

Dalam konteks ini, Gus Yahya ingin menapaktilasi dan melanjutkan spirit perjuangan Gus Dur dalam menginternasionalkan dan mengglobalkan nilai-nilai beragama Islam yang dianut NU dan warganya.

Apalagi di era sekarang, di mana banyak ideologi dan aliran keagamaan dalam Islam bermunculan dengan berbagai watak dan karakternya masing-masing yang cenderung puritan dan tekstual. Bahkan, populisme Islam telah muncul di Turki, Mesir, Indonesia, dan banyak negara lainnya.

Terlepas dari hasil keputusan muktamar NU di Lampung pada 23-25 Desember 2021 mendatang, Gus Yahya telah mengantongi dukungan dari dua wilayah penting dalam perjalanan sejarah NU: Jatim dan Jateng. Dua provinsi yang dipandang memiliki relasi historis, kultural, sosiologis, dan teologis yang sangat kuat dengan NU.

Artinya, pada umumnya figur calon ketua umum dan rais aam PBNU yang disokong kedua wilayah itu, maka besar kemungkinan figur tersebut bakal terpilih. “Saya terus bersilaturahmi dengan semua pemangku kepentingan NU, khususnya para kiai,” tegas Gus Yahya. [air/suf]

Penulis adalah penanggung jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim


Apa Reaksi Anda?

Komentar