Sorotan

Catatan Perjalanan dari Taiwan (3)

Wisata Negeri Taiwan yang Cukup Menggoda: Taitung

Ada banyak alasan datang ke kota Taipei, negeri Taiwan. Bisa urusan dagang, urusan keluarga, urusan kerja, dan urusan wisata. Nah jika waktu mencukupi, untuk menghilangkan penat oleh Taipei yang padat, Taitung bisa jadi pilihan tepat.

Taitung adalah sebuah kabupaten di Taiwan yang berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa. Wilayah perbukitan sejuk berpadu debur ombak Samudera Pasifik ini bisa ditempuh dengan perjalanan darat dan udara. Perjalanan darat memakan waktu sekitar 5 jam. Sedangkan naik pesawat cukup 1 jam.

Dalam beberapa tahun terakhir, Taitung cukup serius mengembangkan sektor wisata. Mereka berusaha memberi pengalaman spesial bagi wisatawan. Bukan sekadar hiburan, sesuatu yang lebih berkesan. yakni wisata juga sekaligus edukasi (pendidikan) dan petualangan.

Untuk itu, datanglah ke Taitung yang wilayah Chu Lu. Wilayah sangat sejuk. Hijau di mana-mana. Tanaman pisang, sirkaya, kelapa, jagung, dan teh. Rumput-rumput bertebaran di antara tanaman.

Berbeda dengan daerah pertanian pada umumnya, Chu Lu Taitung terlihat rapi, tertata, dan bersih. Kondisi yang mencerminkan budaya orang Taiwan yang menyukai hidup bersih dan disiplin.

“Kita ajak wisatawan untuk memetik pucuk daun teh. Mengolahnya menjadi minuman segar,” ujar Tom Hsao, ketua Asosiasi Petani Teh di Chu Lu.

Benar saja. Begitu wisatawan datang, mereka secara akrab diberi pakaian pekera petik teh. Berupa topi lebar, kain kaos penutup lengan tangan, dan keranjang bambu yang terikat di pinggang sisi kanan. Wisatawan pun disulap jadi pemetik daun teh.

Lalu petualangan dimulai. Wisatawan diajak terjun ke kebun teh.

Di bawah terik sinar matahari, wisatawan berjalan menyusuri sela-sela tanaman. “Ayo berjalan cepat, petik daun teh yang masih muda. Petik sebanyak-banyaknya,” begitu seru petani yang jadi pemandu wisata.

Tentu bukan seruan galak. Sebab orang Taiwan terkenal sopan, sangat menghormati orang lain. Pemandu tetap memberi kesempatan wisatawan untuk berfoto diri (selfie). Dan memang, pemandangan kebun teh di Chu Lu menggoda untuk tidak mungkin begitu saja dilewatkan tanpa foto-foto.

Hamparan tanaman teh yang luas. Di kejauhan, bukit yang subur berpadu dengan kecerahan langit. Apalagi, wisatawan sedang tecerabut dari peran keseharian, mereka di tengah kebun teh dengan dandanan pemetik teh. Jepret-jepret. Petani pemandu pun berulangkali menebar senyum.

Keluar dari kebun, wisatawan diajari menjemur teh. Diterangkan bagaimana daun teh diolah hingga jadi teh siap saji.

Lebih dari itu, wisatawan diajari membuat minuman dari daun teh segar yang diblender. Tidak saja diajari, wisatawan diminta mempraktekkan. Hasilnya diminum bersama-sama.

Chu Lu dan perkebunan memang kesatuan yang tidak terpisahkan. “Asosiasi petani ini berdiri sejak 9 tahun lalu. Anggotanya sekitar 50 petani. Kami mengolah lahan seluas kurang lebih 600 hektare,” tutur Tom Hsao.

Ironisnya, meski lahan luas serta subur, mayoritas remaja jarang yang betah di Chu Lu. Remaja lebih tergoda pergi ke kota, ke Taipei. Urbanisasi. Pergi lalu menetap di kota.

Menyikapi gejala kurang baik itu, petani-petani Chu Lu membuat gebrakan. Anak-anak mereka yang telah lulus sekolah diminta pulang untuk mengelola perkebunan. Para remaja itu digaji sebesar gaji yang bisa diperoleh bila bekerja di kota Taipei.

Bukan hanya mengelola kebun, para remaja juga dituntut untuk melakukan pengembangan. Dituntut kreatif.

Hasilnya ternyata luar biasa. Perkebunan di Chu Lu dibikin organik, tanpa pupuk buatan. Buah-buahan menjadi lebih segar serta higienis (sehat).

Berbagai jajan olahan tercipta dari hasil panen petani. Ada teh celup, teh tabur, ada eskrim teh, macam-macam permen, chake, dan kue.

“Dulu petani di sini hanya bisa menanam. Mereka tidak bisa mengolah dan menjual. Dulu, pedagang dari kota datang saat panen tiba,” tutur Tom Hsao.

Kini, berkat tenaga-tenaga kreatif kaum remaja, perkebunan Chu Lu berkembang lebih pesat. Kesejahteraan petani turut terangkat. Inovasi terus dikerjakan. Termasuk pula, menggarap sektor wisata. Maka, terciptalah motto Chu Lu Leisure Agricultural Area.

Lebih istimewa lagi, Chu Lu bertekad menjadi pelopor wisata halal. Konsep wisata yang cocok bagi umat muslim. Setiap produk selalu dimintakan sertifikat halal. Sebuah usaha yang tidak mudah.

“Sertifikat halal harus memenuhi banyak persyaratan. Mulai dari bahan-bahan produksi hingga cara produksi,” kata Tom Hsao.

Terkait sektor wisata, kebetulan, Pemerintah Taiwan turut hadir di situ. Pemerintah memberikan program-program pelatihan. Tentang cara mengolah kebun, tentang cara membikin aneka jajanan, cara melayani wisatawan, tentang cara mempromosikan hasil panen dan hasil olahan.

Frank Lai, Kepala Dinas Pariwisata di Taitung memaparkan, kunjungan wisata setiap tahun terus meningkat. Itu berkat penerapan berbagai terobosan.

“Taitung memiliki tempat wisata alami. Kami terus berbenah. Agar menarik wisatawan. Sebab kami tahu, wisata dapat meningkatkan ekonomi warga,” kata Mr Lai.

Benar saja, perkebunan Chu Lu hanyalah sebagian kecil dari pesona Taitung. Setiap tahun, Taitung juga menggelar festival balon udara di daerah Lu Ye. Pesertanya bukan hanya Taitung namun dari berbagai negara. Tahun ini saja, ada 17 negara yang terlibat. Di antaranya Amerika Serikat, Brazil, Mexico, Inggris, Jerman, Belanda, Belgia dan Jepang.

Sedangkan di akhir musim panas, wisatawan bakal disuguhi festival panen. Pada saat itu, warga Taitung mengenakan pakaian tradisional dan pergi ke sebuah ladang besar untuk makan, minum, dan menari.

Taitung juga memiliki tempat wisata bernama Sanxiantai, yang artinya adalah batu tiga dewa dewi. Di situ memang terdapat tiga batu raksasa dan jembatan naga.

Bagi wisatawan yang gemar menyusuri sawah, perlu juga singgah ke Mr Brown Avenue di Chihshang. Wisatawan bisa menyewa becak motor (kalau di Surabaya mirip Odong-odong) untuk berkeliling persawahan sembari menikmati pemandangan asri.

Adapun objek wisata lain di Taitung yang tidak pantas dilewatkan adalah Orchid Island, Liji Badlands, Green Island, Museum Nasional Prasejarah, Jialulan Recreation Area, Pemandian Air Panas Zhaori Saltwater, Taman Golden Lily Mountain, dan lain-alin. Kesemuanya memberi pengalaman dan pesona berbeda-beda bagi wisatawan. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar