Sorotan

Tragedi di Pantai Selatan

Minggu (13/2/2022). Tengah malam sudah lewat. Dua puluh orang berbaris di bibir Pantai Payangan, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Suara ombak berdebur. Deretan pertama menghadap laut selatan adalah para lelaki, dan deretan di belakangnya para perempuan. Air laut selatan menerpa mata kaki mereka.

Nur Hasan menatap laut selatan dengan tenang. Ini bukan pertama kali jemaat padepokan Tunggal Jati Nusantara yang dipimpinnya melakukan ritual di sana. Pelan ia rapalkan ucapan hormat untuk penguasa laut selatan, Ratu Rara Kidul.

Shalawah walaiwasalam 3x
Bismillahirrahmanirrahim 3x
Kaulo putro ngaturaken sembah sungkem pangabekti
Kaulo kunjuk dumateng panjenengan dalem kanjeng gusti ratu wonten ing kraton suci samudro kidul

Mereka duduk bersila menghadap laut. Sesajen sudah disiapkan seperti biasa: degan hijau, kembang telon, minyak basalwa biru, kinangan lengkap dan lima macam buah-buahan. Zikir terdengar dari bibir para jemaat.

Lalu mendadak ombak besar setinggi kurang lebih satu meter menyambar, Kekhusyukan berubah menjadi kepanikan. Air yang deras menyeret mereka ke lautan. Sebelas orang tak terselamatkan. Mereka meninggal dunia, termasuk istri kedua Nur Hasan Siti Zubaidah dan anaknya Pingkan yang masih berusia 13 tahun.

Kematian sebelas orang warga saat melakukan ritual menyentak banyak orang. Siapa Nur Hasan? Kelompok apakah Tunggal Jati Nusantara ini?

“Saya merasa kaget setelah mendengar berita ritual di Pantai Payangan, karena dalam catatan Bakesbangpol dan FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama), (kelompok) ini tidak termasuk,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Jember Zullikar Tanjung.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa langsung memimpin sendiri rapat koordinasi penanganan kejadian itu di Pendapa Wahyawibawagraha, Jember, Senin (14/2/2022). Khfifiah meminta agar ada penertiban, termasuk soal lembaga pemerintah yang punya otoritas menangani.

“Legalitas dari sebuah lembaga yang menggunakan nama tertentu, saya rasa kalau belum diatur, itu harus diatur. Mereka mendaftar di Bakesbangpol misalnya, atau mendaftar di mana? Sehingga kalau ada pembinaan gampang. Itu area FKUB atau mana, karena ini padepokan. Kalau pesantren area Kementerian Agama,” kata Khofifah.

Kisah Tunggal Jati Nusantara dimulai pada 2017, saat Nur Hasan pulang dari Malaysia. Pria berusia kepala empat ini lulusan Madrasah Tsanawiyah Sunan Ampel Sukorambi Jember. Sejak muda, dia tertarik dengan ilmu-ilmu gaib, suka berkelana mendalami ilmu spiritual. Salah satu murid Nur Hasan, menyebut sang guru punya 99 mentor. Namun, sejauh ini, berdasarkan penelusuran Majelis Ulama Indonesia, Nur Hasan punya dua guru, yakni Huda dan Nur Shodiqin.

Nama resmi padepokan yang didirikan Nur Hasan adalah Padepokan Garuda Nusantara. Belakangan orang lebih mengenalnya dengan nama Tunggal Jati Nusantara. Tak ada catatan pasti jumlah anggota padepokan ini. Polisi memperkirakan ada 40 orang. Namun kesaksian dari dua murid Nur Hasan menyebutkan hanya 23 orang yang aktif di grup WhatsApp padepokan.

Para jemaat datang karena tertarik dengan kemampuan penyembuhan Nur Hasan yang tersebar dari nulut ke mulut. Nur Hasan dianggap memiliki kedigdayaan untuk mengajar ilmu kanuragan dan membebaskan seseorang dari kutukan ilmu hitam. Sebagian berharap mendapatkan kelancaran usaha setelah bertemu Nur Hasan. Mereka baru bisa diterima setelah menjalani baiat pada dini hari.

Mereka sangat fanatik terhadap Nur Hasan dan menganggap sang guru punya kemampuan di luar nalar. Mereka rela menghapalkan sejumlah bacaan ritual karena percaya jika dituliskan di ponsel bisa menimbulkan ledakan yang mencelakakan. Mereka percaya, melanggar larangan Nur Hasan bisa membawa maut.

Acara ritual biasa digelar di rumah Nur Hasan, di Dusun Botosari, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, atau di musala milik Huda, di Desa Demangan, Kecamatan Sukorambi. Selain meminjamkan tempat ritual dan zikir bersama, Huda ikut memimpin kegiatan itu.

Guru lain yang dihormati Nur Hasan adalah Nur Shodiqin. Foto bersama keduanya dibingkai dalam pigura besar dan diletakkan di rumah Nur Hasan. Dia dihormati jemaat sebagai mursyid thariqat Sattariyah dan mengajarkan bacaan wirid kepada Nur Hasan untuk diamalkan dalam ritual Tunggal Jati Nusantara, termasuk bacaan saat melakukan meditasi di sungai dan pantai selatan. Sebelum ritual maut terjadi, mereka sudah dua kali melakukan ritual berendam di tepi sungai di Desa Badean, Bangsalsari, dan empat kali di Pantai Payangan.

Meditasi atau semedi menjadi inti ritual padepokan Tunggal Jati Nusantara. Jika dilakukan di ruang tertutup, semedi berlangsung dalam kegelapan dan kesunyian. Lampu dipadamkan. Mereka berzikir agar bisa menyatu dan mengenal Tuhan. Sementara ritual semedi di laut selatan dilakukan untuk membuang sial. Para jemaat mempercayai Nur Hasan, terutama karena dia menyatakan punya selendang hijau dan blangkon yang diperolehnya dari penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul.

Dua pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, yakni Kencong dan Kabupaten Jember, Jawa Timur, sama-sama menganggap praktik ritual di Pantai Payangan yang menewaskan sebelas orang, Minggu (13/2/2022), tidak lazim.

Ritual tersebut dilakukan 23 orang anggota kelompok tarikat Tunggal Jati Nusantara yang dipimpin Nurhasan. Berdasarkan penyelidikan kepolisian, kegiatan ritual di Pantai Payangan kemarin ditujukan untuk membersihkan diri dan mendapatkan berkah dari Ratu Pantai Selatan.

Sekretaris Pengurus Cabang NU Jember Pujiono Abdul Hamid mengatakan, banyak tempat yang lebih layak untuk melaksanakan ritual keagamaan dalam menyelesaikan persoalan. “Tapi kenapa kok dilakukan dalam rangka mendekat ke Nyi Roro Kidul? Kami sepakat ini tidak murni budaya, tapi di situ ada ritual keagamaan. Karena ini ritual keagamaan, maka perlu dikaji dan dalam kajian nanti perlu dicari informasi valid mengenai motivasi kegiatan tersebut,” katanya.

Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur mengeluarkan fatwa ajaran padepokan Tunggal Jati Nusantara sesat. Ketua Komisi MUI Jatim KH. Ma’ruf Khozin menyatakan, kegiatan ritual di tempat yang membahayakan seperti yang dilakukan oleh Tunggal Jati Nusantara adalah haram. “Ini karena bertentangan dengan salah satu prinsip dasar Syari’at, yaitu al-hifdz al-nafs (menjaga jiwa,” katanya.

MUI Jatim merekomendasikan tiga hal. Pertama, meminta kepada pemerintah untuk mengambil langkah tegas berupa larangan terhadap segala bentuk kegiatan kelompok Tunggal Jati Nusantara. “Kedua, menyerukan kepada umat Islam untuk tidak terpengaruh dengan aliran sesat tersebut,” kata Khozin.

Ketiga, MUI Jatim meminta kepada para pengikut kelompok Tunggal Jati Nusantara agar segera bertobat dan tidak kembali lagi mengamalkan ajaran itu. “Kami berharap kepada para Ulama untuk memberikan bimbingan dan petunjuk bagi mereka yang ingin bertobat,” kata Khozin.

Namun, bagi pemerintah, persoalan ini bukan sekadar masalah ritual keagamaan atau kebudayaan. Khofifah menyebut kejadian ini bagian dari fenomena patologi sosial. Fenomena di tengah masyarakat yang merindukan keberhasilan dan kesuksesan melalui jalan pintas dan ringkas zonder proses dan kerja keras.

Ini bukan perkara sepele. “Harus dicari solusi bersama sesuai dengan budaya lokal, kearifan lokal dan potensi yang ada di masing-masing daerah,” kata Khofifah.

Kementerian Agama dan MUI punya tugas meluruskan akidah umat. Namun penanganan dan ikhtiar mencari solusi patologi sosial, menurut Khofifah, harus melibatkan perguruan tinggi. “Fenomena patologi sosial ini terjadi di seluruh dunia. Seringkali ketika masyarakat merasa tidak terpenuhi proses pencarian solusinya lalu mereka berharap bahwa akan ada shortcut atau cara instan untuk memenuhinya,” katanya.

Tak ada yang bisa memberikan resep mujarab bagaimana mengatasi patologi sosial yang dikhawatirkan Khofifah. Satu hal yang pasti, Nur Hasan harus mempertanggungjawabkan tragedi itu di muka hukum. Ia menjadi tersangka dan ditahan oleh Polres Jember, menunggu jatuhnya palu vonis hakim. [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar