Sorotan

Tradisi Kepenyairan Baru, Puisi Milenial Saiful Hadjar

Ribut Wijoto.

Di era milenial seperti sekarang, berbeda dengan situasi tahun 1990-an sampai awal-awal tahun 2000-an, puisi tidak lagi berumah secara aktual di media massa koran. Puisi lebih agresif menyebar di media sosial. Namun begitu, takdir puisi sebagai kembaran utuh dari dunia dan kompleksitasnya tetap terjaga.

Keterjagaan yang semakin saya yakini ketika menemukan puisi-puisi Saiful Hadjar di grup whatsapp Bengkel Muda Surabaya (BMS). Puisi-puisi yang menurut saya mengusung tradisi baru. Tradisi yang belum sepenuhnya tergarap sejak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Joko Pinurbo, dan Daruz Armedian si penyair asal Tuban.

KEHILANGAN MENTARI PAGI
(krinan, basa jawane)

Puisi berjudul ‘KEHILANGAN MENTARI PAGI’ itu diposting Saiful Hadjar hari Senin pagi, 18 Februari 2019, di grup WA BMS. Sekilas biasa saja. Seperti postingan nakal yang menginformasikan, dia tidak sempat menyaksikan matahari terbit karena bangun kesiangan atau dalam bahasa Jawa disebut ‘krinan’.

Padahal jika ditelisik, makna dari postingan Saiful lebih dari itu. Postingan lelaki kelahiran Surabaya, 30 Agustus 1959, ini adalah tradisi puisi baru yang belum pernah ada sejak awal kepenyairan modern Indonesia. Amir Hamzah belum pernah secara ajeg bikin puisi semacam itu. Begitu pula Chairil Anwar. Termasuk Sapardi Djoko Damono, termasuk Sutardji Calzoum Bachri, termasuk Joko Pinurbo, termasuk Daruz Armedian si penyair asal Tuban.

Sitor Situmorang pernah menulis puisi ngehits yang berisi hanya satu larik. Yakni puisi berjudul ‘Malam Lebaran’ yang berisi larik ‘bulan di atas kuburan’. Tapi hanya satu puisi itu. Selebihnya, puisi-puisi Sitor bersifat mainstream alias berisi beberapa larik, berlarik-larik berbait-bait.

Artinya, Sitor Situmorang belum bisa dibilang menciptakan tradisi. Sebab dia tidak istiqomah. Tidak konsisten. Tidak menjadikan puisi 1 larik sebagai pertaruhan kepenyairannya. Sitor memilih mengejawantahkan gagasan kepenyairan melalui puisi mainstream yang berlarik-larik.

Sedangkan Saiful, dia istiqomah. Melalui grup WA BMS, Saiful Hadjar terus mendedahkan puisi-puisi 1 larik. Sehingga bisa dibilang, pendiri Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) itu menjadikan format puitik tersebut sebagai tradisi kepenyairan.

KESIANGAN
(sori, terlambat cuci kelamin)

Puisi, sependek apapun puisi, dia adalah satu karya sastra utuh. Bobotnya setara dengan novel yang beratus-ratus halaman. Dia mengemban kompleksitas dunia, meruwat ruwet riwayat kehidupan. Puisi menciptakan sebuah dunia imajiner yang tidak kalah rumit dari dunia keseharian di realitas.

Seperti puisi ‘KESIANGAN’ yang diposting Saiful Hadjar di grup WA BMS, Sabtu pagi, 23 Februari 2019, itu. Meski sekilas sebatas informasi ‘bangun kesiangan’ dan ‘belum sempat mandi besar dari berhubungan badan semalam’ tapi sebenarnya memberikan ruang tafsir luas-luas. Ruang tafsir yang bisa dipakai untuk menjelaskan dunia keseharian. Bahkan, dunia transenden, dunia komunikatif manusia dengan tuhannya.

Dari judul saja, ‘KESIANGAN’, bisa dipahami jika puisi Saiful tersebut bicara tentang waktu. Sesuatu yang sangat abstrak namun universal, setiap orang memiliki pengalaman tentang waktu. Abstrak karena waktu tidak berwujud. Ia semacam kendaraan yang dinaiki setiap orang. Kendaraan tanpa wujud. Dan kini Saiful memberi wujud melalui puisinya.

Kesiangan, diksi (pilihan kata) itu mendapatkan penegasan dalam tubuh puisi dengan diksi ‘terlambat’. Dua-duanya mengarah pada ‘pengalaman yang tak sempat dijalani’. Sementara waktu tidak pernah berhenti, tidak pernah berbalik, tidak pernah berulang. Terlambat. Puisi Saiful menginformasikan ‘terlambat cuci kelamin’.

Kelamin, secara biologis, bisa dimaknai sebagai salah satu pusat kenikmatan manusia. Pusat perwujudan nafsu. Kenikmatan-kenikmatan badaniah hampir selalu mengarah pada watak negatif. Dosa. Banyak sekali perbuatan manusia yang mengandung dosa akibat mengikuti hawa nafsu. Budak kelamin.

Maka, puisi Saiful tersebut bisa ditafsirkan sebagai keterlambatan tobat. Mungkin maksudnya, seseorang yang telah berusia lanjut namun belum sempat hijrah ke jalan yang benar. Jalan yang diridhoi tuhannya. Sedangkan kematian telah dekat.

Namun bisa jadi, Saiful ingin berbicara hal lain. bukan tentang tobat. Satu hal yang pasti, puisi ‘KESIANGAN’ berpusar pada waktu. Keterlambatan. Manusia yang gagal menghormati waktu. Sehingga ia tergilas oleh roda-roda waktu yang tak pernah berhenti berputar.

Patut dicermati pula, alasan-alasan Saiful memilih diksi ‘sori’. Kenapa Saiful tidak memakai diksi ‘maaf’ yang lebih baku dalam bahasa Indonesia? Atau memakai diksi ‘sorry’ yang baku dalam bahasa Inggris?

Oleh sebab puisi, di mana penyair punya hak istimewa memperlakukan bahasa, diksi ‘sori’ terbebas dari jebakan benar atau salah, baku atau tidak baku. Toh, kenyataannya, diksi ‘sori’ telah dikenal luas dalam praktik komunikasi keseharian. Dalam perspektif sosiolinguistik, asal pembicara dan pendengar telah saling memahami kata yang diucapkan maka tindak komunikasi telah sah.

Mungkin saja Saiful memilih memakai diksi ‘sori’ karena melihat diksi ‘maaf’ dan diksi ‘sorry’ terlalu mainstream, terlalu kaku. Saiful ingin menjangkau khalayak ramai dengan lebih intim, lebih gaul, lebih kekinian, lebih milenial.

PUISI
(merebut ayat tuhan yang dicuri setan)

Era milenial ini ditandai dengan perayaan media sosial. Hampir setiap orang memiliki android. Hampir semuanya ramah dengan whatsapp, facebook, twitter, instagram, dan bejibun media sosial lain. Orang-orang belomba membikin status. Menguber tanda jempol (like) dan komentar. Sebuah status yang brilian bakal panen jempol dan panen komentar. Dibagi-bagikan (share) netizen.

Pada tindak komunikasi media sosial itulah kerap kali bermukim quote alias kutipan. Quote adalah suatu kalimat yang dianggap menarik, bermakna, bermanfaat sehingga sering dijadikan bahan acuan atau sumber untuk memperkuat, menambah dan memperjelas tulisan. Status yang populer di media sosial sering berupa quote.

Dalam batasan tertentu, puisi pendek Saiful Hadjar merambah masuk ranah quote. Puisi quote.

Sebagai puisi, karya Saiful membentuk sebuah dunia melalui imaji dan kode bahasa estetik. Multi tafsir. Menjelajah ruang hermeneutik dan berpetualang di lautan semiotik. Diksi-diksinya berpendaran melampaui jeratan literal.

Sebagai quote, karya Saiful bersifat inspiratif. Mudah diingat, akrab, renyah, mewakili kata hati, magis, dan gampang dibagi-bagikan. Ia menemui netizen dengan cukup intim. Dan, ia bersifat milenial.

PURNAMA
(menjolok bulan yang jatuh durian)

Satu hal lagi yang selalu dipakai oleh Saiful dalam puisinya adalah pemaikaian tanda kurung (*). Kebiasaan aneh itu menimbulkan kecurigaan pula. Mengapa dan apa maknanya?

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) memberi penjelasan tentang tiga pemakaian tanda kurung. Pertama, tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Kedua, tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat. Ketiga, tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.

Dari tiga penjelasan PUEB itu, puisi Saiful tampaknya tidak termasuk dalam salah satunya. Puisi Saiful seperti berada di luar kategori pemakaian tanda kurung yang digariskan oleh PUEB. Mengapa? Sebab, puisi Saiful hanya berisi satu kalimat. Dan uniknya, satu kalimat itu diberi tanda kurung. Artinya, kata-kata di dalam tanda kurung puisi Saiful tidak mengapit apa-apa. Tidak mengapit keterangan apapun. Saiful seperti ingin menyatakan bahwa tidak ada apa-apa di luar tanda kurung.

Atau justru sebaliknya. Saiful sengaja menghilangkan segala keterangan di luar tanda kurung. Dalam arti, Saiful menciptakan teka teki. Enigma. Pembaca dipaksa memproduksi sendiri keterangan-keterangan, informasi-informasi, atau dunia di luar tanda kurung.

Begitulah, Saiful telah membangun tradisinya kepenyairan baru. Puisi yang berkarib-tengkar dengan semangat zaman (zeitgeist) milenial. Sebuah puisi milenial. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar