Sorotan

Tobacco Man

“Bapak ingin dikenang sebagai apa jika sudah meninggal dunia?”

Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Abdul Kahar Muzakir pada suatu hari di salah satu ruang kerja di kantor Tarutama Nusantara (TTN), Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pak Kahar, demikian saya selalu menyapanya, diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab panjang. Dia adalah pimpinan Koperasi TTN, ekspotir tembakau cerutu di Jember, dan salah satu inovator bisnis tembakau.

“Saya tidak pernah berpikir soal itu. Semuanya berjalan saja seperti air yang mengalir. Hidup di dunia mengikuti aturan main yang ada. Allah sudah menentukan, kita keturunan dari mana dan siapa. Kita harus berbangga dilahirkan di keluarga baik-baik. Kita bangga ayah kita dikenal sebagai orang baik, ibu kita dikenal sebagai orang baik. Kesannya baik terhadap masyarakat. Jadi saya ingin dikenang sebagai orang baik. Jangan neko neko, mencari yang baik itu sulit.”

Kahar dilahirkan di Banyuwangi, 24 November 1936, dari keluarga pejuang. Ayahnya, Raden Noerdhin Soetawidjaja, adalah salah satu tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ia bergerak, menggalang perlawanan terhadap Belanda di Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Darah pejuang ini mengalir jauh dari Palembang, dari Sultan Mahmud Badaruddin II.

Nama Kahar diambil dari nama tokoh intelektual Partai Sarekat Islam Indonesia: seorang ulama, kiai haji, dan seorang profesor lulusan Kairo, Mesir. “Kalau kamu pintar, Abah akan kirim kamu ke Al-Azhar, Mesir,” kata Noerdhin kepada Kahar kecil.

Namun sejarah membengkokkan cita-cita itu. Noerdhin diincar Belanda. Ia sempat bersembunyi. Ancaman Belanda terhadap keselamatan keluarganya membuat Noerdhin memilih menyerahkan diri. Suatu hari pada 1947, ia berpamitan kepada istrinya, Soetarti.

Soetarti menangis. Kahar kecil menangis. “Tabah saja,” kata Noerdhin, sebelum dokar membawanya menuju kota Banyuwangi. Setelah salat tarawih, ia ditahan dan diinterogasi di Penjara Tegal Loji atau Voorlighten Dients Militair Brigade. Lalu kabarnya tak terdengar lagi.

Ada yang bilang, Noerdhin dikirim dengan kereta api dalam gerbong tertutup rapat dari Bondowoso ke penjara Bubutan dan Kalisosok, Surabaya, bersama ratusan pejuang lainnya. Sebagian besar mati kehabisan oksigen. Entah Noerdhin. Makamnya pun tak jelas di mana.

Kematian Noerdhin memantik kebencian Kahar terhadap apapun yang berbau Belanda. Sebagian masa tua Kahar dihabiskan untuk membiayai penelitian untuk mencari jejak sang ayah. Dia meminta bantuan sejumlah dosen sejarah Universitas Jember untuk melakukan pelacakan ke Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dan Banyuwangi. Hasil karya mereka dibukukan Galang Press, Jogjakarta, dengan judul ‘Melacak Jejak Pejuang: Biografi R.H. Noerdhien Soetawidjaja’.

Berbekal buku itu, Kahar melayangkan surat ke pemerintah Belanda melalui Kedutaan Besar RI di sana. Ia menuntut penjelasan kondisi terakhir sang ayah dan letak makamnya. Ia tak ingin menuntut pemerintah Belanda. Ia hanya ingin tahu kepingan puzzle sejarah keluarganya menjadi lengkap. Tak ada lagi misteri.

“Jujur saja, saya tidak memiliki selembar pun dokumen terkait Abah. Semua dokumen sudah dibakar Abah. Saya ikut membakar semua dokumen, jelang Abah ditangkap,” kata Kahar kepada saya.

Sejarah keluarga adalah salah satu obsesi terbesar Kahar. Suatu kali pada 2018, ia meminta saya agar berangkat ke Ternate, Maluku Utara, untuk melacak sejarah Sultan Mahmud Badaruddin II di sana. Sang sultan diasingkan setelah kalah dalam perang melawan Belanda di Palembang.

“Sudah, anggap saja sambil berlibur. Masakan laut di sana enak-enak,” kata Kahar, berusaha menepis keraguan saya. Hasil liputan lapangan saya di Ternate itu kemudian diterbitkan sebagai buku oleh Mata Padi dengan judul ‘Sultan Mahmud Badaruddin II: Perlawanan, Pengasingan, dan Zuriah’.

Obsesi lainnya adalah tembakau. Hidup Kahar adalah bagian dari sejarah tembakau di Indonesia. Febrian Ananta Kahar, putra bungsunya, menyebut sang ayah ‘Tobacco Man’. Lelaki Tembakau.

Kahar mengawali karirnya sebagai asisten sinder kebun Firma Annemeat di Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, pada 1957. Firma ini belakangan menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang dinasionalisasi dan kelak menjadi bagian dari PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Jatim VI. PPN ini kemudian bertransformasi menjadi Perseroan Terbuka Perkebunan (PTP) 27.

Tahun 1963, Kahar mendaftarkan diri untuk ikut serta dalam program pembukaan lahan tembakau di Soppeng, Sulawesi Selatan. Proyek ini dibiayai tiga PTP yakni PTP Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah. Dia adalah satu-satunya sinder kepala dalam rombongan. PTP di luar Jatim hanya mengirim petugas berpangkat sinder.

Program rezim Soekarno di Soppeng gagal. Kajian kelayakan pemerintah ternyata di luar harapan. Kahar mengalami psikosomatis dan pulang ke Jawa. Namun langkahnya di dunia budidaya tembakau jauh dari selesai.

Tahun 1983, Kahar diangkat menjadi direktur produksi di PTP 27. Namun peristiwa Soppeng kembali dialaminya. Dia menanggung kegagalan proyek budidaya pohon jarak dan jambu mete di Nusa Tenggara Barat karena ketidakkompetenan pemerintah Orde Baru.

Gagasan proyek ini muncul, setelah Presiden Soeharto berkeliling dengan helikopter di kawasan selatan Nusa Tenggara Barat yang baru saja dihantam tsunami. Pemerintah ingin merelokasi warga di sana. “Ini bagus. Kenapa warga tidak dipindah ke sini?” tanyanya menunjuk Sumbawa Besar.

Studi kelayakan dilakukan. Namun sebagaimana di Soppeng, studi itu tidak sepenuhnya akurat. Tanah di lokasi yang ditunjuk Soeharto ternyata mengandung lapisan sedimen yang keras dan tidak mudah ditembus akar pohon. Ini mempersulit penanaman jambu mente.

Direksi PTP 27 sebenarnya sudah mempertanyakan hasil survei Direktorat Jenderal Perkebunan. Pertanyaan itu diabaikan. Pemerintah menyediakan dana agar proyek itu segera dikerjakan. Apa boleh buat. Ini perintah presiden. Namun kondisi tanah yang tak bersahabat dan serangan ulat yang menghabiskan daun dan batang pohon jarak mengakhiri proyek tersebut.

Sementara itu, bisnis tembakau sedang macet. Tak begitu menguntungkan. Kahar tahu, budidaya dengan teknik lama tak akan membawa hasil maksimal. Dia menawarkan teknik budidaya tembakau bawah naungan (TBN) kepada Direktur Utama PTP 27, Samingun. “Berikan waring di atas tembakau, Pak. Biayanya memang tinggi. Tapi income lebih tinggi, karena harga setiap satuan akan tinggi. Dilelang pun, harganya nanti akan tinggi,” katanya.

Ide TBN ini lahir dari keluhan Max Burger-Steiner, orang nomor satu Burger Soehne Ag Burg (BSB), sebuah perusahaan cerutu terkenal di Swiss yang bekerjasama dengan PTP 27.

“Mister Kahar, sebenarnya saya ingin menggunakan tembakau Besuki Na Oogst. Tapi saya tidak bisa pakai, karena warna daun tembakau ini tidak homogen. Bagian pangkal dan atas tidak sama, ada warna muda dan tua, yang membuat tak bisa diterima pasar. Kenapa ya?” tanyanya.

Kahar mengatakan, perbedaan warna dalam satu daun dikarenakan terlalu tajamnya matahari menyinari daun-daun tembakau. “Lalu bagaimana cara mengatasinya?” tanya Burger.

“Mungkin kalau di atas daun tembakau diberi waring, akan bisa lebih rata warnanya,” kata Kahar.

“Lho, kenapa Anda tidak kerjakan?” tanya Burger.

“Kalau saya lakukan, saya khawatir: siapa yang mau beli tembakau ini. Saya tidak mungkin melakukan dengan biaya sendiri. Terlalu mahal, karena saya harus beli waring seluas satu hektare.”

Burger berpikir sejenak, dan bertanya hati-hati. “Berapa hektare sih Anda mau bikin percobaan?” tanyanya.

“Untuk bisa memfermentasi tembakau dengan baik, dibutuhkan lahan percobaan minimal 15 hektare,” kata Kahar.

Burger menyambut tantangan Kahar. “Oke, apapun hasilnya, silakan coba, saya mau membelinya.”

TBN sebenarnya bukan teknik baru dan sudah dibudidayakan di Connecticut, Amerika Serikat. Namun Kahar meraba-raba sendiri bagaimana membudidayakannya di Indonesia, dengan membaca buku ‘How to Grow Tobacco Under Shade’. Dia baru memperdalam langsung ilmu budidaya TBN setelah berkunjung ke Connecticut. Namun perbedaan geografis antara Connecticut dan Jember membuatnya harus beradaptasi dan berinovasi.

Ide TBN ditentang sejumlah pemangku kepentingan sektor budidaya tembakau. Namun Kahar tak beringsut. Ini masalah hidup-mati. Tanpa pengembangan TBN, dia percaya PTP 27 pasti tutup. Usaha budidaya tembakau tak akan berlanjut, karena utang-utang bertumpuk. Bunga yang harus ditanggung PTP 27 saat itu sudah mencapai Rp 22 miliar, tanpa ada pemutihan.

Dukungan datang dari Sjarifuddin Baharsyah, Menteri Muda Pertanian Kabinet Pembangunan V yang belakangan menjadi Menteri Pertanian pada Kabinet Pembangunan VI. Kahar sempat menjelaskan bagaimana susahnya mengembangan TBN dan soal tudingan pemerkosaan terhadap tanaman dari lembaga tembakau. “Ah, sudah tidak usah diperhatikan,” potong Syarifuddin. “Lakukan apa yang Anda anggap terbaik.”

Inovasi TBN menarik minat Menteri Pertanian Achmad Affandi. Kahar diangkat menjadi Direktur Utama PTP 27 pada 1985 di tengah kondisi perusahaan terlilit utang. Pemerintah pernah berencana menutup perusahaan. Utang PTP 27 bertumpuk tanpa prospek jelas. Kahar beberapa kali menyodorkan proposal pinjaman uang kepada pemerintah untuk menutup kerugian perusahaan. Namun proposal itu bertepuk sebelah tangan.

Kahar terbang ke Jakarta dan menemui salah satu pimpinan bagian pembiayaan di Departemen Keuangan. “Asal Bapak berani kirim surat atau laporan mengenai rencana penutupan, silakan. Saya tunggu kalau Bapak berani. Saya akan bicarakan dengan Menteri Keuangan,” katanya kepada sang pimpinan.

Ini masalah politik. “Kalau PTP 27 ditutup, efek politiknya besar. Mungkin Golkar akan kehilangan suara separuh di Jember. Anak buah saya jumlahnya sekian, belum lagi orang-orang di gudang. Mereka pasti tidak akan mencoblos Golkar. Jadi kalau Bapak berani, silakan. Saya akan menghadap Menteri,” kata Kahar.

PTP 27 akhirnya tetap berjalan. Departemen Keuangan malah mengirimkan tambahan biaya sebagaimana diminta Kahar. Namun problem lain muncul: pemerintah memerintahkan direksi melakukan rasionalisasi jumlah pegawai untuk membenahi keuangan perusahaan.

Tuntutan pemerintah untuk merasionalisasi pegawai bakal membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Kahar mengkalkulasi, bakal ada tiga ratus orang terkena PHK. Dia menghadap Menteri Pertanian Achmad Affandi untuk mencegah ini.

“Apa tidak ada jalan keluar lain, Pak? Itu akan membahayakan perolehan suara Gokar saat pemilu kalau PHK terjadi,” kata Kahar.

“Lalu bagaimana, Pak Kahar?” tanya Affandi.

“Begini saja, Pak. Kita harus mencari jalan keluar. Bagaimana kalau pekerja yang hendak di-PHK diberi kesempatan untuk bekerja di tempat lain,” kata Kahar. Solusi itu diterima. Para pegawai tidak jadi di-PHK, namun mereka ditawari pindah ke Sumatera dengan biaya kepindahan ditanggung PTP 27. Mereka mendapat rumah di sana dan bisa membuka usaha lain seperti perbengkelan.

Tahun 1989, Kahar pensiun dari PTP 27. Seharusnya, dia pensiun dari posisi direktur utama pada 1991. Namun Kahar ingin belajar wiraswasta. Dia tahu masa pensiun adalah masa berat. Bukan modal yang harus dipersiapkan pertama kali, melainkan mental. Seorang yang sudah pensiun berarti menyadari bahwa dia sudah kehilangan apapun. “Dia harus bersiap hidup sebagai rakyat biasa, memelihara hobi yang disukai dengan baik,” katanya kepada saya.

Pensiun dari PTP 27, Kahar mendirikan Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara bersama Achmad Ismail (pemilik NV Ismail), Soejitno Chandra Hasan (pemilik Fasuda dan UD Daun Madu), dan Heru Tisdamarna (Kepala Cabang NV Ismail) pada 28 Juli 1990. Kelak kepemimpinan perusahaan itu diserahkan Kahar kepada Febrian, sang bungsu.

Tahun 2012, Tarutama Nusantara berhasil membudidayakan tembakau Kuba di atas tanah Jember. Ini bukan perkara gampang. Tanaman ini mudah terserang penyakit. Setelah berkali-kali melakukan uji coba, tembakau Kuba ini benar benar berhasil melakukan aklimatisasi dan memiliki daya tahan. Tembakau Kuba ini kemudian menjadi bahan baku cerutu BOS Image produksi Tarutama Nusantara.

Kahar mencintai memori masa kanak-kanaknya yang dekat dengan alam. Dia kemudian membeli lahan di Kecamatan Sukorambi dan membangun Taman Botani Sukorambi yang diresmikan Bupati MZA Djalal pada 28 Februari 2006. Berbagai jenis tanaman dibudidayakan di sana. Sejumlah hewan dirawat layaknya dalam sebuah kebun binatang kecil. “Saya ingin Taman Botani ini menjadi tempat belajar anak-anak dan para guru. Jember selama ini tak memiliki tempat seperti kebun raya di Purwodadi,” katanya.

Kahar tak mencemaskan masa depan Tarutama Nusantara. Dia sudah mendidik Febrian untuk melanjutkan usahanya. Baginya, seorang pemimpin yang baik harus dibentuk sejak awal. Pemimpin yang baik harus bisa merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang dipimpin.

Semula, ada rekanan yang tidak mempercayai Febrian. Namun Kahar bersikukuh membela si bungsu. “Kalau tidak ada saya, siapa yang menggantikan. Kan sudah lepas dengan komiten awal,” katanya. Febrian tidak mengecewakan. Partner bisnis TTN saat ini lebih banyak bicara dengannya daripada Kahar.

Kahar justru mencemaskan penerusnya di Taman Botani. Dia sempat mengungkapkan keresahannya kepada Nur, salah satu pegawai. “Nur, yang saya pikirkan itu, kalau saya tidak ada, siapa yang melanjutkan pekerjaan saya? Saya di sini meletakkan hati. Bukan hanya pengetahuan, tapi hati ada di sini,” katanya.

Selasa, 3 Agustus 2021. Pak Kahar menutup mata untuk selamanya dan dimakamkan di Dukuh Mencek. Lokasinya dekat dengan tempat pemakaman umum dan dipilihkan oleh Febrian. Rencananya tanah itu akan menjadi lokasi pemakaman bagi keluarga besarnya. Dan saya teringat ucapannya yang kemudian saya kutip dalam buku autobiografinya berjudul ‘Tobacco Man’.

“…tidak usah ditangisi jika saya mati. Kita pada dasarnya titipan Allah, hidup untuk memelihara dunia ini. Jadi jika yang titip minta kembali, ya sudah, jangan ditangisi….Saya tahu, bagaimanapun perasaan kehilangan itu pasti berat. Namun kita tetap tak boleh menangis. Saya ingin anak-anak dan keluarga memahami permintaan ini.”

Selamat jalan, Pak Kahar. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar