Sorotan

Pekan 11 Liga 1

Tidak Kapok Nonton Persebaya?

Aksi Bonek mendukung Persebaya (foto koleksi pribadi Husin)

Saya berkali-kali menguap menyaksikan pertandingan Semen Padang melawan Persebaya, di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Minggu (28/7/2019). Kini saya bisa merasakan apa yang dirasakan fans Manchester United yang tertidur di Old Trafford saat klub berjulu Setan Merah bertanding.

Saya kini juga bisa membayangkan dan memperkirakan bagaimana perasaan fans Arsenal pada era 1980-1990, saat julukan ‘Boring Boring Arsenal’ melekat, saat tim yang mereka dukung bermain membosankan dan jarang menang meyakinkan. Nek gak seri yo kalah. Kalau pertandingan tidak berakhir seri, maka berakhir dengan kekalahan bagi Persebaya.

Melawan tim juru kunci klasemen yang tak pernah mencatatkan kemenangan dalam delapan pertandingan, Persebaya hanya bermain tanpa gol. Ini kali kedua Persebaya mencatatkan clean sheet setelah kemenangan 4-0 atas Persib Bandung. Namun ini kali pertama Persebaya tidak bisa mencetak gol. Ini juga catatan tanpa kemenangan beruntun terpanjang kedua bagi Persebaya selama dua musim mengarungi Liga 1: lima pertandingan, tiga hasil imbang, dua kekalahan. Kini Persebaya berada di peringkat 7 dengan total tiga kemengan, lima kekalahan, tiga kekalahan, dan nilai 14. Catatan agregat gol tim ini memprihatinkan: 17-14.

Sebelumnya pada Liga 1 2018, Persebaya juga pernah mencatatkan lima pertandingan tanpa kemenangan. Namun catatan mereka saat itu lebih baik: empat hasil imbang dan satu kali kalah. Situasinya hampir seperti saat ini. Persebaya saat itu sudah menjalani 12 pertandingan dan berada di peringkat 14 dengan catatan tiga kemenangan, enam hasil imbang, tiga kekalahan, dan mengumpulkan 15 angka. Catatan gol memasukkan dan kemasukannya pun nyaris sama: 16-15.

Apa yang salah dari Persebaya? Malam itu di Padang, Djajang Nurjaman sebenarnya menurunkan kekuatan terbaiknya. Miswar Saputra di bawah mistar gawang. Dua bek tengah Otavio Dutra dan M. Syaifuddin beroperasi di depan Miswar. Posisi bek kiri diisi sang kapten Ruben Sanadi dan posisi bek kanan diberikan kepada Abu Rizal Maulana.

Djajang kembali memainkan formasi 4-2-3-1 dengan menempatkan Rachmat Irianto dan M. Hidayat sebagai perusak serangan Semen Padang sebelum memasuki daerah pertahanan. Amido Balde menjadi ‘lone striker’ dengan ditopang tiga gelandang serang Irfan Jaya, Damian Lizio, dan Manu Jalilov. Dengan formasi dan komposisi ini, Persebaya menahan imbang pemuncak klasemen PS Tira 1-1. Bedanya, posisi Rendi Irwan saat itu kini diisi oleh Jalilov.

Inilah pertandingan terburuk Persebaya sepanjang musim ini. Ruben Sanadi dan kawan-kawan bermain tanpa orientasi dan pola jelas. Mereka berkali-kali salah umpan dan terlalu lemah dalam memberikan bola kepada kawan satu tim, sehingga bangunan serangan terputus. Bola-bola terobosan untuk Balde pun tak mulus. Barisan belakang dan tengah Semen Padang berkali-kali bisa membaca suplai bola untuk Balde. Alhasil Balde benar-benar menjadi striker yang kesepian di zona pertahanan lawan. Dia berjuang seorang diri melepaskan diri dari kawalan sedikitnya dua pemain Padang.

Djajang menerapkan taktik yang tak biasanya. Persebaya jarang menyuplai bola via umpan-umpan silang dari sayap agar bisa dimanfaatkan Balde yang memiliki kelebihan pada tinggi badan. Hingga menit 13 sama sekali belum ada ‘crossing’ dari Ruben maupun Abu Rizal. Ruben tak serajin biasanya untuk naik membantu serangan.

Saat membantu serangan, Abu Rizal lebih banyak menggiring bola untuk mendekati kotak penalti ketimbang mengirimkan bola-bola lambung dari sayap ke jantung kotak penalti Padang. Melempemnya agresivitas sayap ini digantikan sejumlah umpan panjang dengan kualitas yang menyedihkan: tak akurat dan membuat Balde kesulitan mengejarnya.

Beruntung, Semen Padang juga tak bermain bagus. Salah satu kawan menyebut Semen Padang bermain seperti tim Liga 2. Namun Persebaya bermain lebih buruk lagi. Pemain Semen Padang menunjukkan determinasi lebih baik. Mereka lebih banyak melakukan pergerakan tanpa bola dan melakukan ‘pressing’ setiap kali pemain Persebaya menyusun serangan. Tiga pemain depan Padang tak langsung mundur ke daerah pertahanan begitu bola direbut pemain Persebaya. Mereka masih berusaha keras membayangi.

Ini berbeda dengan Persebaya yang cenderung membiarkan pemain Semen Padang menguasai bola tanpa ada tekanan memadai. Mereka menumpuk pemain berlapis di depan kota penalti hingga enam orang. Djajang agaknya berharap membuntu serangan Padang dari tengah, selain mengandalkan Rachmat Irianto dan Hidayat menghancurkan serangan lawan. Tanpa pemain depan yang bagus, pemain Padang memang kesulitan mendekati kotak penalti Persebaya dan memilih melakukan tembakan jarak jauh yang tak akurat.

Namun kotak penalti bukan steril sama sekali dari jarahan pemain Padang. Irsyad Maulana beberapa kali merepotkan Abu Rizal. Menit 20, ia berlari melaju di sisi kanan pertahanan Persebaya meninggalkan Abu Rizal, masuk ke kotak penalti, dan melepasan tembakan ke tiang dekat. Miswar masih bisa menepisnya.

Barisan belakang Persebaya masih menunjukkan kelemahannya dalam mengantisipasi bola tiktak sebagaimana menit 36. Memperoleh bola dari umpan pendek Dedi Hartono, Irsyad melepaskan bola lambung terobosan kepada Mario Alberto Barcia. Tak ada jebakan offside. Barcia lolos tanpa ada yang menutup dan melepaskan tembakan ke tiang dekat gawang Miswar. Bola menghantam jala samping gawang.

Disaksikan 6.981 orang penonton, ada sejumlah momentum ‘ajaib’ yang seharusnya berujung gol untuk kedua tim. Menit 12, sebuah umpan panjang dari zona pertahanan Semen Padang membuat Riski Novriansyah yang diplot menjadi ujung tombak tunggal oleh pelatih Weliansyah berlari kencang menuju kotak penalti dengan diapit Dutra dan Syaifuddin. Tak ada yang perlu terlalu dikhawatiran, karena Riski seorang diri tanpa dukungan penyerang lainnya.

Namun entah apa yang di benak Miswar. Dia memilih maju menyongsong bola dan bukannya merebut bola, namun malah hendak menghadangnya dengan dada. Benar-benar ajaib. Untung bola liar itu gagal dijangkau Riski dan Dutra bisa melakukan ‘recovery’.

Sejumlah peluang Persebaya diperoleh juga karena keberuntungan dan kecerobohan barisan belakang Semen Padang, bukan melalui skema yang rapi dan rancak. Menit 19, Dutra melepaskan umpan panjang jauh ke barisan pertahanan Padang. Tak sejajarnya bek Padang membuat Balde lolos dan berhasil mengantisipasi bola yang melenting terlalu tinggi setelah menghantam lapangan. Djajang menyebut permukaan lapangan tak rata dan terlalu keras. “Itu kenyataan,” katanya.

Kesulitan mengontrol bola yang sudah masuk ke dalam kotak penalti, Balde memilih mengumpankan ke depan gawang dan disambut Irfan Jaya dengan kaki kanan sisi luar. Bola yang bergulir tak kencang itu langsung disapu Dedy Gusmawan sebelum melewati garis gawang.

Pemanfaatan skema bola mati dari tendangan bebas dan tendangan penjuru oleh pemain Persebaya juga sangat buruk. Menit 41, bola tendangan penjuru dari Irfan Jaya justru menghasilkan situasi pinball. Bola diterima dengan kepala oleh Balde yang menghantamkannya ke tanah dan pantulannya disambut dengan tendangan salto oleh Dutra. Bola pantulan itu mengarah ke kepala Jalilov. Namun bola tandukan Jalilov masih bisa disapu Irsyad Maulana sebelum melewati garis gawang. Situasi ajaib.

Damian Lizio yang beberapa kali menjadi eksekutor bola mati tak menunjukkan kelasnya sebagai pemain yang pernah bermain untuk tim nasional Bolivia dan tim nasional Argentina U20. Dalam membangun serangan, gocekannya memang membuat pemain belakang Padang kesulitan. Namun beberapa kali bola yang dioperkan kepada Balde bisa terbaca dan diintersep lawan.

Menit 74, Lizio memiliki peluang emas untuk menjebol gawang Padang. Menerima bola pantulan dari kepala Balde, gocekannya membuat barisan pertahanan Padang panik. Setelah sempat menipu Dedi Gusmawan, di tengah kepungan tiga pemain Padang, Lizio melepaskan tembakan yang menyamping di sisi kiri gawang Teja Paku Alam.

Menit 80, Lizio menunjukkan teknik individu dengan melepaskan bola tendangan penjuru langsung ke gawang Padang. Teja bisa mengantisipasi dengan menepis bola sebelum meluncur masuk ke dalam gawang. Penampilan bagus Teja juga membantu Semen Padang tak kebobolan. Menit 78, dia menepis bola tembakan jarak jauh Ruben Sanadi.

Idealnya: Persebaya bisa menang atas tuan rumah. Apalagi catatan statistik menunjukkan bagaimana Tim Bajul Ijo mendominasi di lapangan: menguasai 55 persen pertandingan, memperoleh 11 tendangan penjuru berbanding dua tendangan penjuru Semen Padang. Namun dominasi itu tidak terkonversi dalam peluang di depan gawang Teja Paku Alam. Persebaya hanya melepasan tujuh tembakan, sama seperti Semen Padang. Bedanya pun tipis. Persebaya melepaskan empat tembakan akurat, sementara Semen Padang melepaskan tiga tembakan tepat sasaran.

Persebaya kini tengah berada dalam pasir isap hasil negatif. Pertandingan melawan Persipura di Gelora Tambaksari pada pekan berikutnya akan menjadi kunci melepaskan diri dari sedotan pasir isap itu. Ini sama krusialnya dengan pertandingan melawan Bali United pada musim lalu. Saat itu kemenangan 1-0 atas Bali United membawa sedikit kelegaan walau akhirnya Persebaya kembali menelan kekalahan demi kekalahan.

Jika mengacu dari pertandingan melawan Semen Padang, ada yang harus diperbaiki dari metode latihan di Persebaya. Kesalahan-kesalahan mendasar seperti salah oper dan kekeliruan dalam membaca pergerakan kawan satu tim menunjukkan belum solidnya racikan skema permainan saat latihan.

Persebaya tak konsisten dalam menentukan waktu kapan menghadapi lawan dengan memainkan serangan dari kaki ke kaki atau mengandalkan umpan-umpan lambung dari belakang. Berbeda dengan PS Tira yang diasuh Rahmad Darmawan, Persebaya ada kalanya tak cukup percaya diri memainkan serangan dari kaki ke kaki dan inkonsisten dalam menerapkan pressing, bahkan saat menghadapi tim papan bawah seperti Semen Padang.

Kuncinya memang ada pada saat latihan. Contoh terbaik bagaimana memoles possession football tentu saja Pep Guardiola. Barcelona maupun Manchester City lapar bola. Mereka selalu berusaha merebut bola, karena hanya dengan mendominasi penguasaan bola, momentum mencetak gol bisa ditentukan sendiri tanpa bergantung pada kesalahan lawan. Kunci bagaimana Guardiola membentuk timnya ada pada metode latihan rondo. Fokusnya adalah menciptakan dan mengeksploitasi ruang. Mereka rajin melakukan pergerakan tanpa bola: sesuatu yang seringkali hilang dari Persebaya.

Sejumlah Bonek mulai menuntut Djajang dicopot dari jabatan pelatih. Opsi ini bisa saja terwujud. Apalagi Djajang sudah menyatakan akan mundur jika memang dikehendaki manajemen. Namun jika mengacu pada musim 2018, pergantian baru dilakukan setelah putaran pertama berakhir. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi pada enam laga sisa mendatang. Djajang sedang berhitung dengan waktu. Sementara pada diri Bonek layaklah jika mulai muncul pertanyaan: tidak kapok nonton Persebaya yang begini-begini saja? [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar