Iklan Banner Sukun
Sorotan

Three Musketeers dan ‘Epic Comeback’ Persebaya

Berapa kali Persebaya Surabaya membuat ‘epic comeback’ dalam sebuah pertandingan yang bakal dikenang para Bonek? Dalam catatan saya, tak ada epic comeback terhebat selain pertandingan kandang melawan Persiwa Wamena pada Liga Super Indonesia musim 2009-2010. Ini ‘thriller’ sembilan gol: Persebaya menang 5-4, setelah sempat tertinggal 0-2 dan 2-4.

Liga 1 musim 2018, saya sempat berharap ada ‘epic comeback’ saat pertandingan kandang melawan Persib Bandung. Persebaya tertinggal 0-3, sempat menyusul dua gol. Namun hari itu tak ada keajaiban: Persebaya kalah 3-4.

Turnamen pramusim Piala Presiden justru ditakdirkan menjadi arena ‘epic comeback’ bagi Persebaya, walau tak semuanya sempurna. Dalam babak perempat final Piala Presiden 2018 di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (3/2/2018), Persebaya kalah 3-4 dari PSMS Medan melalui adu penalti, setelah pertandingan masa normal berakhir 3-3.

Kedua tim terlibat dalam pertandingan adu serang yang menegangkan dan menempatkan Persebaya dalam posisi selalu tertinggal: 0-1, 1-1, dan 1-3, sebelum akhirnya berakhir dengan 3-3, yang berlanjut ke adu penalti.

‘Epic comeback’ terjadi kembali dalam babak penyisihan Grup A Piala Presiden di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu (2/3/2019) malam. Setelah tertinggal 0-2 lebih dulu dari Perseru Serui melalui gol Nur Akbar Munir pada menit 32 dan Delfin Rumbino pada menit 39, Persebaya berhasil membalas melalui dua gol Amido Balde pada menit 69 dan 88, dan Munuchekr Dhzalilov pada menit 90.

Setelah sempat menikmati serangkaian kemenangan telak dalam Piala Indonesia melawan klub-klub divisi bawah (14-0 melawan PSBI Blitar, 4-2 melawan PSKT Nusa Tenggara Barat, 8-0 melawan Persinga Ngawi, 4-1 dan 7-0 melawan Persidago Gorontalo), Persebaya kembali menghadapi lawan sepadan. Perseru Serui adalah lawan yang sulit mereka tundukkan pada Liga 1 musim lalu. Tahun lalu, Persebaya hanya menang 1-0 di kandang dan dihajar 1-3 di kandang lawan.

Kali ini, Persebaya kembali mengalami kesulitan. Mendominasi bola bukan berarti menang mudah. Tertinggal dua gol akibat serangan balik menunjukkan betapa rapuhnya tembok pertahanan Persebaya yang malam itu dijaga Otavio Dutra, M. Syaifuddin, Ruben Sanadi, dan Novan Setya. Gol kedua Perseru juga berasal dari kecerobohan kiper Miswar Saputra yang sudah terlanjur maju keluar dari kotak penalti namun gagal mengamankan bola.

Pressing ketat yang menjadi merek paten Persebaya pada Liga 1 lalu tak tampak. Para pemain Perseru mudah sekali menguasai bola dan melancarkan serangan balik cepat. Misbakus Solikin, Muhammad Alwi Slamat, dan Damian Emanuel Lizo tak ada yang berperan sebagai gelandang bertahan.

Asisten Pelatih ‘Bejo’ Sugiantoro mencoba bereksperimen dari formasi 4-3-3 pada babak pertama menjadi 4-1-3-2 pada babak kedua. Damian Lizio yang semula berada di tengah, digeser menjadi pemain sayap. Dzhalilov ditarik untuk beroperasi di belakang Balde, setelah pada babak pertama bermain di sayap. “Saya ubah Damian Lizio dengan formasi 4-1-3-2, karena saya ingin ambil keuntungan Manu (Dzhalilov) sebagai tembok Balde, muncul dari belakang sebagai scoring,” kata Bejo.

Tim pelatih Persebaya memang patut mempertimbangkan perubahan formasi setelah datangnya Manu Zhalilov, Amido Balde, dan Damian Lizio. Balde, striker kulit hitam asal Guinea-Bissau kelahiran 16 Mei 1991 ini, memiliki catatan karir yang kaya dengan bermain di sejumlah liga: memperkuat Sporting Lisbon di Liga Potugal dan Glasgow Celtics di Liga Skotlandia.

Balde juga pernah 16 kali memperkuat tim nasional Portugal U19 Portugal U20, sebelum akhirnya memilih untuk memperkuat tim senior nenek moyangnya, Guinea-Bissau. Bersama Guinea-Bissau, dia sudah tampil enam kali dan mencetak satu gol. Dari 139 pertandingan level klub di berbagai negara, dia mencetak 21 gol dan 8 assist. Bersama Celtic, dia tampil 20 kali dan mencetak tiga gol dan satu assist. Tak terlampau cemerlang untuk ukuran seorang ujung tombak impor.

Pertanyaan pentingnya: apakah Balde akan bisa sehebat David da Silva, ujung tombak asal Brasil yang pindah ke Pohang Steelers? Dari sisi rekor, Balde lebih mengesankan daripada Da Silva. Pengalamannnya bermain di liga-liga utama Eropa tentu akan sangat membantu untuk beradaptasi dengan sepakbola Indonesia. Namun, gaya Balde berbeda dengan David da Silva.

Tinggi badan mereka relatif sama: Balde 1,93 meter dan Da Silva 1,86. Namun Balde lebih agresif mencetak gol dengan kepala. Dari 12 gol yang dicetaknya dalam empat pertandingan, lima dengan kepala, enam dengan kaki kanan dan kiri, dan satu dengan badan.

Da Silva unggul dalam aksi individu. Sebagian Bonek yang masih belum bisa ‘move on’ dari Da Silva menyebut Balde kurang bisa menggocek bola dan melewati lawan. Mereka juga menyebut Balde belum teruji, karena mencetak gol ke gawang tim lemah. Dua gol yang dicetak Balde ke gawang Perseru sedikit banyak menepis keraguan. Kualitas seorang ujung tombak diukur dari kemampuannya mengonversi peluang menjadi gol, terlepas apakah melalui skema yang indah atau buruk. Balde menunjukkan itu.

Balde memang tak seeksplosif Da Silva. Namun dia pandai membaca pergerakan bola dan menempatkan posisi. Belum lagi tinggi tubuhnya yang di atas rata-rata bek Indonesia, membuatnya selalu menang dalam duel udara.

Balde adalah tipologi ‘nomor 9’ murni. Dia sulit diharapkan bakal secekat Da Silva dalam membantu pertahanan dengan melakukan tekling sejak zona tim lawan. Dia mencobanya beberapa kali saat melawan Perseru. Namun tak sekonsisten Da Silva.

Kemampuannya berduel di udara dan mencetak gol dengan kepala juga bukannya tanpa dampak buruk ke tim. Serangan-serangan Persebaya tak sevariatif saat Da Silva masih bermain. Serangan Persebaya mudah dibaca: sayap mengirim umpan silang ke Balde untuk diselesaikan dengan kepala. Jika serangan Persebaya selalu monoton dengan skema seperti itu, maka suatu saat akan bisa dipatahkan. Ganggu Balde terus-menerus atau sumbat pergerakan dua pemain sayap, termasuk bek Ruben Sanadi yang rajin maju dan mengirimkan umpan silang.

Variasi serangan justru bisa muncul dari Dzhalilov dan Damian Lizio. Dzhalilov memiliki kemampuan menggocek bola dan kecepatan. Begitu juga Lizio yang malam itu dibiarkan bergerak bebas dan mengkreasi umpan-umpan yang menusuk zona pertahanan Perseru. Dalam jajak pendapat kecil-kecilan yang saya bikin di Twiiter, 70 persen Bonek yang emilih Lizio sebagai man of the match.

Kini Persebaya memiliki ‘three musketeer’ atau tiga ksatria yang pandai bertempur. Dengan bereksperimen terus-menerus sebelum Liga 1 bergulir untuk mencari formasi dan komposisi yang tepat, tiga pemain itu bisa menjadi kunci kejayaan Persebaya. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar