Sorotan

Tentang Struktur Cerpen dan Maraknya Latar Pandemi Covid-19

Ribut Wijoto

Baru-baru ini saya menjadi juri lomba cerpen. Ini pengalaman pertama. Biasanya, walau jarang, saya ditunjuk untuk menjadi juri lomba baca atau penciptaan puisi.

Ada satu gejala yang menyita perhatian saya. Pada lomba yang diselenggarakan oleh Less Verder Organize (wadah dari civitas akademik Fakultas Psikologi Universitas Hang Tuah Surabaya) ini, pandemi virus Corona atau Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) mendominasi latar belakang kisah.

Penggunaan latar belakang Covid-19 cukup wajar. Dalam beberapa bulan terakhir, virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China, ini memang memengaruhi seluruh sendi kehidupan masyarakat. Tidak hanya di Surabaya tetapi di tempat-tempat lain, juga dirasakan di seluruh dunia.

Problem utama yang tampak dari karya-karya peserta lomba adalah penggarapan struktur cerpen yang kurang mendalam. Aspek-aspek cerpen semacam alur (plot), latar (waktu, tempat, peristiwa), tokoh dan penokohan, bahasa dan gaya bahasa hanya dipakai sepintas lalu.

Padahal alur penting untuk menggerakkan kisah. Agar kisah menjadi lebih hidup dan menarik perhatian pembaca. Paparan latar bermanfaat menumpangkan bocoran pengetahuan tentang tempat, peristiwa, sekaligus ketajaman perspektif penulis. Tokoh dan penokohan menembak sisi kemanusiaan; pergulatan jiwa dari seseorang.

Adapun bahasa dan gaya bahasa mutlak dieksplorasi sebab itu adalah senjata utama penulis. Semisal musisi, perangkatnya a dalah alat-alat musik; kuas dan kanvas bagi pelukis, sepeda motor bagi pembalap. Penulis minimal harus menguasai tata bahasa formal, rangkaian subjek – predikat – objek – keterangan. Selebihnya seni dari berbahasa alias gaya bahasa. Bahasa adalah kendaraan dari seluruh kisah dalam cerpen.

Beberapa cerpen peserta lomba masih kedodoran dalam penguasaan bahasa. Belum tertib ejaan dan tata bahasa. Beberapa yang lain, kurang mengeksplorasi struktur cerpen. Tulisan, kadang, menjadi lebih mirip artikel atau catatan.

Terlihat dari karya-karyanya, banyak peserta yang bukan berasal dari kalangan sastrawan. Tetapi khalayak umum. Fakta ini sesuai dengan tujuan dari pelaksaan lomba, yaitu merangsang tradisi literasi (membaca dan menulis) bagi seluas-luasnya masyarakat.

Setidak-tidaknya, masyarakat mendapatkan ruang melontarkan pikiran. Mengungkapkan kegalauan rasa. Berpendapat atas segala macam fenomena di lingkungannya, di negara Indonesia, juga di dunia. Mendapatkan ruang untuk merengkuh mimpi, fantasi, rencana masa depan, utopia. Harapan. Panitia lomba memberi ranah kepada masyarakat untuk menuliskan harapan.

Beberapa karya peserta yang tampaknya masih berstatus siswa, ada tanda-tanda pencerahan. Mereka mampu memaparkan fenomena di sekitarnya secara apik. Tentang hubungan sesama siswa, hubungan dengan keluarga, termasuk problem-problem dan harapan kepada situasi yang lebih baik.

Mereka siswa-siswa yang menunjukkan bakat-bakat bagus. Tinggal terus mencoba untuk menulis. Ditunjang dengan memperbanyak membaca, sekaligus lebih mendalami struktur cerpen.

Tidak sedikit pula karya peserta yang kuat dalam cerita, kokoh dalam struktur, dan tajam dalam perspektif. Juri dibuat harus membaca berulang-ulang untuk menentukan formasi juaranya.

Belasan karya memiliki kelebihan masing-masing. Sedangkan lomba cerpen berbeda jauh dengan lomba atletik, yang terukur melalui angka dan statistik. Ukuran cerpen sangat subjektif. Ada yang brilian dalam ide cerita, ada yang memerlihatkan ketekunan memaparkan tempat, ada yang bikin geregetan karena keapikan menggarap penokohan, ada pula yang sukses menggoyang kemapanan pakem struktur cerpen.

Setelah ditimbang-timbang, terpilih 5 karya yang paling menyita perhatian. Terdiri dari karya Teguh Dewangga (Maukah Kau Menziarahi Makam Syekh Kaliwangi), Salwa Khairun Nisa Salsabila (Sauh Kita Tak Lagi Tertambat, Mama), Ulfa Rizqi Putri (Jika Dunia Berakhir Kau Akan Datang Kan), Meliana Griselda (Tenggelam di Atas Cahaya), Derry Saba (Di Hadapan Peti Ketiga).

Hal paling menyedihkan dari seseorang yang didapuk menjadi juri lomba cerpen adalah ‘dipaksa menentukan peringkat’. Menyematkan angka pada sesuatu yang sebenarnya tidak terukur secara pasti. Memilih 3 cerpen dari 5 cerpen yang semuanya bagus. Selanjutnya menentukan juara 1, juara 2, dan juara 3. Maka, dengan berat hati, bismillah, saya memilih 3 karya. Yakni karya Derry Saba, karya Meliana Griselda, karya Ulfa Rizqi Putri.

Karya Derry Saba memerlihatkan penokohan yang kuat. Cerpen ini sudah menyita perhatian sejak alinea pertama. Kegelisahan tokoh Naef Sako di depan peti mati. Jantungnya berdegup, air matanya menitik .

Di hadapan peti mayat yang ia buat, Naef Sako duduk dan merenung penuh gelisah. Jantung di balik dada kurusnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Matanya berair dan bibirnya mengering. Di dalam peti mayat ketiga buatannya itu, ia letakkan beberapa lembar uang seratus ribuan, hasil penjualan dua peti lainnya. Hari ini, dua peti buatannya laris manis – hal yang seharusnya membuat ia bahagia. Dan memang ia bahagia. Tetapi di sisi lain, hatinya dipenuhi kegelisahan dan kesedihan mendalam. Dua imam Tuhan meninggal hari ini.

Sesuai namanya, cerpen (cerita pendek) adalah tulisan singkat. Maka cerpen mengandalkan impuls, ledakan sesaat. Derry Saba meletakkan impuls itu di depan, di alinea pertama.

Seorang pembaca yang sudah tersita perhatiannya oleh alinea pertama maka dia akan senang hati melanjutkan membaca ke alinea-alinea berikutnya. Apalagi di era milenial saat ini, merebak media sosial dan media mainstream; kehadiran cerpen mesti bersaing dengan seabrek tulisan lain di dunia maya. Jika alinea pertama saja kurang menarik perhatian, jangan harap orang akan melanjutkan membaca secara utuh.

Setelah membuat impuls di alinea awal, Derry Saba membuat logika tekstual yang linear di tubuh cerpen. Berupa paparan tentang sebab-sebab Naef Sako gelisah.

Di situ diungkapkan tentang kematian Romo Maxi, seorang imam senior di Keuskupan Atambua. Reputasi Romo Maxi dalan menyelamatkan ratusan warga Timor Leste dalam kerusuhan 1998 telah diketahui masyarakat secara luas. Dan sang tokoh meninggal. Tetapi duka mendalam Naef Sako tidak hanya itu. Peti mati buatan Naef Sako ternyata tidak cukup menampung jenazah Romo Maxi. Pihak keluarga lantas meminta ganti peti mati kepada Naef Sako.

Sesuai adat di Atambua, penggantian peti mati harus disertai ritual khusus dari pihak keluarga. Jika ritual tidak digelar, bencana bakal datang. Tradisi itulah yang menambah duka mendalam Naef Sako. Kegilisahan Naef Sako menemui kenyataan, satu lagi Imam Tuhan meninggal.

Endingnya kembali ke awal, yaitu Naef Sako yang gelisah di depan peti mati ketiga. Dia khawatir ada tamu mengetuk pintu untuk meminta peti mati. Lalu entah siapa, tamu yang dikhawatirkan itu tiba.

Cerpen Derry Saba kuat dalam kisah. Dia memperkaya kisah dengan bocoran pengetahuan tentang tradisi di Atambua dan konflik di Timor Leste. Penokohan cerpen Derry Saba juga kuat. Berupa pergulatan batin menghadapi kenyataan yang dihadapi. Kesemuanya membuat tokoh Naef Sako berpasrah diri, berdoa, menggantungkan harapan pada keputusan Tuhan.

Cerpen karya Meliana Griselda adalah satu dari sekian banyak cerpen peserta lomba yang berlatar belakang pandemi virus Corona. Tetapi Meliana Griselda menggarap dengan cara yang lebih mendalam.

Pandemi Covid-19 tidak diperlakukan sebatas angka-angka jumlah pasien positif, jumlah PDP, dan jumlah ODP. Meliana Griselda juga tidak nerocos tentang protokol kesehatan semata, an sich. Semua tentang Covid-19 itu dileburkan dalam kisah, bagian tidak terpisahkan dari kisah.

Hampir sama dengan cerpen Derry Saba, Meliana Griselda membuka cerita dengan cara menyodorkan sebuah peristiwa tidak biasa. Impuls. Semacam ledakan kecil yang mampu membuat pembaca penasaran.

Pagi ini, badan Sarah bersimbah keringat. Terdapat bercak darah di selimut yang ia kenakan. Dadanya kembang kempis menghirup oksigen sebanyak mungkin, berusaha menstabilkan napasnya untuk menahan kontraksi hebat dalam perutnya. Karena merasa tak tahan, segera ia panggil dokter maupun perawat yang ada di sekitarnya.

Tokoh Sarah hendak melahirkan. Perutnya telah berkontraksi. Siapa saja yang pernah melahirkan tentu merasakan sendiri pengalaman spesial ini. Melahirkan bayi adalah momentun antara hidup dan mati. Perjuangan mengeluarkan bayi yang dikandung dalam rahim selama sekitar 9 bulan.

Lebih khusus lagi, kali ini, ibu yang hendak melahirkan bukan dalam situasi normal. Dia adalah pasien Covid-19. Maka situasinya menjadi lebih runyam. Sarah harus melahirkan di ruang karantina. Dokter dan perawat yang menanganinya harus memakai alat pelindung diri (APD) sesuai dengan protokol kesehatan. Sarah juga tidak bisa ditunggui oleh keluarganya. Bahkan, suaminya pun harus menjalani isolasi mandiri.

Dalam situasi seperti itu, kegalauan Sarah kian membumbung tinggi. Dia juga khawatir bayi yang dilahirkan bakal meninggal. Kalaulah selamat, Sarah khawatir bayinya tertular virus Corona.

Beruntung, Sarah mendapatkan motivasi dari dokter. Termasuk diceritai pula tentang perjuangan tenaga dokter dan perawat yang telah 3 bulan jarang pulang. Para tenaga medis itu harus bersiaga dan selalu merawat pasien Covid-19. Nyawa tenaga medis juga terancam sebab virus Corona sangat mematikan. Namun begitu, para tenaga medis tetap berusaha tegar. Mereka tetap berusaha menumbuhkan semangat dan merawat harapan pasien.

Semangat Sarah berangsur pulih. Ingatan Sarah lantas kembali ke masa lebih lalu. Momentum pertemuan mesra dengan sang suami, Gama, di Malioboro Yogyakarta. Ketika suami istri itu berbahagia menyambut tumbuhnya janin dalam rahim Sarah.

Cerpen ini berakhir menyenangkan. Sarah melahirkan dengan normal, bayinya selamat. Sarah juga mendapat kejutan dari dokter, yaitu Gama diperbolehkan datang ke rumah sakit untuk menunggui persalinan.

Secara umum, Meliana Griselda menuliskan cerpen dengan cara sederhana. Bahasanya formal tetapi lancar. Cerita dengan mudah bisa diikuti pembaca. Dia menggunakan alur maju dengan selipan flash back.

Salah satu keistimewaan cerpen Meliana Griselda adalah pengambilan jarak dengan realitas. Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang, Meliana Griselda berhasil mengambil jarak. Sehingga dia bisa melihat realitas secara lebih jernih. Selanjutnya, dia menciptakan kisah yang utuh dan sublim.

Cerpen karya Ulfa Rizqi Putri mengambil jalur yang berbeda dibanding cerpen Derry Saba dan cerpen Meliana Griselda. Melalui cerpen berjudul “Jika Dunia Berakhir Kau Akan Datang Kan”, Ulfa Rizqi Putri tampak mencoba berinovasi di wilayah struktur.

Cerpen Ulfa Rizqi Putri memadukan puisi dengan cerpen. Cerita dibagi dalam 6 bagian atau mungkin bisa disebut scene. Tiap bagian dimulai dengan kalimat puisi.

kita berada di dalam mimpi
rupanya menyenangkan

Setelah kalimat puisi itu, Ulfa Rizqi Putri melanjutkan dengan kisah. Kalimat-kalimat yang berisi peristiwa yang melibatkan tokoh. Juga pikiran ataupun imajinasi dari tokoh.

Kalimat dalam cerpen Ulfa Rizqi Putri kerap kali cukup puitis, liris. Bermakna ganda. Tampak bahwa Ulfa Rizqi Putri berusaha melampaui artian harafiah, artian kamus. Satu kalimat bisa menjangkau beberapa realitas makna. Sehingga kadang lebih mirip bahasa puisi dibandingkan bahasa cerpen. Meskinpun, tentu saja, bahasanya tidak sepadat bahasa puisi.

Saya harap saya tengah berada di sebuah mimpi seorang gadis kecil. Namun, mimpi ini terlalu tidak menyenangkan baginya yang bahkan baru saja kehilangan dua gigi depan. Ia harap ia akan terbangun dan menemukan kedua orang tuanya berlari dan mendekapnya dengan kasih.

Pilihan bentuk cerpen dari Ulfa Rizqi Putri bukannya tanpa risiko (inovasi memang selalu mengandung risiko). Bahasa yang terlalu puitis menyebabkan kisah menjadi samar. Pembaca sulit membayangkan peristiwa dalam cerpen seperti peristiwa dalam realitas. Sumir. Tetapi jika memang ini adalah kesengajaan dari penulisnya, pembaca pun terpaksa harus mengikuti.

Yang jelas, usaha inovasi dari Ulfa Rizqi Putri patut mendapat apresiasi. Dia telah selesai dalam urusan bahasa formal dan struktur formal. Dia mencoba mengeksplorasi struktur cerpen untuk menjangkau formula yang lebih luas, lebih menantang.

Termasuk pula dalam memberi arti tentang harapan. Memang pada akhirnya, cerpen Ulfa Rizqi Putri menggantungkan harapan pada takdir Tuhan. Namun sebelum terhenti pada takdir, cerpen Ulfa Rizqi Putri menempuh banyak peristiwa. Lalu pada tiap peristiwa, pintu pengalaman terbuka lebar. Selebar pintu tafsir yang disemburkan oleh pilihan gaya bahasa Ulfa Rizqi Putri.

Begitulah, penilaian tentang cerpen memang sangat subjektif. Pintu diskusi atau perdebatan selalu terbuka. Justru, karya bakal semakin matang bersamaan dengan kritik dan apresiasi. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar