Sorotan

Teknik Puisi Surealis Vicente Aleixandre

Ribut Wijoto

Andre Breton dalam Manifesto Surealisme, tahun 1936, mengenalkan surealisme sebagai pola penyajian yang mirip dengan psikoanalisa Sigmund Freud, yaitu pola realitas mimpi. Ada banyak logika dalam satu realitas, ada banyak teks dalam satu teks, ada banyak ruang dalam satu waktu, ada banyak waktu dalam satu waktu. Karya puisi surealis dibentuk oleh jalinan teks-teks kecil yang membangun satu kesatuan.

Perihal puisi surealis, ini saya kutipkan salah satu puisi penyair Spanyol, Vicente Aleixandre. Dia pemenang Nobel Sastra tahun 1977.

HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun, bayanganmu menjelma hujan.
Hari terbuka dalam kenanganku. Kau pun masuk.
Tak kudengar. Kenangan tak memberikan apa pun, hanya bayanganmu.

Hanya ada ciumanmu dan hujan turun.
Suaramu rintik hujan, ciumanmu yang duka rintik hujan,
ciumanmu yang menggores,
ciuman yang kuyup oleh hujan. Bibir basah.
Basah oleh kenangan, ciuman pun menangis
air matanya menitik
dari langit kelabu lembut.
Hujan jatuh dari cintamu melembabkan kenangan-kenanganku
dan terus menitik. Ciuman
jatuh begitu deras. Dan hujan kelabu
terus berjatuhan.

Puisi ini tampaknya sederhana. Bicara tentang cinta, rindu, dan kenangan. Materialnya juga sederhana: mengeksplorasi hujan dan ciuman. Tapi coba ikuti imajinasinya.

Puisi dibuka dengan realitas sehari: Malam ini hujan turun. Tapi tiba-tiba disambung dengan bayanganmu menjelma hujan. Aku lirik (tokoh aku di dalam puisi) terkenang dengan seseorang, mungkin kekasihnya. Terkenang oleh ciuman, dan hujan turun. Apakah hujan dalam baris pertama sama dengan hujan pada baris keempat? Bisa jadi sama, bisa jadi tidak.

Disambung dengan Suaramu rintik hujan, ciumanmu yang duka rintik hujan. Kata hujan pada baris kelima ini justru sudah bukan perwakilan dari realitas lagi. Hujan sudah menjadi kata keterangan. Sebuah pengandaian. Dan bisa jadi, berbeda pula dengan hujan pada baris ketujuh.

Perihal kenangan, apakah kata kenangan dalam baris kedua sama artinya dengan kenangan pada baris kedelapan. Sepertinya juga tidak.

Lalu ada ciuman yang menangis. Ciuman yang menitikkan air mata. Dari langit kelabu lembut. Hujan jatuh dari cintamu melembabkan kenangan-kenanganku. Pada ilustrasi ini, hujan justru jatuh dari cinta kekasihnya. Hujan yang melembabkan kenangan.

Ditambah gambaran, ciuman jatuh begitu deras. Nah, di akhir-akhir ini, hujan bukan lagi menjatuhkan air. Yang jatuh dari hujan justru ciuman.

Begitulah puisi surealis. Menyeruakkan banyak lapis makna. Mendedahkan banyak citraan, banyak gambaran. Banyak realitas yang menumpuk, berseberangan, bertabrakan, dan saling berebut makna. Seperti kita bermimpi. [but]

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar