Sorotan

Teknik Puisi Indra Tjahyadi

Ribut Wijoto

Masyarakat menggunakan bahasa secara denotatif atau sesuai makna kamus. Puisi, kerap kali, menggunakan bahasa denotatif sekaligus konotatif atau melampaui makna kamus.

Ketika masyarakat berbicara, ‘saya sedang makan di warung’maka yang dimaksud memang dia sedang makan di warung. Tetapi beda dengan penyair, kalimat yang sama bisa melampaui makna aslinya. Makna ganda. Makna pertama adalah makna denotatif. Makna kedua adalah makna konotatif.

Pencapaian bahasa yang denotatif sekaligus konotatif ini tentu membutuhkan teknik khusus. Untuk memerjelasnya, bisa disimak teknik puisi Indra Tjahyadi. Seorang penyair yang juga dosen di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, dan Universitas Panca Marga Probolinggo.

Kita pun terus bercakap tentang berbagai hal yang dulu sering kita lakukan bersama, meski di halaman hujan turun deras, dan malam sedingin demam, dan tubuhmu terbaring tenang di dasar kubur, di sudut taman depan rumah.

Puisi Indra Tjahyadi itu diunggah dalam media sosial Facebook, 12 Desember 2020. Puisi tanpa judul. Sama seperti umumnya status. Tetapi karena ini statusnya penyair, dan memang kalimatnya puitis, kita bisa menyebutnya sebagai puisi.

Puisi Indra tersebut hanya berwujud 1 bait, 1 kalimat pula. Terdiri dari 1 induk kalimat dan 4 anak kalimat. Induk kalimat adalah bagian yang sudah memiliki makna utuh. Sedangkan anak kalimat lebih berfungsi sebagai pelengkap makna dari induk kalimat. Sehingga, anak kalimat tidak bisa berdiri sendiri.

Induk kalimat dari puisi Indra Tjahyadi tampaknya pada bagian ‘kita pun terus bercakap tentang berbagai hal yang dulu sering kita lakukan bersama’. Pada induk kalimat ini, kita bisa membayangkan dua orang yang sedang bercakap-cakap. Ada 2 waktu dalam induk kalimat tersebut. Waktu kekinian, dua orang yang sedang bercakap-cakap, dan waktu lampau, yaitu percakapan tentang berbagai hal yang dulu sering dilakukan oleh keduanya.

Sampai di sini, bahasa puisi Indra Tjahyadi masih sama dengan bahasa masyarakat. Begitu pula dengan 2 anak kalimat berikutnya: ‘meski di halaman hujan turun deras, dan malam sedingin demam’. Pembaca masih bisa membayangkan kalimat tersebut sebagaimana kejadian dalam kehidupan keseharian.

Persoalan muncul ketika memasuki anak kalimat ketiga: ‘dan tubuhmu terbaring tenang di dasar kubur’. Anak kalimat ini bertolakbelakang dengan makna dari induk kalimat. Terjadi lompatan logika di situ. Kata ‘kita’ dalam induk kalimat artinya adalah ‘aku’ dan ‘kamu’. Tokoh aku (atau aku lirik) dan tokoh kamu yang bercakap-cakap. Tetapi ternyata dalam anak kalimat ketiga dijelaskan, tokoh kamu dalam dalam puisi tersebut sudah mati. Dia terbaring tenang di dasar kubur.

Munculnya anak kalimat ketiga ini menarik pembaca untuk untuk memaknai ulang induk kalimat. Induk kalimat yang semula berstatus denotatif menjadi konotatif. Dengan kata lain, anak kalimat merapuhkan makna induk kalimat. Bahkan menghancurkannya.

Pembaca menjadi membayangkan beberapa kemungkinan. Percakapan dalam induk kalimat, bisa jadi, adalah percakapan seseorang dengan dirinya sendiri. Sseseorang yang terkenang tentang berbagai peristiwa yang dijalani dengan orang lain yang telah meninggal.

Oleh sebab status induk kalimat berubah dari denotatif ke konotatif maka status 2 anak kalimat sesudahnya juga perlu dipertanyakan. Apakah denotatif ataukah konotatif. Pertanyaan-pertanyaan yang terus bergelibat sampai pada anak kalimat terakhir: ‘di sudut taman depan rumah’.

Begitulah, pemakaian bahasa denotatif sekaligus konotatif, juga lompatan logika, pada kalimat puisi Indra Tjahyadi membuat pembaca memproduksi beragam tafsir. Beragam kemungkinan makna. Beragam pengalaman. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar