Sorotan

Techno Poem Atawa Puisi Elektronik

Ribut Wijoto

Kami berempat dipertemukan oleh kegelisahan yang sama, keinginan yang sama, utopia yang sama. Yakni, keinginan mengeksplorasi kultur Sidoarjo melalui cara di luar mainstream. Sebab berlatarbelakang sastra dan musik, kami mengusung genre musikalisasi puisi bertitel Techno Poem Atawa Puisi Elektronik.

Mengapa kami memilih Techno Poem Atawa Puisi Elektronik?

Secara umum musikalisasi puisi didominasi oleh pemakaian musik akustik. Gitar, bongo, seruling, kadang gamelan. Pemilihan alat musik akustik selaras dengan suasana kontemplasi, permenungan, dan merasuk jauh ke relung jiwa.

Kami berempat (Rbut Wijoto, I Gusti Bagus Sonny alias Sonix, Rafif Amir, Rizki Amalia) memilih jalur yang berbeda. Kami ingin kegembiraan.

Melihat dunia dengan cara pandang kegembiraan. Ceria. Sudah terlalu banyak derita dunia, terlalu sering tertimpa kepahitan hidup, rutinitas beban kerja yang menyerobot ruang humor manusia. Kami tidak ingin turut larut ke dalamnya. Tidak ingin menambah derita dunia. Kami ingin mengajak orang-orang lain dalam pusaran kegembiraan.

Kegembiraan yang tentu dengan tidak meninggalkan kompleksitas kehidupan. Kami tidak mengabaikan kepahitan, derita, nestapa. Kami hanya ingin melihat kompleksitas hidup dengan perspektif kegembiraan.

Maka, kami mengusung puisi yang mengambil diksi (pilihan kata) berwatak positif. Memaksimalkan aliterasi atau perulangan-perulangan. Mengeksplorasi ruang imajinasi yang atraktif. Termasuk pula mengadopsi kreol atau ragam bahasa keseharian masyarakat.

Kami tidak takut jatuh pada kebanalan. Tidak khawatir terhadap pendangkalan karya puisi. Sebab ketika kami meleburkan diri pada kultur keseharian masyarakat dan mengambil aspek kegembiraannya, bagi kami, itulah varian lain dari sebuah kebenaran artistik.

Techno Poem Atawa Puisi Elektronik, kami memilih genre musik techno karena kami nilai cocok dengan konsep ekstetik yang kami usung. Sebuah musik yang dicirikan oleh suara bas yang menonjol serta irama cepat, antara 115 hingga 300 beat per menit. Musik yang biasa dipakai untuk mengiringi pesta joget.

Tentu bukan joget semata. Bukan gembira semata.

Pada joget kami, pada kegembiraan kami, ada nilai-nilai spiritual. Melaui dentuman bas dari alat musik elektronik, kami ingin mengajak orang-orang untuk melakukan pengembaraan spiritual. Katarsis. Trance.

Menyatukan diri pada Ilahi. Menjauhkan diri dari golongan orang-orang yang memberhalakan pasar, industri, birokrasi, rasionalitas, kotornya kekuasaan politik. Beribadah kepada Tuhan dengan cara yang gembira.

Untuk pertama kalinya, kami menampilkan karya pada acara Jatim Art Forum, Kegiatan Sastra, kerja bareng Dewan Kesenian Jawa Timur (DK Jatim) dengan Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), hari Minggu malam (6 Desember 2020) di Sidoarjo. Mengusung puisi berjudul ‘Damarsi, Sebuah Desa dengan Nama Lampu’ karya Ribut Wijoto.

Pada karya perdana ini, kami mengeksplorasi beragam kode kultural – geografik Sidoarjo. Utamanya di daerah Damarsi, sebuah desa yang dikelilingi tambak. Sebuah desa yang juga dipenuhi perumahan dan kaplingan baru. Di desa ini, kultur tradisional (semacam ritual adat) masih berlaku, bersanding dengan kultur modern yang dibawa oleh para pendatang.

Modalitas kultural – geografik itulah yang kami eksplorasi dan kami wujudkan dalam bentuk musikalisasi puisi, techno poem.

Sonix menyelipkan banyak soundscape pada komposisi musiknya. Mesin elektronik KORG Electribe EMX1 milih Sonyx mengadopsi suara kecipak ikan bandeng, suara kodok, suara hembusan angin basah khas daerah delta, suara riuh rendah pesta panen di tambak udang.

Amalia duduk bersimpuh melantunkan larik-larik puisi dengan langgam Jawa. Tangannya memegang kembang yang biasa dipakai untuk nyekar. Kembang yang disebar ke beberapa bagian panggung. Semacam ritual.

Ribut bergerak ritmis seperti robot. Ketika ritme hentakan musik kian cepat, dia bergerak kian cepat. Seperti trance.

Rafif menggerakkan tubuh layaknya joget dangdut. Kadang tampak seperti petani mengayuh sepeda di area sawah atau area pertambakan.

Kesemuanya membaur. Silih berganti. Mencipta komposisi techno poem atawa puisi elektronik yang diserap dari kekayaan kultural – geografik Sidoarjo.

Respon audien ternyata cukup beragam. Ada yang berdiam diri dengan tatapan mata terus tertuju ke panggung. Ada yang pelan-pelan menggerakkan kepala mengikuti irama musik. Ada yang bertepuk-tepuk tangan. Ada pula yang malah menggerakkan tubuh sembari berteriak bersahutan seakan lebur dalam suasana. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar