Sorotan

Teater Surabaya Tahun 1972 – 1993

Ribut Wijoto.

Dewan Kesenian Surabaya (DKS) memiliki peran penting dalam aktivitas teater di Surabaya. Setidaknya itulah yang tercatat dalam kurun waktu 1972 hingga tahun 1993.

Tulisan ini mencoba mencatat ulang aktivitas perteateran di Surabaya, sejauh terkait dengan institusi DKS. Keterkaitan berupa produksi drama, tempat pementasan, workshop, maupun program pembinaan.

Oleh sebab sebatas esai, tulisan ini tidak memakai metodologi sejarah. Sebatas impuls. Percikan kecil. Data dari berbagai sumber ditulis ulang. Dan tentu saja, banyak peristiwa penting lain yang luput, yang tidak terjangkau oleh esai ini.

Tanggal 2 – 17 Juli 1972, Dewan Kesenian Surabaya bekerjasama dengan Departeman P & K mengadakan workshop drama. Ini merupakan workshop drama pertama di Surabaya, juga Jawa Timur. Catatan dari pemberitaan harian Sinar Harapan (14 Agustus 1972), pelatih workshop didatangkan dari Jakarta dan jumlahnya hanya 5 orang. Sehingga mereka terpaksa banting tulang bekerja pagi hingga sore. Kelima juri terdiri dari Pranadjaya (materi olah vokal), Arifin C Noer (materi akting keaktoran), Kasim Ahmad (materi sejarah teater), Rudjito (materi artistik pementasan), dan Pramana (materi tentang pementasan).

Akhir Juli 1972, Dewan Kesenian Surabaya mementaskan 2 drama. Pertama, pentas drama dari Teater Aksera berjudul ‘Pour-Soi’ yang naskahnya ditulis oleh Hari Matrais. Kedua, pentas Teater Pensiter dengan naskah drama ‘Dari Nol’ yang dikarang oleh Akhudiat. Menurut Muhammad Ali, pentas ‘Pour-Soi’ merupakan gabungan antara puisi, irama, gerak, dan tragedi. Sedakang pentas ‘Dari Nol’ oleh Muhammad Ali disebut hasil eksperimennya ekstrem dan serba abstrak.

Tanggal 21 Desember 1972, di gedung Mitra, Dewan Kesenian Surabaya mendatangkan Teater Alam dari Yogyakarta. Melalui sutradara Azwar AN, mereka mementaskan naskah ‘Si Bakhil’ dari Moliere, seorang penulis Perancis, yang diterjemahkan oleh Nur Sutan Iskandar. Naskah komedi ini digarap dengan memasukkan unsur-unsur seni tradisional Jawa, semisal ludruk dan randul Klaten.

Tahun 1973, Dewan Kesenian Surabaya memproduksi sendiri pementasan drama. Naskah yang dipilih adalah ‘Lawan Catur’ karya Kenneth Sawyer Goodman atau dikenal dengan Kenneth Arthur, seorang penulis naskah teater asal Amerika Serikat. Naskah berjudul asli ‘The Chess’ ini ditulis pada 1916 dan mengambil setting kisah revolusi Rusia 1904.

Tanggal 21 dan 22 Agustus 1974, di Gedung Mitra, Dewan Kesenian Surabaya bekerjasama dengan Dakwah Mujahidin Surabaya menggelarkan sebuah pementasan drama kolosal berjudul ‘Salman El Farisi’. Drama ini dimainkan oleh kelompok Studi Teater Bogor dengan menggandeng kelompok Teater Yasmara Surabaya.

Drama Kolosal yang telah mendapat sukses di Jakarta selama pertunjukan 3 malam berturut-turut di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki jakarta disutradarai Umar Machdam. Asisten Sutradara Mayawati Diredja. para pemain diantaranya: Im Kharamah, Mayawati Diredja, Putu Sri Sundari, dan para anggota Teater Yasmara Surabaya.

Dewan Kesenian Surabaya menggelar Parade Drama Se-Surabaya pada 18-22 November 1974. Parade diikuti oleh 11 kelompok teater. Terdiri dari Teater Aksera, Bengkel Muda Surabaya, Teater 6 Januari ’73 Art, Teater Melati, Teater Merdeka, Teater Kerikil, Teater hu, Teater Sandradekta, Teater Patriana, Teater Komidia, dan Teater Lekture.

Produksi drama kedua Dewan Kesenian Surabaya disutradarai oleh Basuki Rahmat. Mengambil naskah ‘Anastasia’ karya Marcelle Maurette, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Basuki Rahmat, pentas di gedung Mitra, 11 Februari 1975 ini mendapat respon bagus dari masyarakat. Penonton memenuhi gedung.

Respon bagus ini dimungkin oleh garapan yang melibatkan beberapa kelompok teater, yakni Bengkel Muda Surabaya, Teater Merdeka, Sandradekta, dan Lekture. Para pemainnya juga tokoh-tokoh handal, yaitu Anang Hanani, Nunuk Sugiarto, Bambang Sujiyono, Niki Kosasih, Ny. Mai B Poedjianto, Koeswandono, Marzuki, Vencentius Djauhari, Hare Rumemper, Anna Iksan, serta Soenarto Timoer. Staf produksi tidak kalah keren, yaitu Hazim Amir, Amang Rahman, Rony Tripoli, Bawong SN, Amir Kiah, Fadjar Randah, Budi Sr, serta Tadjuddin Nur. Secara artistik, garapan memang juga berhasil. Gagasan dari sutradara Basuki Rahmat bisa diterjemahkan secara apik oleh para aktornya. Sayangnya, drama 3 babak ini memakan waktu cukup lama. ketika babak 2 berakhir, jam menunjukkan waktu pukul 23.00 WIB, beberapa penonton meninggalkan gedung karena takut kemalaman.

Hari Jumat (21 November 1980), Ketua DKS Gatut Kusuma diwawancarai oleh Daniel Tifa (wartawan Suara Karya). Hasil wawancara dimuat hari Kamis (27 November 1980). Dalam wawancara itu, Gatut Kusuma menilai perkembangan minat dan gairah seni drama di Kota Surabaya meningkat. Tapi peningkatan tersebut baru dalam taraf ;kuantitatif; dan jauh dari ukuran mutu.

Dikatakan oleh Gatut Kusuma, penyutradaraan drama secara teknis dapat dipelajari. Tapi akting adalah seni. Dalam berakting orang perlu ekspresi yang tidak terlepas dari pencerminan watak. Maka untuk meningkatkan mutu, DKS berusaha mengarahkan dan membina para insan teater melalui kelompok-kelompok diskusi.

“Seorang sutradara harus mengetahui watak pemain. Selain itu, ia perlu memiliki pengertian-pengertian yang mendalam tentang sebuah drama, punya persepsi intelektual disamping ketekunan serta ketrampilan,” tukasnya. Hal-hal inilah yang tidak dimengerti sehingga mutu penampilan sebuah drama mengecewakan,” kata Gatut Kusuma.

Sejak awal tahun 1980-an, DKS memiliki program Bina Teater yang disiarkan pada tiap Jumat minggu kedua di TVRI Surabaya. Program ini diasuh oleh Hardjono WS. Program ini sangat berhasil. Selama Bina Teater berlangsung, DKS banyak menerima surat dari daerah-daerah di seluruh penjuru Jawa Timur. Rata-rata isinya pertanyaan, saran, kritik, maupun pujian.

Tri Sumardjo, koordinator pengarah acara bidang teater di TVRI, menyatakan bahwa adanya kritik dan masukan pada suatu acara sangatlah wajar. Bahkan, hal itu menandakan acara mendapat perhatian dari masyarakat.

Bulan Februari 1985, Hardjono WS mengundurkan diri karena kesibukannya mengajar. Program ini lantas dilanjutkan secara bergantian oleh Sam Abede Pareno, Basuki Rahmat, Ronny Tripoli, dan Hare Rumamper.

Sabtu malam (24 Mei 1986), Teater Gandrik Yogyakarta mementaskan lakon ‘Pensiunan’ di Galeri DKS. Sebuah tontonan yang sarat humor. Semua penonton yang berdesakan di galeri DKS seakan-akan tersirap oleh guyonan dan adegan yang renyah. Bahkan karena ruangan galeri tidak cukup, disediakan televisi besar untuk penonton yang berada di luar. Naskah lakon ‘Pensiunan’ ditulis oleh Heru (seorang mahasiswa filsafat UGM) dan disutradarai Jujuk Prabowo.

Penonton yang berjubel dan meluber sampai ke serambi Galeri DKS kembali terjadi saat pementasan Teater Lekture, Minggu (10 Mei 1987). Teater asal Sidoarjo itu mementaskan lakon ‘Zat’ karya Putu Wijaya. Sayangnya, pementasan menjadi tersendat-sendat karena ada gangguan listrik.

Dua hari berikutnya, Galeri DKS mementaskan drama berjudul ‘Lukisan’ yang dibawakan oleh Hardjono WS dan Yuditha Ratih. Naskah yang ditulis sendiri oleh Hardjono WS ini menyodorkan problema seorang pelukis dalam menjalani kehidupan keseharian bersama istrinya. Problem sang pelukis adalah terlalu lama tidak menghasilkan karya. Sehingga, dia merasa dilecehkan oleh masyarakat, termasuk oleh istrinya sendiri.

Muqit Facturohzi mementaskan lakon ‘Citra’ karya Usmar Ismail di Galeri Surabaya selama 2 hari, yaitu 20 – 21 Juni 1987. Pementasan ini dinilai penonton kurang berhasil. Penilaian yang dibenarkan Muqit sendiri. Menurut Muqit, dia terkendala oleh aktor yang berulang kali ganti. Padahal dia sendiri merasa sudah bekerja keras untuk mencapai konsepsi ideal tentang pemanggungan Citra.

Kamis malam (30 Juli 1987), Galeri DKS menjadi ruang pementasan drama dari Bengkel Muda Surabaya (BMS) dengan sutradara Amir Kiah. Meski harus membayar, dengan harga tiket Rp 500, penonton penuh sesak. Padahal BMS tidak sedang menyertakan pemain-pemain seniornya tetapi mengandalkan pemain-pemain muda. Penonton teater Surabaya yang biasanya suka nyinyir dan melontarkan cacat-catat kali ini dibikin terkesima. Saat diskusi digelar usai pementasan, mayoritas penonton memberikan apresiasi dan pujian.

Ada catatan unik yang dimuat di harian Surabaya Post (Senin, 3 Agustus 1987) tentang pementasan drama ‘Aduh’ dari Bengkel Muda Surabaya ini. Catatan terkait tiadanya kritis keras atas pementasan. “Selama ini pentas teater di Surabaya selalu diwarnai pembantaian saat diskusi. Dan kalau kali ini hal itu tidak terjadi, maka, kemungkinannya cuma dua. Pertama, tontontan kali ini memang dinilai bagus sehingga tidak pantas dibantai. Kedua, yang selama ini gemar membantai mungkin justru ‘mereka’ sendiri”.

Penonton teater di Surabaya mungkin memang termasuk tak mudah kompromi. Ketika Teater Cikar Surabaya mementaskan monoplay berjudul ‘Kang Darji’ di Loka Seni DKS, Kamis malam (3 Agustus 1989), penonton berjumlah sekitar 100 orang. Selama pementasan berlangsung, beberapa penonton mengobrol sendiri, dan di tengah-tengah permainan, banyak dari penonton yang meninggalkan ruangan. Penonton mengaku, tata cahaya Teater Cikar terlalu suram sehingga membosankan. Terlebih, vokal aktor kurang kuat sehingga tidak terlalu jelas lafalnya.

Agar dunia teater di Surabaya kian berkembang, DKS menggulirkan program Lomba Drama Lima Kota (LDLK). Lomba berlangsung dua tahun sekali. Selain pementasan, LDLK juga diisi dengan diskusi yang membahas topik-topik aktual di bidang teater. Ketika LDLK ke-7 tahun 1991 misalnya, DKS mendatangkan Mulyadi Kartasasmita dan Elizabeth Lutters sebagai narasumber diskusi.

Dewan Kesenian Surabaya juga memiliki program Parade Drama DKS. Walau diprogramkan oleh DKS, acaranya dilangsungkan di gedung Cak Durasim. Pada Parade Drama DKS I tahun 1993, peserta sebanyak 8 kelompok teater. Mereka tampil dengan disaksikan 4 juri, yaitu Akhudiat, Noto Anindyo, Muktijo, dan Zauddin. Parade diakhiri dengan work shop. “Dengan demikian peserta parade mengetahui, dan pada pementasan di mendatang, mereka dapat membenahinya,” kata Aribowo, Ketua Presidium DKS, Selasa (17 Mei 1993). [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar