Sorotan

Tanggapan Tulisan Oryza: Harapan, Kepuasaan dan Kekecewaan

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.

Terlalu dini, menilai kepemimpinan kepala daerah yang belum genap 100 hari setelah resmi dilantik, Jumat, 26 Februari 2021. Apalagi, kepala daerah tersebut berasal dari luar rahim birokrasi pemerintahan sebelumnya.

Surabaya, Banyuwangi dan Jember, seperti tulisan Oryza A Wirawan “Mewaspai Ekspektasi Tinggi” (Beritajatim, 18 Maret 2021) dan Aga Suratno “Ekspektasi dan Revisi” (Beritajatim, 19 Maret 2021), tak bisa dibandingkan apple to apple. Jelas, ketiga daerah tersebut punya geopolitik tersendiri. Wali Kota Eri Cahyadi adalah kader birokrasi Ibu Tri Rismaharini yang melegenda sebagai kepala daerah berprestasi. Bupati Ipuk Fiestiandani adalah istri dari Mas Abdullah Azwar Anas yang melegenda sebagai kepala daerah berprestasi pula.

Keduanya mencerminkan mayoritas kehendak rakyat yang ingin status quo. Frasa status quo berasal dari Bahasa Latin yang artinya, harapan rakyat menginginkan keadaan yang ada seperti keadaan sebelumnya. Harapan tersebuat merupakan buah dari kepuasan publik terhadap hasil kinerja pemimpin terdahulu.

Berbeda halnya dengan Bupati H Hendy Siswato, penantang incumbent yang tak pernah menggondol gelar kepala daerah berprestasi. Bupati CEO Sevendream Group ini mencerminkan kehendak rakyat yang ingin perubahan.

Perubahan merupakan suatu keadaan yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Rakyat berharap pemimpin yang berbeda dalam banyak hal dengan pemimpin terdahulu. Harapan ini merupakan cermin dari kekecewaan terhadap hasil kinerja kepala daerah yang ada waktu itu.

Barang tentu, suasana kebatinan pemimpin dan rakyat Surabaya, Banyuwangi dan Jember, berbeda jauh. Satu sisi ekspektatif dan sisi lain non ekspektatif. Ekspektasi bisa merujuk pada Vroom’s Expectancy Theory (teori harapan Vroom’s).

Victor H Vroom dalam buku Work and Motivation menyatakan, bahwa harapan merupakan persepsi korelasi antara upaya, kinerja dan hasil yang menguntungkan timbal balik. Makna keuntungan di sini bukan hanya untuk diri pribadi tapi juga untuk orang banyak.

Publik punya sensitivitas ekspektatif terkait dengan upaya, kinerja dan hasil di atas. Seratus hari pertama pemerintah daerah merupakan golden age bagi wali kota dan bupati untuk memenuhi harapan rakyat. Semua mata tertuju terhadap apa yang dilakukan kepala daerah, baik dari koalisi maupun oposisi.

Dari awal pemerintahan ini, nampak terlihat benih cinta dan benci rakyat terhadap sang pemimpin. Semua bergantung pada selebrasi program pro poor, pro job and pro growth. Di rezim walfare state ini, setiap pemimpin harus memproyeksikan kesejahteraan rakyat di atas yang lain.

Bila tidak, alamat rakyat akan menghukumnya. Sang kepala daerah akan kehilangan bulan madu bersama rakyat dengan cepat. Hari-hari akan dipenuhi dengan sumpah serapah, kepercayaan, dukungan dan rasa hormat rakyat akan hilang musnah.

Menjadi kepala daerah dengan ekspektasi yang tinggi, semisal menghadapi orang baper. Apalagi bagi Jember yang broken heart terhadap sepak terjang pemimpin sebelumnya, rakyat pasti lebih sensitif dan kritis. Bupati H Hendy mesti ekstra hati-hati, salah-salah cinta berbalas benci, dari para pendukungnya sendiri sebagai akibat salah me-manage sumber dukungan politiknya yang dimiliki.

Dalam suasana patah hati rakyat, semua serba over. Cintanya berlebih dan bencinya pun sama. Sang pemimpin dituntut lebih bisa mengayomi dan melindungi.

Kata pepatah Arab, “Ahbib habibaka haunan ma, ‘asa an yakuna baghidhoka yauman ma. Wa abghidh baghidhoka haunan ma, ‘asa an yakuna habibaka yauman ma” (Cintailah kekasihmu itu sekedarnya saja, boleh jadi kamu akan membencinya suatu ketika. Dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja, boleh jadi kamu akan mencintainya suatu ketika).

Saya yakin Bupati H Hendy dan Wakil Bupati Gus Firjaun, termasuk penghayat lagu Kemesraan Iwan Fals. Untuk mengakhiri analisa psikopolitik ini, saya kutipkan lirik lagu tersebut. (ted)

Suatu hari
Dikala kita duduk di tepi pantai
Dan memandang
Ombak di lautan yang kian menepi

Burung camar
Terbang bermain diderunya air
Suara alam ini
Hangatkan jiwa kita

Sementara
Sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu
Mengalunkan melodi tentang cinta

Ada hati
Membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu []

*Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.



Apa Reaksi Anda?

Komentar