Sorotan

Tangan Malaikat dan Serba Liverpool di Gelora Bung Tomo

Istanbul, Turki, 25 Mei 2005. Nesta mengirimkan bola lambung ke depan gawang Liverpool. Ujung tombak AC Milan asal Ukraina, Andriy Shevchenko yang berjarak sekitar lima meter dari mulut gawang menanduk bola siap saji. Semua pendukung AC Milan melompat hendak merayakan keunggulan. Sheva tak mungkin meleset. Namun keajaiban terjadi: Dudek menjatuhkan diri menghadang bola. Bola kembali ke Sheva, dan dengan jarak hanya satu meter. Namun bola tendangannya masih bisa ditepis kiper asal Polandia.

Sheva memegang kepalanya tak percaya. “Dudek membuat penyelamatan hebat. Saya tidak percaya bola tidak masuk ke gawang,” katanya, satu dasawarsa.

Gelora Bung Tomo, Selasa 21 Mei 2019. Dudek seperti menitis pada kiper Persebaya Abdul Rohim pada menit 69. Pemain depan Kalteng Putra, Diogo Campos, yang berdiri bebas di sayap kiri Persebaya, mengirimkan bola lambung area penalti. Ferinando Pahabol dengan cerdik menyongsong bola yang jatuh di antara Novan Sasongko dan Rachmat Irianto.

Hanya berjarak satu meter dari mulut gawang. Namun bola tendangan Pahabol masih bisa ditepis dua kali oleh Rohim. “Tangan malaikat,” tukas Valentino Simanjuntak, komentator televisi swasta yang menyiarkan pertandingan itu.

Penyelamatan Rohim yang berbau ‘Liverpudlian’ ini bukan satu-satunya ‘aroma serba Liverpool’ dalam pertandingan pekan kedua kompetisi Liga 1 itu. Di luar kebiasaan, terdengar reffrain lagu You’ll Never Walk Alone, sebuah lagu kebangsaan klub dari Inggris itu yang kali ini dinyanyikan Bonek.

Walk on
Walk on
With hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone

Gol Misbakus Solikin pada menit 23 sangat tipikal Steven Gerrard, legenda Liverpool. Menerima bola datar dari Ruben Sanadi, pemain bernomor punggung 6 ini langsung melepaskan tembakan pada jarak sekitar 20 meter dari gawang Kalteng Putra yang dijaga Dimas Galih. Bola meluncur deras ke sudut kiri gawang, mengingatkan orang pada gol Gerrard saat final Piala FA melawan West Ham United pada 2006.

Namun gol balasan Kalteng Putra pada menit 26 juga model kebobolan khas Liverpool: akibat blunder pemain belakang. Rachmat Irianto justru terjatuh saat mengawal ketat Diogo Campos yang berlari ke dalam kotak penalti Persebaya. Alhasil Compos dengan nyaman mengoper bola kepada Patrich Wanggai yang sudah menunggu di depan gawang Miswar Saputra. “Seperti blunder Alberto Moreno,” omel Obed Wicandra, salah satu Bonek, menyebut nama bek Liverpool asal Spanyol.

Momentum lain dalam pertandingan yang mengingatkan pada Liverpool adalah tambahan waktu yang menyebabkan pertandingan baru berakhir pada menit 103. Liverpool pernah melakoni pertandingan hingga 102 menit saat dijamu Arsenal pada 17 April 2011. Hasilnya pun sama seperti pertandingan Persebaya melawan Kalteng Putra: 1-1. Bedanya, jika Dirk Kuyt mencetak gol penyama kedudukan pada menit 102, gol Irfan Jaya pada masa tambahan waktu tak disahkan wasit, karena ada pelanggaran terhadap kiper Dimas Galih sebelum bola masuk ke gawang.

Namun di luar semua urusan berbau Liverpool tadi, pelatih Djajang Nurjaman harus bersyukur Persebaya tidak kalah. Selain peluang matang Pahabol yang dimentahkan Abdul Rohim, setidaknya Kalteng Putra memiliki tiga peluang yang seharusnya berbuah gol, masing-masing dari kaki Wanggai, Pahabol, dan Diogo.

Berbeda dengan saat melawan Bali Putra, kali ini Djajang Nurjaman memilih memasang empat bek dalam balutan formasi 4-2-3-1. Novan Sasongko dan Ruben Sanadi diposisikan sebagai full back kanan dan kiri, sementara di bagian tengah pertahanan ada duet Hansamu Yama Pranata dan Rachmat Irianto. Misbakus Solikin dan M. Hidayat dipasang sebagai double pivot. Sementara tiga gelandang serang Osvaldo Haay, Damian Lizio, dan Manu Jalilov ditempatkan di belakang Amido Balde yang berposisi sebagai ujung tombak tunggal.

Dengan formasi seperti itu, Djajang jelas menargetkan kemenangan. Skemanya jelas: mengandalkan bola-bola silang yang diarahkan kepada Balde yang bertinggi 193 centimeter. Mantan pemain Glasgow Celtic ini diharapkan bisa menjadi pembeda dengan gol melalui tandukan. Persebaya membangun serangan dengan tenang dari kaki ke kaki. Sementara para pemain Kalteng Putra memilih menanti para pemain Persebaya di area pertahanan sendiri. Praktis dari sisi penguasaan bola, Persebaya mendominasi 58 persen pertandingan.

Namun Persebaya justru selalu gagal mencetak gol dari dalam kotak penalti melalui tusukan cepat Osvaldo, Jalilov, maupun Lizio. Balde pun tak akurat dalam mengeksekusi bola-bola atas. Bek tengah Kalteng Putra, Rafael Bonfim, bermain taktis dalam menutup pergerakan pemain-pemain cepat Persebaya. Sementara OK John memilih main sapu bersih setiap kali bola mendekat ke area penalti.

Tak heran jika kemudian gol Persebaya justru berasal dari tendangan luar kotak penalti dari Misbakus yang berposisi sebagai gelandang tengah. Dengan demikian dua gol Persebaya dalam dua pekan Liga 1 berasal dari pemain tengah dan pemain belakang.

Gol Misbakus mendapat aplaus dari kapten Rendi Irwan. Namun praktis setelah gol tersebut, peran Misbakus justru tak begitu terlihat. Ini berkebalikan dengan Hidayat yang bermain spartan merebut dan mengintersep bola serangan Kalteng Putra.

Barisan pertahanan Persebaya juga goyah dan mudah panik, setelah kebobolan. Rachmat Irianto bermain terlalu flamboyan dan tak bermain simpel. Ia beberapa kali keliru mengambil keputusan, dengan lebih berupaya mencoba berduel satu lawan satu melewati pemain depan lawan daripada membuang bola jauh-jauh. Alhasil beberapa kali pemain Kalteng Putra memperoleh peluang bagus, saat bola lepas dari kawalan Rachmat.

Taktik Djajang terganggu dengan dua pergantian pemain yang terpaksa dilakukan karena faktor cedera. Balde harus diganti pada menit 28 oleh Irfan Jaya karena cedera saat mengejar bola. Sementara Miswar Saputra harus digantikan Abdul Rohim pada menit 48 karena berdarah akibat tabrakan dengan bek Kalteng Putra Kevin Gomes.

Babak kedua, Persebaya benar-benar kalang kabut dihajar pemain-pemain Kalteng Putra. Apalagi saat pelatih Gomez Oliviera memasukkan Hedipo Gustavo menggantikan Yu Hyunkoo pada menit 46. Kecepatan dan kemampuan gocekan Gustavo membuat para pemain bertahan Persebaya jatuh bangun.

Kepanikan terlihat pada menit 55, saat bola sapuan Abdul Rohim justru jatuh di kaki Wanggai. Hidayat berhasil mengintersep operan Wanggai, namun bola memantul ke dalam kotak penalti Persebaya. Pahabol berhasil mengejarnya dan mengecoh Rachmat Irianto. Namun tendangannya melenceng ke sisi kiri gawang Persebaya. Ini peluang kedua dalam lima menit terakhir. Persebaya masih dinanungi keberuntungan pada menit 66, saat bola tendangan Wanggai membentur tiang kiri gawang Persebaya. Padahal Rohim sudah bergerak ke arah yang salah.

Hidayat sebenarnya relatif bisa menjadi ‘tukang pukul’ Persebaya untuk menghadapi Gustavo. Namun, Djajang memilih menariknya untuk digantikan Rendi Irwan dan bukannya menggantikan Misbakus pada menit 76. Setelah Rendi masuk, serangan Persebaya semakin tajam. Namun, hilangnya Hidayat juga berakibat tak ada lagi ‘jagal’ di lini tengah dan pemain Kalteng Putra pun bebas melakukan jual-beli serangan. Sementara itu lini depan Persebaya tak memiliki ‘finisher’ yang mematikan. “Kami kurang kreatif,” keluh Djajang.

Kreativitas menjadi pekerjaan rumah Djajang sebelum berhadapan dengan PSIS Semarang di Gelora Bung Tomo pada 30 Mei 2019. Masih ada waktu sembilan hari lagi untuk memastikan tiga poin kali ini tak lepas dari genggaman. [wir]

Apa Reaksi Anda?

Komentar