Iklan Banner Sukun
Sorotan

Taliban (4)

Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Posisi geografis negara Afghanistan yang berada di kawasan Asia Tengah ternyata memiliki sumber daya alam (SDA) sangat menjanjikan. Diperkirakan negara yang sekarang rezim politik Taliban ini memiliki harta karun sekitar Rp 43.000 triliun.

Satu angka sangat besar dan sekaligus menggiurkan siapa pun, terutama bagi negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, dan negara yang tergabung di Uni Eropa.

Satu perspektif penting dalam melihat Taliban adalah relasi politik, ekonomi, dan bisnis antara mereka dengan Amerika Serikat. Terutama di era awal (1996-2001) ketika Taliban kali pertama memegang tampuk kekuasaan di Afghanistan.

Hanya beberapa jam setelah Taliban menaklukkan Ibu Kota Kabul pada September 1996, pembantu Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Glyn Davies, mengatakan bahwa Amerika Serikat tak memiliki keberatan atas penerapan hukum Islam versi Taliban di wilayah yang dikuasainya.

Namun, dua bulan kemudian, Wakil Sekretaris Negara Amerika Serikat untuk Urusan Asia Selatan, Robin L Raphel, mengakui rasa khawatir dunia akan kebijakan Taliban.

Tapi, tambahnya, Taliban harus tetap diakui sebagai gerakan yang mengakar di tanah Afghanistan dan kini sedang memegang tampuk kekuasaan di negara tersebut. (Richard MacKenzie, 1999).

Relasi Amerika Serikat dengan Taliban bergerak pasang surut sejak gerakan militer dan politik yang diawaki sebagian faksi mujahidin ini menyempal dari dua kubu mujahidin yang berseteru keras. Yakni, faksi Burhanuddin Rabbani-Ahmad Shah Massoud versus faksi Gulbuddin Hikmatyar-Jenderal Dostum. Taliban berada di luar kedua faksi tersebut.

Sebagian besar petinggi, tokoh, dan anggota Taliban adalah mantan kombatan mujahidin dengan tokoh sentral Mullah Mohammad Umar, yang menganut mazhab Deoband: sebuah aliran yang bersumber dari lembaga pendidikan agama Islam Darul Ulum Deoband, yang berdiri di Kota Deoband, India pada 1867.

Mazhab ini mengajarkan agama (Islam) dengan cara-cara ortodoks. Sebagian besar pemimpin dan tokoh Taliban hasil pendidikan di madrasah, bukan universitas umum yang berada di kota-kota utama di Afghanistan, seperti Kabul, Jalalabad, dan lainnya.

Dan satu poin penting nilai-nilai sosial religius yang diperjuangkan Taliban adalah sebuah kemungkaran dan dosa bersumber dari tidak terlaksananya ajaran agama Islam dengan benar, kaffah, dan paripurna.

Karena itu, rezim awal Taliban membentuk sebuah departemen atau kementerian yang bertanggung jawab terkait implementasi prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Pada awalnya, pejabat Amerika Serikat memiliki ekspektasi politik tinggi terhadap Taliban: kekuatan militer dan politik yang berasal dari para santri. Ada ekspektasi politik bahwa kekuatan Taliban mampu mengendalikan dan memberantas perdagangan narkotika dan mengakhiri perdagangan opium yang berasal dari Afghanistan dan menyebar di banyak negara lain.

Faktor lainnya adalah Taliban diharapkan sebagai faksi politik dan militer yang memiliki kapasitas dan networking politik untuk melawan kepentingan Rusia dan Iran di Afghanistan.

Kita tahu bahwa kedua negara tersebut merupakan musuh politik kepentingan Amerika Serikat di banyak belahan dunia. Iran menjadi political of enemy bagi Amerika Serikat sejak para mullah Islam Syiah, yang dipimpin Imam Khomeini menjungkirkan rezim Shah Iran Reza Pahlevi yang disokong Amerika Serikat. Ketegangan politik Amerika Serikat versus Iran berlanjut dengan penyanderaan diplomat di kedutaan Amerika Serikat di Teheran yang berlangsung lebih dari setahun.

Selain itu, Taliban, di mata Amerika Serikat, sebelum menguasai Afghanistan secara keseluruhan pada periode pertama 1996, diekspektasikan bisa mengembalikan tatanan sosial, ekonomi, dan politik seluruh rakyat Afghanistan.

Lalu membersihkan markas-markas training gerakan jihad dan teroris internasional yang ditempatkan di Afghanistan dan membuka jalan bagi sekutu Amerika Serikat di Asia Tengah, yakni Pakistan, untuk mengadakan perjalanan bisnis ke negara-negara Asia Tengah.

“Yang lebih penting dari semua itu adalah Taliban menjanjikan akan membuka pintu terhadap pembangunan jaringan pipa gas dan minyak yang sangat besar dari negara-negara Asia Tengah ke Pakistan melewati Afghanistan. Pemain pembangunan pipa itu adalah dua perusahaan, yakni UNOCAL dari Amerika Serikat dan Delta dari Saudi. Fungsi utama Taliban dalam konteks ini sebagaimana ditulis Rubin adalah sebagai buldog yang menjamin keamanan jalan secara khusus kawasan yang akan dilalui pipa minyak dan gas, yang menghubungkan negara-negara Asia Tengah ke pasaran internasional lewat Pakistan, dan bukan melalui Iran,” tulis Richard MacKenzie (1999).

Jaringan pipa minyak dan gas dari negara-negara Asia Tengah melalui Pakistan sebelum berlanjut ke pasaran internasional, bukan via Iran, adalah realitas faktual yang bisa dipahami dalam perspektif kepentingan politik ekonomi dan bisnis Amerika Serikat.

Sebab, Iran merupakan musuh bebuyutan Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara-negara Eropa Barat sejak lanskap politik Iran dikendalikan rezim para mullah Islam Syiah. Bukan kekuatan monarki sekuler yang dikendalikan kaum oligarki kapitalisme-liberalisme.

Karena itu, dalam konteks ini Amerika Serikat sangat berkepentingan dengan rezim politik yang bisa menjamin stabilitas politik dan keamanan di Afghanistan. Bagi Amerika Serikat di kala itu, kapasitas militer, politik, dan networking Taliban lebih bisa diandalkan dibanding faksi-faksi lain di tubuh mujahidin.

Mantan Direktur CIA (Badan Intelijen Amerika Serikat), Richard Gates, secara bergurau sempat menyatakan tentang nilai strategis orang-orang Afghanistan yang memimpin jihad melawan invasi Uni Sovyet. “Kebanyakan dari mereka bukanlah orang-orang yang diundang untuk makan malam di rumah Anda. Realitasnya adalah Anda harus membikin sesuatu untuk situasi strategis yang Anda jumpai di Afghanistan.”

Potret nilai strategis pembangunan jaringan pipa minyak dan gas dari negara-negara Asia Tengah ke Pakistan via Afghanistan yang digagas UNOCAL dan Delta memiliki kapasitas 1 juta barel per hari di tahun pertama.

Dalam tempo beberapa tahun ke depan, diperkirakan kapasitas penyaluran minyak dan gas dari jaringan pipa via Afghanistan tersebut mencapai 5 juta barel per hari. Sekiranya rencana tersebut terwujud dan tak terjadi perang Afghanistan tahap kedua, peran ekonomi global bersifat strategis dari negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, terkait pasokan minyak dan gas ke pasar global, digeser dan digantikan sebagian dari pasokan jaringan pipa minyak dan gas dari negara-negara Asia Tengah via Afghanistan, lalu masuk ke Pakistan dan dilempar ke pasar global.

“Pendorong utama toleransi Amerika Serikat pada Taliban adalah usaha, menanamkan apa yang disebut dengan Pax-Talibana, merupakan rencana permainan UNOCAL. UNOCAL dan partnernya Delta disewa sebagai konsultan oleh pusat kekuasaan yang pernah terlibat dalam operasi di Afghanistan pada tahun-tahun berlangsungnya jihad. Mantan duta besar Amerika Serikat untuk Pakistan, Robert Oakley adalah salah satu think tank dan analis Amerika Serikat yang handal,” kata Richard MacKenzie.

Tentu ada kalkulasi ekonomi bisnis dan politik strategis di balik rencana besar pembangunan jaringan pipa minyak dan gas dari negara-negara Asia Tengah ke Pakistan via Afghanistan sebelum masuk ke pasar internasional.

Sejumlah negara Asia Tengah, bekas Uni Sovyet, memiliki sumber daya alam hulu migas dan mineral sangat besar. Misalnya, Turkmenistan diperkirakan memiliki 21.000 billiun meter kubik gas. Potensi dan cadangan gas Turkmenistan terbesar ketiga di dunia.

Cadangan gas yang dimiliki Uzbekistan kurang lebih sama dengan yang dipunyai Turkmenistan. Sedang Kazakhtan dan Azerbaijan punya persediaan minyak sangat besar, yang volumenya tak kalah dengan negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan lainnya.

Sekiranya pembangunan jaringan pipa minyak dan gas dari negara-negara Asia Tengah via Afghanistan menuju Pakistan dan berlanjut ke pasar internasional mampu direalisasikan, maka ekspektasi politik Amerika Serikat untuk mengisolasi Iran dalam perspektif perdagangan global hulu migas makin kuat dan masif.

Masalahnya: cita ekonomi bisnis dan politik strategis berskala global itu sulit diwujudkan. Sebab, perang di Afghanistan tak kunjung usai. Taliban tak mampu sepenuhnya mengendalikan faksi-faksi penentangnya secara paripurna, sehingga stabilitas politik dan keamanan di Afghanistan sulit diwujudkan hingga sekarang.

Di sisi lain, usaha untuk menghabisi tempat-tempat training para jihadis dan teroris di Afghanistan sebagaimana diekspektasikan Amerika Serikat dan sekutunya, tak kunjung diwujudkan.

Bahkan, ditengarai tempat-tempat training militer para jihadis menjadi ladang pendidikan untuk merencanakan serangan sporadis kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya di banyak belahan dunia lainnya.

Di samping itu, menurut Richard MacKenzie (1999), “UNOCAL memposisikan diri persis seperti CIA memposisikan dirinya saat berlangsungnya jihad di Afghanistan. Para eksekutif UNOCAL banyak menggantungkan kebijakan-kebijakannya kepada para pendukung Taliban di Afghanistan. Tindakan ini sama persis dengan yang dilakukan CIA yang menaruh kepercayaan yang besar kepada Hikmatyar sebagai pemimpin mujahidin yang sangat anti komunis. Seperti CIA pada masa-masa jihad, kebijakan UNOCAL selalu dirancang bersama kedutaan Amerika Serikat di Islamabad Pakistan.” [air/habis]


Apa Reaksi Anda?

Komentar