Sorotan

Taliban (3)

Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Salah satu perspektif yang menarik perhatian banyak kalangan, terutama pemerintah asing, adalah relasi politik dan militer antara Taliban dengan pemerintah Pakistan. Lebih khusus lagi hubungan antara Taliban dengan Badan Intelijen Pakistan (ISI/ Inter Service Intelegence).

Faktor persamaan etnis Pustun antara sebagian besar pimpinan dan anggota Taliban dengan elite pemerintahan, militer, dan intelijen Pakistan adalah salah satu dimensi yang merekatkan hubungan keduanya. Etnis Pustun tak hanya berada di Afghanistan, terutama wilayah negara ini yang berbatasan dengan Pakistan. Banyak warga dan elite pemerintahan, politik, militer, dan intelijen Pakistan berlatar belakang etnis Pustun.

Pakistan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan merasakan dampak luar biasa akibat invasi Uni Sovyet ke Afghanistan pada 1979, hingga keluarnya negara adidaya berpaham komunis itu dari Afghan pada awal 1990-an. Dampak tersebut tak hanya berdimensi politik, ekonomi, sosiologis, kemanusiaan, dan militer.

Yang penting dipertimbangkan sebagian besar elite politik, militer, dan intelijen Pakistan atas dinamika perkembangan politik dan perang di Afghanistan adalah perspektif sosiologis warga negaranya. Apa itu? Banyak orang Pakistan menganggap bahwa Taliban adalah sebuah sumber inspirasi kebangkitan Islam setelah terjadi fragmentasi politik antarfaksi mujahidin yang sulit diislahkan dan dikompromikan.

Taliban yang lahir dari fragmentasi politik pejuang mujahidin Afghanistan, terutama antara faksi Burhanuddin Rabbani-Ahmad Shah Massoud versus Gulbuddin Hikmatyar-Jenderal Dostum, setelah Sovyet hengkang dari negara tersebut, awalnya tak banyak menarik perhatian elite politik, pemerintahan, dan militer Pakistan.

Sebab, rezim politik Pakistan, khususnya mata-mata ISI di Afghanistan, telah memiliki anak didik, yakni Hikmatyar-Dostum dalam perebutan kekuasaan di Kabul setelah Sovyet pergi dari Afghanistan. Namun demikian, Hikmatyar-Dostum tak pernah berhasil menguasai Afghanistan secara paripurna, khususnya ibu kota Kabul.

Rezim Burhanuddin Rabbani yang menguasai Kabul tak disukai Pakistan dan ISI, karena rezim Rabbani telah menjalin hubungan dekat dengan Iran, Rusia, dan India. Di mata Pakistan, India merupakan musuh lama secara politik dan militer, utamanya dalam kaitan dengan wilayah Kasymir.

“Setelah tahun 1992, Kepala ISI Letjen Javed Naser diangkat oleh Perdana Menteri Nawaz Syarif. Kepala ISI termasuk pembela kaum jihad Afghan dan mendukung Hikmatyar. Banyak agen ISI yang beroperasi di Afghanistan adalah orang-orang Pustun dan para fundamentalis yang sangat mendukung perjuangan (Presiden) Zia Ul Haq,” tulis Ahmed Rasyid (1999).

Pada 1993, kepala ISI diganti dan jabatan bergengsi tersebut lantas ditempati Letjen Javed Ashraf Qazi. Orang pertama di badan intelijen Pakistan ini policy yang dijalankan lebih prudent dalam hubungannya dengan Afghanistan, khususnya Taliban. Letjen Ashraf naik ke posisi tersebut setelah Presiden Ghulam Ishaq Khan membubarkan pemerintahan Nawaz Syarif.

Sampai tahun 1995 terus berlangsung perdebatan keras antar agen-agen ISI terkait dukungan politik, militer, dan intelijen kepada Taliban. Perdebatan itu melibatkan orang-orang militer di tubuh ISI dari etnis Pustun yang langsung beroperasi di lapangan. Mereka ingin dukungan kepada Taliban ditingkatkan.

Sementara itu, sebagian agen-agen ISI lainnya yang berasal dari sayap intelijen dan perencanaan strategis berpendapat agar dukungan Pakistan kepada Taliban dilakukan seminimal mungkin. Tujuannya, untuk menghindarkan kecurigaan dari negara-negara tetangga Afghanistan dan Pakistan, seperti Iran dan negara-negara Asia Tengah lainnya.

“Sayap militer Pustun yang berada di pusat-pusat komando akhirnya memainkan peran besar dalam menentukan kebijakan ISI dalam membesarkan dukungan Pakistan kepada Taliban,” tambah Ahmed Rasyid.

Dalam konteks ini, Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan, Jenderal Abdul Wahed dan Kepala Intelijen Militer, Letjen Ali Kuli Khan, keduanya beretnis Pustun. Di tahun 1995, militer Pakistan memutuskan bahwa Taliban merupakan alternatif satu-satunya kekuatan politik dan militer di Afghanistan untuk dijadikan patron demi kepentingan strategis Pakistan sendiri.

Policy tersebut diambil militer Pakistan, karena mereka tak percaya kepada rezim Rabbani yang terlalu dekat dengan India, Rusia, dan Iran. Faktor lain adalah Pakistan sama sekali tak menaruh kepercayaan kepada komandan perang Rabbani, Ahmad Shah Massoud, yang sejak tahun 1980-an telah menyatakan perang kepada ISI.

Di lapangan, dukungan dan bantuan ISI kepada Taliban tak sekadar diwujudkan dengan pasokan data dan informasi intelijen. Saat Taliban melancarkan serangan ke Herat, ISI membantu Taliban dengan pasokan amunisi untuk senjata-senjata kaliber besar, senjata artileri, memperbanyak jaringan militer dengan pesawat tanpa awak, mengajari para calon pilot pesawat tempur, dan lainnya.

“ISI juga memberikan bantuan kepada Taliban berupa ratusan mantan pegawai militer dan teknisi yang mengambil perlindungan di Pakistan setelah 1992. Kebanyakan mereka memiliki hubungan dengan Jenderal Syah Nawaz Tanai, mantan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Afghanistan, yang di bulan Maret 1990 pernah melakukan yang gagal di pemerintahan Najibullah. Kudeta tersebut didukung ISI dan Hikmatyar,” tulis Ahmed Rasyid.

Taliban menguasai Kabul pada 1996 dan mulai mengendalikan pemerintahan Afghanistan sejak 1996 sampai 2001. Saat dalam proses penyerangan dan penaklukan Kabul dan Jalalabad, ISI memainkan peran besar dan di depan. Agen-agen ISI yang membantu menumbangkan Syuro Jalalabad dan menawarkan kepada mereka perlindungan di Pakistan.

Setelah Taliban masuk Kabul, diplomat Pakistan dan agen ISI datang ke Kabul dan menyatakan dukungannya secara penuh kepada Taliban. Di sisi lain, Jamiat Ulama Islam mengirimkan delegasinya ke Kabul. Tujuannya, membantu Taliban menuliskan draft baru konstitusi Afghanistan yang akan menerapkan syariat Islam secara ketat, tekstual, dan kaffah.

“Dekatnya Taliban dengan masyarakat Pakistan, sikapnya yang non-kompromi terhadap nilai-nilai Islam yang mereka yakini, dan fakta bahwa mereka telah merepresentasikan sebuah Islam radikal yang digandrungi anak-anak muda dari madrasah-madrasah di Pakistan, membuat mereka memiliki pengaruh jauh lebih besar dari kelompok mujahidin mana pun sebelumnya. Taliban dinilai sebagai kelompok yang bisa memberikan inspirasi bagi kebangkitan Islam,” kata Ahmed Rasyid.

Persamaan latar belakang etnis: Sama-sama etnis Pustun, adalah poin penting bersifat faktual yang melatari proses dan kualitas relasi antara Taliban dengan pemerintah Pakistan, khususnya badan intelijen Pakistan: ISI.

Sejak Sovyet menginvasi Afghanistan, rezim politik di Islamabad memilih beraliansi dengan orang-orang Pustun di Afghanistan. Etnis Pustun merupakan kekuatan mayoritas, dengan jumlah sekitar 40 sampai 50 persen dari total penduduk Afghanistan. Rezim Islamabad tak mau beraliansi dengan etnis minoritas.

Hal itu disebabkan besarnya pengaruh nilai persamaan etnis di antara orang-orang Pustun yang berwarga negara Pakistan dengan saudaranya seetnis yang berwarga negara Afghanistan. Faktor lain adalah dukungan dan pengaruh pejabat militer dan birokrasi Pakistan, dan keyakinan lama Presiden Zia Ul Haq bahwa Jamiat Ulama Islam akan bisa menggeser aspirasi kaum nasionalis, seperti Wali Khan, yang menyeru dibentuknya negara Pustun Raya.

“Di bulan Februari 1996, Pakistan menjadi penengah pertemuan antara Taliban, Jenderal Dostum, dan Hikmatyar. Tujuannya, agar ketiga kekuatan ini merajut aliansi. Pada saat bersamaan Menlu Pakistan Safdar Ali Syah berada di Washington (AS) untuk membujuk Amerika Serikat mendukung Taliban. Pakistan gagal meyakinkan Taliban bahwa dengan bergabung dengan Dostum, Taliban lebih dihargai di negara-negara Barat. Taliban menolak berbagi kekuasaan dengan rival-rival politiknya,” tulis Ahmed Rasyid. [air/bersambung]



Apa Reaksi Anda?

Komentar