Iklan Banner Sukun
Sorotan

Taliban (2)

Ainur Rohim (Penanggung Jawab beritajatim.com)

Banyak pengamat dan pemerhati sosial politik Afghanistan menilai bahwa kelompok Taliban dengan tokoh sentral Mullah Mohammad Umar menganut mazhab Deoband: sebuah aliran yang bersumber dari lembaga pendidikan agama Islam Darul Ulum Deoband.

Darul Ulum Deoband merupakan sebuah institusi pendidikan agama Islam yang berdiri di Kota Deoband, India pada 1867. Mazhab ini mengajarkan agama dengan cara-cara ortodoks.

Lembaga pendidikan madrasah yang di bawah pengaruh mazhab Deoband telah menghasilkan banyak ulama di Afghanistan, Pakistan, India, dan banyak negara lainnya. Para tokoh agama ini lantas menjadi pemimpin terkemuka di Afghanistan. Sebagian besar pemimpin dan tokoh Taliban hasil pendidikan di madrasah, bukan universitas umum yang berada di kota-kota utama di Afghanistan, seperti Kabul.

Satu poin penting nilai-nilai sosial religius yang diperjuangkan Taliban adalah sebuah kemungkaran dan dosa bersumber dari tidak terlaksananya ajaran agama Islam dengan benar dan kaffah.

Bukan hal aneh ketika Taliban memiliki kesempatan politik memegang tampuk kekuasaan di Afghanistan pada periode 1996-2001, kelompok politik ini membentuk satuan pengaman (polisi) yang sangat ditakuti dan jadi momok bagi warga Afghanistan. Sebuah departemen atau kementerian yang bertanggung jawab terkait implementasi prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Misalnya, pelaku perzinahan dikenai sanksi hukum rajam yang disaksikan publik secara luas dan berlangsung di tempat terbuka.

Demikian pula dengan pelaku pencurian dikenai sanksi potong tangan atau hukuman badan lainnya. Satu praktek hukum positif yang tak lazim dan tak mungkin terjadi di banyak negara modern yang menganut prinsip demokrasi.

Dalam perspektif historis, seperti dikatakan Amin Saikal (1999), sejarah asal-muasal kemunculan kelompok Taliban adalah dari madrasah-madrasah yang sangat sederhana di Desa Singesar wilayah Maiwand, Provinsi Kandahar Afghanistan. Sangat logis di kemudian hari Provinsi Kandahar menjadi basis kekuatan politik paling besar dan terpenting bagi Taliban.

“Di situ Mullah Mohammad Umar dan beberapa mantan pejuang Mujahidin belajar,” kata Amin Saikal.

Sejarah awal Taliban tak begitu kental dengan nuansa politik. Amin mencatat bahwa bersamaan dengan adanya tingkah-laku yang kurang simpatik dari Mujahidin dengan cara melakukan perampokan di jalan-jalan yang mereka anggap sebagai upeti, pemerkosaan yang telah menjadi norma yang sangat menekan, Mohammad Umar bersama dengan 30 kawan seperjuangannya akhirnya mengangkat senjata pada 1994.

“Dibarengi dengan kemarahan rakyat yang telah memuncak pada kondisi Afghanistan yang makin semrawut, kelompok Taliban ini bangkit dan berjuang dari Kandahar. Dari 30 kolega Mullah Mohammad Umar, hanya 14 orang yang bersenjata,” tambah Amin.

Di titik awal gerakan dan perjuangannya, Taliban yang dipimpin Mullah Mohammad Umar mendapat bantuan uang dan senjata sekadarnya dari Haji Basyar dari Maiwand, seorang komandan peran Hizib Islami dari faksi Younos Khalis yang menjadi kekuatan terbesar di Provinsi Helmand.

Selain itu, Taliban sempat mendapat bantuan dari Presiden Afghanistan, Burhanuddin Rabbani, ketika Mullah Mohammad Rabbani bertemu dengan Presiden Rabbani di Kota Kabul. Bagi rezim Burhanuddin Rabbani, kekuatan Taliban bisa dipakai untuk menghajar Gulbuddin Hekmatyar yang saat itu gencar menyerang Kota Kabul.

“Intelijen Pakistan (ISI) telah lama mendirikan jaringan kerja di dalam dan di sekitar Kota Kandahar, di mana Pakistan menempatkan konsulatnya dan di mana ISI juga memiliki hubungan langsung dengan apa yang disebut komandan-komandan Syuro Airpot,” tulis Amin.

“Selain itu, Taliban sendiri telah lama menjalin jaringan dengan Jamaat Ulama Islam di Balukistan, tempat ribuan pemuda pengungsi Afghanistan dan sejumlah santri dari dalam Afghanistan sedang belajar Al Qur’an. Jamaat Ulama Islam pimpinan Fazlur Rahman bekerja di bawah Menteri Dalam Negeri Pakistan saat pemerintahan Benazir Bhutto dan menjalin kerja sama dengan Mendagri Pakistan saat itu, Jenderal (Purn) Naserullah Babar,” tambah Amin Saikal.

Saat menjabat, Jenderal Babar, yang berlatar belakang etnis Pustun, menampung dan memberikan suaka politik kepada para pemimpin Afghanistan agar selamat dari kejaran tentara Uni Sovyet dan rezim Komunis di Kabul.

Para tokoh dan pemimpin Afghanistan yang memperoleh suaka politik dari Pakistan dan diselamatkan Jenderal (Purn) Babar, di antaranya Burhanuddin Rabbani, Gulbuddin Hekmatyar, Ahmad Shah Massoud, dan lainnya.

Bahkan banyak pengungsi dan tokoh Afghanistan ini dilatih pasukan elit Pakistan tentang taktik dan strategi perang: Satu pengetahuan dan wawasan penting yang menjadi bekal mereka melakukan perlawanan terhadap tentara Sovyet dan kekuatan Komunis di Afghanistan.

Di tahap awal sejarah berdiri dan model gerakannya, Taliban merupakan organisasi militer ketimbang gerakan politik. Dalam konteks ini, Anthony Davis (1999) mencatat tentang detail proses berkembangnya Taliban sebagai organisasi militer sejak penyerangan dan operasi besar-besaran mereka di bulan Oktober 1994 hingga jatuhnya Kota Kabul pada September 1996.

Yang kemudian dilanjutkan dengan rezim politik Taliban hingga 2001, sebelum dijatuhkan Amerika Serikat dan sekutunya pascaserangan 11 September 2001 ke gedung WTC di New York.

“Di sisi lain, dukungan Pakistan (kepada Taliban) yang sembunyi-sembunyi kini mulai tersingkap. Ujung-ujungnya adalah keinginan kuat Pakistan (Islamabad) mengendalikan Afghanistan lebih dari kekuatan-kekuatan regional sekitarnya,” jelas Anthony Davis.

Penting dicatat sejumlah poin tentang Taliban yang sejak 15 Agustus 2021 masuk Kota Kabul dan pada 31 Agustus 2021 memegang tampuk kekuasaan politik Afghanistan.

Catatan pertama adalah sebagian besar pemimpin Taliban adalah mantan Mujahidin yang berjuang gigih mengusir Uni Sovyet dari Afghanistan. Para pemimpin Taliban ini sebagian besar dari pejuang Mujahidin faksi Harakat-e-Enqilab Islami di bawah pimpinan Nabi Mohammade.

“Poin kedua, gerakan Taliban mengakomodasi etnis Pustun yang sekuler. Tak tertutup di antara mereka adalah penganut ideologi Komunis yang telah meningggalkan ideologi lamanya. Mereka umumnya mantan anggota Partai Demokrasi Rakyat faksi Khalq, di mana etnis Pustun banyak bergabung di dalamnya,” tulis William Maley (1999).

Dibandingkan dengan gerakan politik dan militer lainnya di Afghanistan, catat Maley, Taliban mendapatkan bantuan sumber daya manusia dan finansial dari Pakistan dan Arab Saudi. Hal ini mengubah Taliban dari satu gerakan yang tak terorganisir dengan agenda lokal, menjadi sautu kekuatan politik yang terorganisir dan berusaha menguasai seluruh wilayah Afghanistan. [air/bersambung]


Apa Reaksi Anda?

Komentar