Sorotan

Taliban (1)

Ainur Rohim (Penanggung jawab beritajatim.com)

Sejak 31 Agustus 2021 tak ada lagi tentara negara asing di Afghanistan. Negeri yang berada di kawasan Asia Tengah tersebut menyatakan merdeka secara penuh, setelah lebih dari 40 tahun terkoyak dalam perang yang memakan ongkos politik, sosial, ekonomi, budaya, dan kemanusiaan sangat mahal.

Afghanistan membuktikan dirinya sebagai lokasi pemakaman mazhab-mahzab ideologi politik besar. Rusia di era Uni Sovyet pernah terlibat dalam perang di negara tersebut sejak 1979 sampai awal 1990-an.

Ideologi komunisme dikubur di negara yang memiliki karakter dan kultur spiritualisme-religiusitas yang kuat (baca: Islam). Demikian pula dengan Liberalisme-Kapitalisme yang diagung-agungkan Amerika Serikat dan banyak negara Eropa Barat hanya bertahan selama 20 tahun di Afghanistan.

Pada 31 Agustus 2021, USA dan banyak negara Sekutu Eropa Barat lainnya keluar dari Afghanistan, karena mereka memandang bahwa perang di Afghanistan bakal tanpa batas dan  tak tahu kapan berakhir, dengan hasil akhir belum tentu menang.

Perang Afghanistan menegaskan takluknya ideologi-ideologi besar dunia, terutama Komunisme dan Liberalisme-Kapitalisme atas ideologi dan nilai-nilai spiritualisme-religiusitas (baca: Islam). Realitas politik tersebut mengingatkan kita atas fenomena Iran di bulan Februari 1979, ketika berlangsung Revolusi Islam yang dipimpin Imam Khomeini.

Revolusi yang melahirkan negara Islam Iran dan menempatkan para tokoh agama Islam Syiah sebagai pemain kunci dalam lanskap dan operasi praksis sistem politik Iran di masa depan. Revolusi Islam Iran mengubur dalam-dalam ideologi Sekulerisme, Kapitalisme dan Liberalisme yang sempat diterapkan di sana di era rezim Shah Iran.

Banyak ahli sejarah politik mencatat bahwa hingga akhir abad XX, terjadi tiga model revolusi yang digerakkan nilai dan ideologi politik berbeda.

Pertama, revolusi Perancis pada 1789–1799.  Pergolakan politik di Perancis  yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah Perancis dan  Eropa secara keseluruhan ke depan. Revolusi ini merupakan salah satu dari revolusi besar dunia yang mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat secara komprehensif.

Di dalam revolusi ini, monarki absolut yang telah memerintah Perancis selama berabad-abad runtuh dalam waktu tiga tahun. Rakyat Perancis mengalami transformasi sosial politik secara radikal, di mana feodalisme, aristokrasi, dan monarki mutlak diruntuhkan kelompok politik radikal sayap kiri, oleh massa di jalan-jalan, dan oleh masyarakat petani di pedesaan.

Prinsip-prinsip baru dalam manajemen politik pemerintahan muncul dan diterapkan, yakni liberty, egalite, dan fraternite sebagai pengganti dari feodalisme, aristokrasi, dan diskriminasi.

Kedua, revolusi Rusia  pada 25  Oktober 1917. Revolusi yang dipimpin Vladimir Lenin ini  menggulingkan Kekaisaran Rusia menuju ke pendirian Republik Uni Soviet.  Revolusi Bolshevik ini menandai berdirinya negara berpaham komunis pertama di dunia.

Revolusi ini mengubah sistem pemerintahan Liberal menjadi Komunis dan  memiliki dampak yang sangat luas secara global: mulai tersebarnya ideologi Komunis di level global dan menempatkan Uni Sovyet sebagai patron utama negara-negara berpaham Komunis di dunia. Revolusi Bolshevik pimpinan Lenin mengilhami banyak revolusi Komunis di  belahan dunia lain, seperti China, Vietnam, Kuba, Mongolia, dan banyak negara lainnya.

Ketiga, revolusi Islam Iran dengan tokoh sentral Ayatollah Ruhollah Khomeini. Revolusi berlangsung di bulan Februari 1979 di seluruh kota di Iran, khususnya Kota Teheran, dan mengubah pemerintahan monarki yang dipimpin Shah Mohammad Reza Pahlevi menjadi negara republic Islam.

Imam Khomeini dan Shah Mohammad Reza Pahlevi dibesarkan dengan latar belakang politik, ekonomi, sosial, dan budaya berbeda. Mohammad Reza tumbuh dari kalangan bangsawan di Teheran, sedang Imam Khomeini merupakan anak yatim piatu dari sebuah kota kecil dan menimba ilmu di Kota Qom: wilayah yang memiliki lembaga pendidikan keagamaan Islam Syiah di Iran. Mohammad Reza mengenyam pendidikan di Swiss.

Revolusi Islam Iran digerakkan nilai dan ideologi Spiritualitas-Religiusitas (baca: Islam Syiah) yang menjungkirbalikkan paham Sekulerisme, Liberalisme-Kapitalisme yang dipraktekkan Iran di era Shah Mohammad Reza.

Apa yang terjadi di Afghanistan pada 15 Agustus 2021, ketika pejuang Taliban masuk dan menguasai Kota Kabul, ibu kota Afghanistan, bisa disebut sebagai revolusi?

Yang pasti sejarah mencatat bahwa Taliban sebagai pemenang perang lebih 40 tahun di negara ini. Sovyet mundur dari Afghanistan setelah dikandaskan ambisi besarnya oleh pejuang Mujahidin untuk menguasai negara ini pada awal 1990-an. Amerika Serikat dan sekutu Eropa Barat yang dipimpinnya telah 20 tahun berperang di Afghanistan tanpa kejelasan akan kemenangan dan kapan perang ini bakal berakhir.

Berbicara tentang Taliban, terutama ketika kelompok pejuang ini pertama kali terbentuk di paruh pertama tahun 1990-an, bagaikan kita berjalan di lorong yang gelap dan tanpa penerangan yang bisa dipakai kompas penunjuk jalan. Tokoh sentral Taliban, Mullah Mohammad Umar, adalah nama asing bagi banyak pemerhati masalah Afghanistan dan para pemimpin dunia.

Mullah Mohammad Umar tidak terkenal seperti banyak tokoh Afghanistan lain yang getol berjuang melawan invasi Sovyet, seperti Gulbuddin Hekmatyar yang memimpin Partai Hizbi Islami, kelompok Ittihad Islami dengan tokoh sentral Abdur Rab ar Rasul Sayyaf, dan Partai Jamaat Islami yang dipimpin Burhanuddin Rabbani dengan panglima perangnya yang sangat terkenal: Ahmad Shah Massoud.

Ketiga tokoh tersebut merupakan pejuang dan tokoh politik di Afghanistan di luar Taliban. Ketiganya mengenyam pendidikan tinggi dan banyak tersentuh pemikiran Abul A’la  Al Maududi maupun model gerakan organisasi Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan Hasan Al Banna di Mesir.

Baik Rabbani, Hekmatyar dan Sayyaf dikenal berlatar belakang Universitas Kabul. Rabbani dan Sayyaf sebagai dosen, sedangkan Hekmatyar sebagai tokoh mahasiswa yang kuliah di universitas tersebut.

Secara etnopolitik, pendudung utama Jamaat Islami yang dipimpin Rabbani adalah etnis Tajik. Hizbi Islami pimpinan Hekmatyar yang didukung banyak warga etnis Pustun Afghanistan yang memiliki hubungan baik dengan ISI (Inter Service Intelegence/Badan Intelijen Pakistan). Sedang organisasi Ittihad Islami pimpinan Sayyaf banyak menerima bantuan badan amal untuk jihad Afghan yang bermarkas di Arab Saudi.

William Maley (1999) mencatat bahwa Jamaat Islami pimpinan Rabbani secara ideologis mengambil posisi Islam Moderat. Hizbi Islami mengambil sikap tanpa kompromi. Perbedaan ini kadangkala diaksentuasikan dengan antagonism personal. “Di tahun 1992, misalnya, juru bicara Hekmatyar menyatakan dengan terus-terang bahwa Hekmatyar tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan Rabbani selama di dalamnya masih terlibat Ahmad Shah Massoud. Sangat mengherankan politik Afghanistan pasca Komunis begitu kental warna perseteruan,” tulis Maley.

Dalam lanskap politik Afghanistan yang diwarnai dengan konflik dan perseteruan politik keras antartokoh sentral yang sama-sama pernah berjuang bersama mengusir komunis Sovyet, bagaimana posisi Taliban itu sendiri? Maley menulis bahwa tempat dan asal-usul munculnya Taliban tidak diketahui secara pasti.

“Sosok Taliban relatif dapat mudah ditemui di perbatasan Barat Laut Pakistan, di mana daerah itu bertebaran para penuntut ilmu (talib-ul-ilm) yang memiliki hubungan dengan pelajar-pelajar teologi di Turki. Kaum Taliban banyak belajar di madrasah-madrasah swasta yang berada di Afghanistan maupun perbatasan negara tersebut dengan Pakistan,” tulis Maley.

Lebih lanjut, Maley menegaskan, “Pada saat perang berkobar di tahun 1980-an, Taliban sebagaimana dicatat Olivier Roy, ikut terjun perang di daerah Uruzgan, Zabul, dan Kandahar. Mereka bukan hanya muncul dari Afghanistan namun juga dari Pakistan, yakni Partai Ulama Islam pimpinan Maulana Fazlur Rahman yang menyediakan sarana pendidikan agama konservatif bagi anak laki-laki dari kamp-kamp pengungsi Afghan, khususnya anak-anak kaum dhuafa. Pendidikan agama di sini banyak dipengaruhi mahzab Deoband.” [air/bersambung]

Ainur Rohim
Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar